“Untuk mengisi nasi, kita kelola hasil kebun seperti ubi, pisang, dan yang lainnya,” ujarnya. Dua pekan tanpa beras bukan perkara ringan bagi puluhan anak yang sedang tumbuh dan belajar. Namun kehidupan di pondok mengajarkan mereka arti ketahanan dan rasa syukur. Ketika bantuan dari warga sekitar, komunitas, dan orang tua murid datang, dapur pondok kembali mengepul. Situasi perlahan normal kembali, meski tetap dalam keterbatasan.
Hingga kini, belum ada dukungan signifikan dari pemerintah, terutama untuk kebutuhan mendesak seperti pembangunan dan perbaikan ruang kelas. Padahal kondisi bangunan sudah membutuhkan perhatian serius. Kursi-kursi kayu di dalam kelas tampak hampir lapuk. Meja belajar tak lagi rata. Saat hujan turun, beberapa sudut ruangan harus diawasi agar air tak merembes masuk. Namun di balik semua itu, kehidupan tetap berjalan.
Di bulan yang penuh berkah ini, menu berbuka puasa di pondok sering kali sederhana yakni hanya nasi dengan lauk seadanya, atau sekadar hidangan titipan warga yang dibagi rata. Tak jarang porsinya tak mencukupi untuk semua, tetapi tak ada keluhan terdengar. Yang ada hanyalah doa dan rasa terima kasih. Pondok Pesantren Al Masthuri mungkin tak berdiri dengan kemegahan.
Ia bertahan dengan kesederhanaan, gotong royong, dan kepedulian masyarakat. Ukuran tangan warga, komunitas, dan para orang tua muridlah yang selama ini menjadi penopang utama keberlangsungannya.
Di tengah bangunan yang mulai renta dan fasilitas yang jauh dari ideal, harapan tetap tumbuh di setiap sudut kelasnya. Sebab bagi para santri di sana, pondok bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah rumah, tempat menempa mimpi, dan ruang kecil di Koya Timur yang terus menjaga nyala pendidikan—meski dalam keterbatasan.(*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q