JAYAPURA– Di tengah fluktuasi harga ikan laut dan ayam potong lokal yang kerap naik akibat cuaca buruk, gelombang laut, serta meningkatnya permintaan masyarakat, harga ikan air tawar jenis mujair di Kota Jayapura justru terpantau stabil.
Kondisi ini membuat ikan mujair menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein hewani.
Raihan, salah satu pedagang ikan mujair di jalan masuk Pasar Otonom Kotaraja mengatakan, harga ikan mujair relatif tidak pernah mengalami lonjakan signifikan. Berbeda dengan ikan laut dan ayam potong lokal yang harganya kerap naik turun, mujair tetap bertahan di kisaran harga yang terjangkau.
“Selama ini harga ikan mujair masih stabil, paling di kisaran Rp50 ribu sampai Rp55 ribu per kilogram. Tidak ada kenaikan,” ujar Raihan, Senin (2/2).
Menurutnya, kestabilan harga tersebut berdampak langsung pada tingkat permintaan. Peminat ikan mujair cenderung konsisten, sehingga pedagang tidak mengalami kesulitan dalam penjualan.
Ia mengungkapkan, ikan mujair asal Holtekamp memiliki permintaan lebih tinggi dibandingkan mujair dari wilayah Koya. Hal ini disebabkan kualitas air di Holtekamp yang bercampur air payau karena lokasinya dekat laut, sehingga ikan tidak berbau lumpur.
“Kalau dimasak, mujair dari Holtekamp rasanya lebih gurih, dagingnya manis, dan tidak terlalu berbau lumpur. Hampir mirip mujair dari Danau Sentani,” jelasnya.
Raihan menambahkan, pembeli yang sudah terbiasa mengonsumsi ikan mujair umumnya dapat membedakan asal ikan dari Koya dan Holtekamp. Mujair Holtekamp dinilai lebih unggul dari sisi rasa dan aroma.
Hal senada disampaikan Ana, salah satu pembeli di Pasar Otonom Kotaraja. Ia mengaku lebih memilih membeli ikan mujair di lokasi tersebut karena kualitasnya dinilai lebih baik.
“Rasanya beda, dagingnya lebih tebal, ikannya segar bahkan ada yang masih hidup. Harganya juga tidak pernah berubah, beda dengan ikan laut yang sewaktu-waktu bisa naik,” ujarnya.