alexametrics
23.7 C
Jayapura
Tuesday, June 28, 2022

Masyarakat Diminta Tenang

TENANGKAN WARGA: Kapolsek Muara Tami, AKP. D. Pieter Kalahatu, SH., saat menenagkan warga yang melakukan pemalangan di Jalan Poros Koya Barat, Distrik Muara Tami, Rabu (27/2). ( FOTO : Noel/Cepos)

*Kasus Pengrusakan di Koya Barat Ditangani Polda Papua

JAYAPURA-Masyarakat di Kota Jayapura dan Papua pada umumnya diminta untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan kasus dugaan pengrusakan yang terjadi di salah satu rumah warga di Koya Barat, Distrik Muara Tami, Rabu (27/2).  

Terkait kasus ini, Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Martuani Sormin Siregar, M.Si., menegaskan bahwa kasus pengrusakan ini sudah ditangani Polda Papua. 

Bahkan Martuani Sormin dengan tegas mengatakan, para pelaku pengrusakan akan diproses hukum secara profesional dan obyektif.

Terkait kasus pengrusakan ini, penyidik Polda Papua menurutnya sudah memanggil kelompok jamaah Jaffar Umar Thalib (JUT) dari Arso 14, Kabupaten Keerom untuk dimintai keterangannya di Mapolda Papua.   

“Masalah ini, saya langsung ambil alih, Polres Jayapura Kota fokus pada masalah lainnya. Kasus ini akan saya usut sampai tuntas, secara profesional dan obyektif. Saya mohon dukungan dan doanya kepada semuanya, biar bisa berjalan lancar,” pintanya saat melakukan pertemuan dengan Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., dan Forkopimda Kota Jayapura serta tokoh agama di ruang kerja Wali Kota Jayapura, Rabu (27/2) sore.   

Dalam kesempatan itu, Kapolda Martuani Sormin meminta semua pihak agar tidak melakukan hal-hal yang merugikan serta menghindari berita yang sifatnya memancing hal-hal yang tidak dinginkan. 

“Semua harus bisa tenang dan tidak mudah terbawa isu dan jangan memviralkan masalah ini. Karena bisa menciptakan opini di mana-mana,” tegasnya.

  “Ini penyidik saya sedang bekerja di lapangan, untuk mengumpulkan alat-alat bukti, untuk memperkuat tuntutan para saksi. Kami dalam undang-undang diberikan waktu 24 jam, untuk memutuskan cukup bukti atau tidak,” sambungnya.

Untuk mencegah berkembangkan isu-isu yang kontraproduktif dan merugikan masyarakat, masyarakat menurutnya harus tenang. Sebab apabila ada oknum masyarakat yang melakukan gerakan tambahan, tentunya akan menimbulkan kontraproduktif yang bisa merugikan aktivitas di Kota Jayapura dan ini bisa menjadi penyesalan.

 “Silakan Pak Wali bekerja, dan saya juga menjelaskan kepada bapak-bapak yang hadir di sini, yang kebetulan diundang Pak Wali, saya mau menjelaskan bahwa kasus kami ambil alih. Kami berjanji Polda Papua akan menangani dengan profesional. Artinya dapat dipertanggungjawabkan. Saya bekerja bukan karena atas tekanan atau sesuatu, tapi saya bekerja untuk keadilan,” tegasnya. 

Baca Juga :  Kondisi RSUD Jayapura, 24 Pasien Terpaksa Dirawat di Luar Ruangan

Terkait hal ini, Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., menyampaikan terima kasih kepada Kapolda Papua dan jajaran yang dengan sigap menangani kasus pengrusakan yang terjadi di Koya Barat.

PERTEMUAN-Kapolda Papua Irjen. Pol. Drs. Martuani Sormin Siregar, M.Si., saat melakukan pertemuan dengan Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., ketua DPRD Kota Jayapura, Abisay Rollo, Forkopimda Kota Jayapura, ketua Klasis GKI Port Numbay, Pdt. H.C. Mano, S.Th., M.Si., dan tokoh agama di ruang kerja Wali Kota Jayapura, Rabu (27/2). ( FOTO : Priyadi/Cepos

Dirinya juga memberikan apresiasi kepada semua pihak dalam hal ini Ketua DPRD Kota Jayapura dan Forkopimda Kota Jayapura lainnya serta tokoh agama di Kota Jayapura yang meluangkan waktu melakukan pertemuan untuk mencari solusi terbaik. 

Wali Kota Tomi Mano menegaskan bahwa masyarakat Kota Jayapura punya niat untuk hidup aman dan damai. 

