Saturday, March 7, 2026
27.7 C
Jayapura

Bedakan Shod, Shin, atau Syin Membutuhkan Ketelitian Tingkat Tinggi

Al-Quran Braille adalah versi Al-Quran yang ditulis menggunakan simbol Braille, dirancang khusus untuk penyandang tunanetra. Al-Quran Braille memudahkan mereka untuk membaca dengan menggunakan jari, dan memiliki ketebalan yang lebih besar dibandingkan dengan Al-Quran biasa, karena menggunakan simbol-simbol Braille. Sejak tahun 1970-an, Al-Quran Braille telah dikembangkan di Indonesia untuk memastikan aksesibilitas bagi mereka yang memiliki gangguan penglihatan.

Untuk belajar membaca Al-Quran Braille secara online, terdapat pengajar yang mengajarkan metode ini di seluruh Indonesia. Selain itu, Al-Quran Braille juga menjadi sarana pendidikan yang penting, memberikan kesempatan bagi siswa dengan disabilitas visual untuk belajar dan memahami ajaran Al-Qur’an.

“Buku Braille Arab itu lengkap dengan harakatnya. Sekilas bentuknya mungkin sama, tapi fungsinya beda. Huruf Dal mungkin terasa mirip dengan huruf D latin, tapi fungsinya berbeda total. Membedakan antara Shod, Shin, atau Syin membutuhkan ketelitian tingkat tinggi karena salah raba satu titik saja, maknanya bisa berubah,” jelas Sartono detail.

Baca Juga :  Buka Isoter Hingga Aktifkan Satgas Oksigenasi

Bhakti Candrasa memberikan batas waktu maksimal tiga tahun bagi setiap siswa untuk menuntaskan program mereka. Targetnya jelas, saat kembali ke masyarakat nanti, mereka tidak hanya mampu membaca Alquran secara mandiri, tetapi juga memiliki bekal keterampilan mental yang kuat.

Lembaga ini juga terus membuka pintu bagi penyandang tuna netra lain yang rindu akan literasi Alquran. Masyarakat diajak untuk proaktif merekomendasikan keluarga atau kerabat yang membutuhkan bimbingan ini agar cahaya Alquran bisa menjangkau lebih banyak hati.

Di tempat ini, keterbatasan penglihatan tidak pernah menjadi penghalang untuk bersentuhan dengan Sang Pencipta. Ramadan di Bhakti Candrasa adalah bukti nyata bahwa ketika mata dunia tertutup, mata hati justru terbuka lebar melalui rabaan jari-jari yang khusyuk di atas baris-baris firman-Nya. (atn/bun)

Baca Juga :  Nyaris Setengah Abad Berselang, Syarat Perekrutan Sama seperti Generasi Pertama

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Al-Quran Braille adalah versi Al-Quran yang ditulis menggunakan simbol Braille, dirancang khusus untuk penyandang tunanetra. Al-Quran Braille memudahkan mereka untuk membaca dengan menggunakan jari, dan memiliki ketebalan yang lebih besar dibandingkan dengan Al-Quran biasa, karena menggunakan simbol-simbol Braille. Sejak tahun 1970-an, Al-Quran Braille telah dikembangkan di Indonesia untuk memastikan aksesibilitas bagi mereka yang memiliki gangguan penglihatan.

Untuk belajar membaca Al-Quran Braille secara online, terdapat pengajar yang mengajarkan metode ini di seluruh Indonesia. Selain itu, Al-Quran Braille juga menjadi sarana pendidikan yang penting, memberikan kesempatan bagi siswa dengan disabilitas visual untuk belajar dan memahami ajaran Al-Qur’an.

“Buku Braille Arab itu lengkap dengan harakatnya. Sekilas bentuknya mungkin sama, tapi fungsinya beda. Huruf Dal mungkin terasa mirip dengan huruf D latin, tapi fungsinya berbeda total. Membedakan antara Shod, Shin, atau Syin membutuhkan ketelitian tingkat tinggi karena salah raba satu titik saja, maknanya bisa berubah,” jelas Sartono detail.

Baca Juga :  Jangan Bebani Orang Tua Murid dengan Kegiatan Tidak Penting

Bhakti Candrasa memberikan batas waktu maksimal tiga tahun bagi setiap siswa untuk menuntaskan program mereka. Targetnya jelas, saat kembali ke masyarakat nanti, mereka tidak hanya mampu membaca Alquran secara mandiri, tetapi juga memiliki bekal keterampilan mental yang kuat.

Lembaga ini juga terus membuka pintu bagi penyandang tuna netra lain yang rindu akan literasi Alquran. Masyarakat diajak untuk proaktif merekomendasikan keluarga atau kerabat yang membutuhkan bimbingan ini agar cahaya Alquran bisa menjangkau lebih banyak hati.

Di tempat ini, keterbatasan penglihatan tidak pernah menjadi penghalang untuk bersentuhan dengan Sang Pencipta. Ramadan di Bhakti Candrasa adalah bukti nyata bahwa ketika mata dunia tertutup, mata hati justru terbuka lebar melalui rabaan jari-jari yang khusyuk di atas baris-baris firman-Nya. (atn/bun)

Baca Juga :  Penyandang Disable Harus Diprioritaskan dan Perlu Terlibat dalam PPS

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya