Melihat Lebih Dekat Kondisi Pondok Pesantren Al Masthuri yang Minim Perhatian Pemerintah
Hidup sebagai santri ternyata membutuhkan efort lebih. Tak hanya mengikuti jadwal yang ditentukan oleh pengurus Ponpes tetapi juga menyesuaikan dengan kondisi lingkungan maupun bahan makanan yang tersedia.
Laporan : Mustakim Ali_Jayapura
Di sudut timur Jayapura, tepatnya di kawasan Koya Timur, berdiri sebuah lingkungan pendidikan yang dari luar tampak seperti pemukiman warga biasa. Tak ada pagar megah, tak ada gerbang besar dengan cat mengkilap. Hanya dinding-dinding tanpa plesteran dan terlihat mulai kusam. Bangunan-bangunan sederhana yang nampak jelas belum rampugn ini menjadi saksi bisu kisah hidup dari para santri.
Itulah Pondok Pesantren Al Masthuri, sebuah pondok yang seperti ditinggalkan begitu saja namun menampung puluhan santri dari berbagai daerah. Menjelang sore, suasana pondok terasa hening. Beberapa santri berjalan perlahan menuju asrama, sebagian lainnya duduk di beranda kelas yang catnya telah memudar.
Tembok bangunan tampak mulai miring dimakan usia. Atap seng berkarat dan rapuh, sementara dinding ruang belajar menyimpan jejak waktu yang tak lagi bisa disembunyikan. Di bawah naungan Yayasan Pendidikan Nusantara Intim (YAPNI) yang berdiri sejak 1993, dua jenjang pendidikan tumbuh dan berjuang di tempat ini: Madrasah Tsanawiyah Koya Timur dan Madrasah Aliyah Yapni Jayapura.
Lebih dari tiga dekade, yayasan ini telah melahirkan ratusan bahkan ribuan generasi di Kota Jayapura. Namun usia panjang itu tak berbanding lurus dengan perkembangan infrastruktur. Dari total ruang yang tersedia, Madrasah Tsanawiyah hanya menggunakan tiga ruang kelas, sementara Madrasah Aliyah menempati satu ruang dari tiga ruang yang ada. Ruang-ruang itu dipakai bergantian, menyesuaikan jadwal dan jumlah siswa.
Total siswa saat ini mencapai 85 orang. Sebanyak 50 siswa di tingkat MTs dan 35 siswa di tingkat MA. Dari jumlah tersebut, 45 siswa tinggal menetap di asrama pondok. Mereka hidup bersama tiga guru pendamping yang tak hanya mengajar, tetapi juga menjadi orang tua kedua. Pengurus pondok, Ustaz Andi Hakim, menuturkan bahwa tantangan terberat yang baru saja mereka lalui adalah kehabisan stok beras selama dua minggu.