 “Dulunya saya menjelaskan orang Tidore dan Ternate, mereka tinggal di sini. Bangun masjid dan ini aman-aman saja. Mereka tidak mengajak orang Port Numbay masuk Islam, begitu juga orang Port Numbay tidak ajak mereka masuk Kristen. Kita hidup berdampingan aman dan damai, sehingga saya minta masyarakat saya, jangan menyebar luaskan masalah ini lewat media online. Kita percayakan kepada aparat penegak hukum,” pintanya.

Senada dengan itu, tokoh Muslim Papua, Thaha Alhamid mengatakan, dalam menyikapi masalah ini semua tokoh agama, masyarakat maupun lainnya harus tenang. Dirinya meminta tidak ada yang melakukan gerakan tambahan yang merugikan. Sebab kasus ini sudah ditangani langsung oleh Polda Papua. 

 Ketua DPRD Kota Jayapura, Abisai Rollo menambahkan agar kasus ini harus diusut tuntas. Dirinya berharap kasus seperti ini tidak terulang lagi, sebab sebelumnya sudah terjadi dua kali di tempat yang sama. 

 “Kita di Kota Jayapura sudah hidup berdampingan dari dulu, saling menyayangi walaupun kita beda agama. Kita tetap menghargai kerukunan antar umat  beragama dan rasa toleransi tinggi. Namun, karena ulah satu orang ini, kita jadi begini. Jadi kita minta orang ini harus ke luar dari Papua, supaya masyarakat kembali hidup damai dan aman,” tegasnya.

Baca Juga :  Dua Terpidana Korupsi Jadi Incaran Kejati

Di tempat yang sama, Ketua GKI Klasis Port Numbay, Pdt. H.C. Mano, S.Th., M.Si., juga meminta agar kasus ini diusut tuntas sehingga tidak ada lagi bibit-bibit kebencian yang dapat merusak hubungan antar umat beragama di Kota Jayapura.

  “Sekali lagi tidak ada permusuhan antar umat beragama di Kota Jayapura. Ini dilakukan hanya satu orang, yang mungkin ada niatan tertentu, ideologi tertentu. Kita jangan terpancing masalah ini,” pintanya.

 Pdt. Carles Mano juga minta, dalam masalah ini, jangan dibuat viral di Medsos, atau membuat opini-opini publik yang bisa membuat orang sesat, tapi tetap percayakan kepada aparat keamanan untuk mengusut tuntas terang benerang, demi kebaikan masyarakat Kota Jayapura. 

Sementara itu, terkait kasus pengrusakan yang terjadi di Koya Barat, mewakili keluarga korban, Yeheskiel Aninam menegaskan bahwa keluarga menyatakan apa yang terjadi kemarin subuh tidak ada angkut pautnya dengan masalah agama. Yeheskiel menegaskan bahwa kejadian tersebut murni kriminal. 

Oleh sebab itu, mewakili pihak keluarga dirinya meminta agar hukum ditegakkan. “Kami tidak membenci saudara kami yang lain. Sebab keutuhan negara ini harus dijaga oleh seluruh masyarakat dari berbagai suku, agama dan ras,” ucapnya dalam pertemuan tokoh agama dan berbagai pihak di Koya Barat, kemarin. 

Tokoh masyarakat yang juga selaku keluarga korban, Niko Pae mengatakan aksi pemalangan yang dilakukan oleh masyarakat di Jalan Poros Koya Barat tidak terlepas dari adanya aksi pengrusakan dan pengancaman yang diduga dilakukan sekelompok orang. 

Di tempat yang sama Ketua Komisi KPKC Klasis Port Numbay, Pendeta Anike mengatakan bahwa selama ini masyarakat di wilayah Muara Tami telah hidup berdampingan dengan aman dan saling melengkapi satu sama lain. Namun kehadiran kelompok jamaah JUT menurutnya telah membuat  kekacauan baru di wilayah itu. Namun Pdt. Anike juga mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga keamanan dan kedamaian di Distrik Muara Tami dan Kota Jayapura pada umumnya.

“Kita sudah memberikan kepercayaan penuh kepada pihak keamanan untuk menaganinya. Karena Ini persolan kriminal murni,” tegasnya. (dil/oel/nat)

TENANGKAN WARGA: Kapolsek Muara Tami, AKP. D. Pieter Kalahatu, SH., saat menenagkan warga yang melakukan pemalangan di Jalan Poros Koya Barat, Distrik Muara Tami, Rabu (27/2). ( FOTO : Noel/Cepos)

*Kasus Pengrusakan di Koya Barat Ditangani Polda Papua

JAYAPURA-Masyarakat di Kota Jayapura dan Papua pada umumnya diminta untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan kasus dugaan pengrusakan yang terjadi di salah satu rumah warga di Koya Barat, Distrik Muara Tami, Rabu (27/2).  

