Saat Masuknya Injil Kembali Diperingati di Titik Nol Pemerintahan Pertama Kota Numbay
Laporan : Mustakim Ali_Jayapura
Di tengah birunya perairan Teluk Youtefa, Kota Jayapura, terdapat sebuah pulau kecil berpasir yang mungkin tampak sederhana dari kejauhan. Namun di balik kesunyian dan ukurannya yang tidak seberapa, Pulau Metu Debi menyimpan jejak sejarah yang sangat besar bagi perjalanan iman masyarakat di Tanah Tabi.
Pulau kecil ini menjadi saksi awal masuknya Injil di wilayah Tabi—yang meliputi Jayapura, Sarmi, dan Keerom—pada awal abad ke-20. Di tempat inilah, sekitar tahun 1900 hingga tahun 1910, para hamba Tuhan pertama kali menjejakkan kaki untuk membawa kabar keselamatan kepada masyarakat di daratan Numbay.
Kini, sebuah tugu peringatan berdiri di Pulau Metu Debi sebagai penanda sejarah penting tersebut. Tugu ini bukan sekadar monumen, tetapi simbol perjalanan panjang iman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Metu Debi menjadi pijakan awal sebelum Injil menyebar luas ke berbagai kampung di Tanah Tabi. Dari pulau kecil ini, kabar sukacita perlahan menjangkau masyarakat adat yang kemudian menerimanya dengan hati terbuka.
Sejarah mencatat bahwa Injil pertama kali diterima oleh para leluhur masyarakat adat setempat, termasuk Ondoafi besar Tobati–Enggros. Dari tangan para leluhur inilah, pesan iman itu diwariskan kepada anak cucu mereka hingga hari ini. Lebih dari satu abad kemudian, Pulau Metu Debi kembali menjadi pusat perhatian. Ribuan jemaat berkumpul di pulau bersejarah ini untuk mengikuti ibadah syukur memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Pekabaran Injil di Tanah Tabi, Selasa (10/3).
Saat Masuknya Injil Kembali Diperingati di Titik Nol Pemerintahan Pertama Kota Numbay
Laporan : Mustakim Ali_Jayapura
Di tengah birunya perairan Teluk Youtefa, Kota Jayapura, terdapat sebuah pulau kecil berpasir yang mungkin tampak sederhana dari kejauhan. Namun di balik kesunyian dan ukurannya yang tidak seberapa, Pulau Metu Debi menyimpan jejak sejarah yang sangat besar bagi perjalanan iman masyarakat di Tanah Tabi.
Pulau kecil ini menjadi saksi awal masuknya Injil di wilayah Tabi—yang meliputi Jayapura, Sarmi, dan Keerom—pada awal abad ke-20. Di tempat inilah, sekitar tahun 1900 hingga tahun 1910, para hamba Tuhan pertama kali menjejakkan kaki untuk membawa kabar keselamatan kepada masyarakat di daratan Numbay.
Kini, sebuah tugu peringatan berdiri di Pulau Metu Debi sebagai penanda sejarah penting tersebut. Tugu ini bukan sekadar monumen, tetapi simbol perjalanan panjang iman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Metu Debi menjadi pijakan awal sebelum Injil menyebar luas ke berbagai kampung di Tanah Tabi. Dari pulau kecil ini, kabar sukacita perlahan menjangkau masyarakat adat yang kemudian menerimanya dengan hati terbuka.
Sejarah mencatat bahwa Injil pertama kali diterima oleh para leluhur masyarakat adat setempat, termasuk Ondoafi besar Tobati–Enggros. Dari tangan para leluhur inilah, pesan iman itu diwariskan kepada anak cucu mereka hingga hari ini. Lebih dari satu abad kemudian, Pulau Metu Debi kembali menjadi pusat perhatian. Ribuan jemaat berkumpul di pulau bersejarah ini untuk mengikuti ibadah syukur memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Pekabaran Injil di Tanah Tabi, Selasa (10/3).