Perjuangan Sunyi Satu Tahun Tunanetra di Solo Belajar Membaca Alquran Braille
Secara fisik mata memang tak melihat, namun siapa sangka disudut kota Solo ada sekelompok orang yang belajar membaca dengan hati. Sentuhan kulit dari kertas berbintik timbul. Mereka yakini, Al Quran akan memudahkan jika disentuh.
Laporan: Hernindya Jalu Aditya Mahardika
Di sebuah ruang belajar yang tenang di Rumah Pelayanan Sosial Bhakti Candrasa Solo, suara bising kota seolah meredup, digantikan oleh lantunan ayat suci yang lirih namun mantap. Ramadan tahun ini kembali menjadi saksi perjuangan luar biasa bagi 45 penyandang tunanetra yang sedang “melihat” dunia melalui ujung jari mereka.
Di atas lembaran kertas tebal penuh titik-titik timbul, jari-jari mereka menari pelan. Setiap rabaan adalah pencarian makna, dan setiap titik yang terasa adalah satu langkah lebih dekat menuju cahaya spiritual.
Ramadan bagi para penerima manfaat di Bhakti Candrasa bukan sekadar tentang menahan haus dan lapar. Ini adalah masa di mana intensitas tadarus ditingkatkan hingga berlipat ganda. Pengajar Bhakti Candrasa, Sartono, mengungkapkan bahwa suasana religius bulan suci menjadi energi tambahan bagi para siswa.
“Alhamdulillah, terutama di Ramadan ini pembelajaran sangat ditekankan. Sebelum Ramadan kami sudah mulai pembiasaan tadarus bersama, lalu dilanjutkan dengan kajian untuk memperdalam pemahaman ayat,” ujar Sartono saat ditemui, Kamis kemarin (26/2).
Mempelajari Alquran Braille bukanlah perkara instan. Untuk angkatan baru ini, mereka harus melewati fase adaptasi yang panjang. Rata-rata, seorang siswa membutuhkan waktu 6 bulan hingga satu tahun untuk benar-benar mahir. Tiga bulan pertama adalah “perkenalan” dengan huruf Braille latin. Barulah pada triwulan berikutnya, mereka mulai bersentuhan dengan huruf Braille Arab dan buku Iqro Braille. Kesulitannya terletak pada detail; sistem Braille hanya berbasis pada kombinasi enam titik dasar.
Perjuangan Sunyi Satu Tahun Tunanetra di Solo Belajar Membaca Alquran Braille
Secara fisik mata memang tak melihat, namun siapa sangka disudut kota Solo ada sekelompok orang yang belajar membaca dengan hati. Sentuhan kulit dari kertas berbintik timbul. Mereka yakini, Al Quran akan memudahkan jika disentuh.
Laporan: Hernindya Jalu Aditya Mahardika
Di sebuah ruang belajar yang tenang di Rumah Pelayanan Sosial Bhakti Candrasa Solo, suara bising kota seolah meredup, digantikan oleh lantunan ayat suci yang lirih namun mantap. Ramadan tahun ini kembali menjadi saksi perjuangan luar biasa bagi 45 penyandang tunanetra yang sedang “melihat” dunia melalui ujung jari mereka.
Di atas lembaran kertas tebal penuh titik-titik timbul, jari-jari mereka menari pelan. Setiap rabaan adalah pencarian makna, dan setiap titik yang terasa adalah satu langkah lebih dekat menuju cahaya spiritual.
Ramadan bagi para penerima manfaat di Bhakti Candrasa bukan sekadar tentang menahan haus dan lapar. Ini adalah masa di mana intensitas tadarus ditingkatkan hingga berlipat ganda. Pengajar Bhakti Candrasa, Sartono, mengungkapkan bahwa suasana religius bulan suci menjadi energi tambahan bagi para siswa.
“Alhamdulillah, terutama di Ramadan ini pembelajaran sangat ditekankan. Sebelum Ramadan kami sudah mulai pembiasaan tadarus bersama, lalu dilanjutkan dengan kajian untuk memperdalam pemahaman ayat,” ujar Sartono saat ditemui, Kamis kemarin (26/2).
Mempelajari Alquran Braille bukanlah perkara instan. Untuk angkatan baru ini, mereka harus melewati fase adaptasi yang panjang. Rata-rata, seorang siswa membutuhkan waktu 6 bulan hingga satu tahun untuk benar-benar mahir. Tiga bulan pertama adalah “perkenalan” dengan huruf Braille latin. Barulah pada triwulan berikutnya, mereka mulai bersentuhan dengan huruf Braille Arab dan buku Iqro Braille. Kesulitannya terletak pada detail; sistem Braille hanya berbasis pada kombinasi enam titik dasar.