Thursday, March 12, 2026
29.7 C
Jayapura

Menjejak di Debi, Tahun 1900 an Ondoafi Ikut Menerima Injil

Saat Masuknya Injil Kembali Diperingati di Titik Nol Pemerintahan Pertama Kota Numbay

Laporan : Mustakim Ali_Jayapura

Di tengah birunya perairan Teluk Youtefa, Kota Jayapura, terdapat sebuah pulau kecil berpasir yang mungkin tampak sederhana dari kejauhan. Namun di balik kesunyian dan ukurannya yang tidak seberapa, Pulau Metu Debi menyimpan jejak sejarah yang sangat besar bagi perjalanan iman masyarakat di Tanah Tabi.

Pulau kecil ini menjadi saksi awal masuknya Injil di wilayah Tabi—yang meliputi Jayapura, Sarmi, dan Keerom—pada awal abad ke-20. Di tempat inilah, sekitar tahun 1900 hingga tahun 1910, para hamba Tuhan pertama kali menjejakkan kaki untuk membawa kabar keselamatan kepada masyarakat di daratan Numbay.

Baca Juga :  Jelang HUT RI,  Presiden Undang 3.163 Orang Hadiri Dzikir Kebangsaan 

Kini, sebuah tugu peringatan berdiri di Pulau Metu Debi sebagai penanda sejarah penting tersebut. Tugu ini bukan sekadar monumen, tetapi simbol perjalanan panjang iman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Metu Debi menjadi pijakan awal sebelum Injil menyebar luas ke berbagai kampung di Tanah Tabi. Dari pulau kecil ini, kabar sukacita perlahan menjangkau masyarakat adat yang kemudian menerimanya dengan hati terbuka.

Sejarah mencatat bahwa Injil pertama kali diterima oleh para leluhur masyarakat adat setempat, termasuk Ondoafi besar Tobati–Enggros. Dari tangan para leluhur inilah, pesan iman itu diwariskan kepada anak cucu mereka hingga hari ini. Lebih dari satu abad kemudian, Pulau Metu Debi kembali menjadi pusat perhatian. Ribuan jemaat berkumpul di pulau bersejarah ini untuk mengikuti ibadah syukur memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Pekabaran Injil di Tanah Tabi, Selasa (10/3).

Baca Juga :  Problema Minyakita, Sebagian Ibu-ibu Beralih ke Minyak Goreng Lain

Saat Masuknya Injil Kembali Diperingati di Titik Nol Pemerintahan Pertama Kota Numbay

Laporan : Mustakim Ali_Jayapura

Di tengah birunya perairan Teluk Youtefa, Kota Jayapura, terdapat sebuah pulau kecil berpasir yang mungkin tampak sederhana dari kejauhan. Namun di balik kesunyian dan ukurannya yang tidak seberapa, Pulau Metu Debi menyimpan jejak sejarah yang sangat besar bagi perjalanan iman masyarakat di Tanah Tabi.

Pulau kecil ini menjadi saksi awal masuknya Injil di wilayah Tabi—yang meliputi Jayapura, Sarmi, dan Keerom—pada awal abad ke-20. Di tempat inilah, sekitar tahun 1900 hingga tahun 1910, para hamba Tuhan pertama kali menjejakkan kaki untuk membawa kabar keselamatan kepada masyarakat di daratan Numbay.

Baca Juga :  Biaya Mahal, Waktu Studi Lama, Jadi ASN Gaji Sama dengan Sarjana Lainnya

Kini, sebuah tugu peringatan berdiri di Pulau Metu Debi sebagai penanda sejarah penting tersebut. Tugu ini bukan sekadar monumen, tetapi simbol perjalanan panjang iman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Metu Debi menjadi pijakan awal sebelum Injil menyebar luas ke berbagai kampung di Tanah Tabi. Dari pulau kecil ini, kabar sukacita perlahan menjangkau masyarakat adat yang kemudian menerimanya dengan hati terbuka.

Sejarah mencatat bahwa Injil pertama kali diterima oleh para leluhur masyarakat adat setempat, termasuk Ondoafi besar Tobati–Enggros. Dari tangan para leluhur inilah, pesan iman itu diwariskan kepada anak cucu mereka hingga hari ini. Lebih dari satu abad kemudian, Pulau Metu Debi kembali menjadi pusat perhatian. Ribuan jemaat berkumpul di pulau bersejarah ini untuk mengikuti ibadah syukur memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Pekabaran Injil di Tanah Tabi, Selasa (10/3).

Baca Juga :  Hadapi Musim Hujan, Rustan Saru Tekankan Kolaborasi Lintas Sektor

Berita Terbaru

Artikel Lainnya