Terkait kasus ini, Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Martuani Sormin Siregar, M.Si., menegaskan bahwa kasus pengrusakan ini sudah ditangani Polda Papua. 

Bahkan Martuani Sormin dengan tegas mengatakan, para pelaku pengrusakan akan diproses hukum secara profesional dan obyektif.

Terkait kasus pengrusakan ini, penyidik Polda Papua menurutnya sudah memanggil kelompok jamaah Jaffar Umar Thalib (JUT) dari Arso 14, Kabupaten Keerom untuk dimintai keterangannya di Mapolda Papua.   

“Masalah ini, saya langsung ambil alih, Polres Jayapura Kota fokus pada masalah lainnya. Kasus ini akan saya usut sampai tuntas, secara profesional dan obyektif. Saya mohon dukungan dan doanya kepada semuanya, biar bisa berjalan lancar,” pintanya saat melakukan pertemuan dengan Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., dan Forkopimda Kota Jayapura serta tokoh agama di ruang kerja Wali Kota Jayapura, Rabu (27/2) sore.   

Dalam kesempatan itu, Kapolda Martuani Sormin meminta semua pihak agar tidak melakukan hal-hal yang merugikan serta menghindari berita yang sifatnya memancing hal-hal yang tidak dinginkan. 

“Semua harus bisa tenang dan tidak mudah terbawa isu dan jangan memviralkan masalah ini. Karena bisa menciptakan opini di mana-mana,” tegasnya.

  “Ini penyidik saya sedang bekerja di lapangan, untuk mengumpulkan alat-alat bukti, untuk memperkuat tuntutan para saksi. Kami dalam undang-undang diberikan waktu 24 jam, untuk memutuskan cukup bukti atau tidak,” sambungnya.

Untuk mencegah berkembangkan isu-isu yang kontraproduktif dan merugikan masyarakat, masyarakat menurutnya harus tenang. Sebab apabila ada oknum masyarakat yang melakukan gerakan tambahan, tentunya akan menimbulkan kontraproduktif yang bisa merugikan aktivitas di Kota Jayapura dan ini bisa menjadi penyesalan.

 “Silakan Pak Wali bekerja, dan saya juga menjelaskan kepada bapak-bapak yang hadir di sini, yang kebetulan diundang Pak Wali, saya mau menjelaskan bahwa kasus kami ambil alih. Kami berjanji Polda Papua akan menangani dengan profesional. Artinya dapat dipertanggungjawabkan. Saya bekerja bukan karena atas tekanan atau sesuatu, tapi saya bekerja untuk keadilan,” tegasnya. 

Baca Juga :  Tiga Oknum Polisi Dilaporkan ke Polda Papua

Terkait hal ini, Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., menyampaikan terima kasih kepada Kapolda Papua dan jajaran yang dengan sigap menangani kasus pengrusakan yang terjadi di Koya Barat.

PERTEMUAN-Kapolda Papua Irjen. Pol. Drs. Martuani Sormin Siregar, M.Si., saat melakukan pertemuan dengan Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., ketua DPRD Kota Jayapura, Abisay Rollo, Forkopimda Kota Jayapura, ketua Klasis GKI Port Numbay, Pdt. H.C. Mano, S.Th., M.Si., dan tokoh agama di ruang kerja Wali Kota Jayapura, Rabu (27/2). ( FOTO : Priyadi/Cepos

Dirinya juga memberikan apresiasi kepada semua pihak dalam hal ini Ketua DPRD Kota Jayapura dan Forkopimda Kota Jayapura lainnya serta tokoh agama di Kota Jayapura yang meluangkan waktu melakukan pertemuan untuk mencari solusi terbaik. 

Wali Kota Tomi Mano menegaskan bahwa masyarakat Kota Jayapura punya niat untuk hidup aman dan damai. 

 “Dulunya saya menjelaskan orang Tidore dan Ternate, mereka tinggal di sini. Bangun masjid dan ini aman-aman saja. Mereka tidak mengajak orang Port Numbay masuk Islam, begitu juga orang Port Numbay tidak ajak mereka masuk Kristen. Kita hidup berdampingan aman dan damai, sehingga saya minta masyarakat saya, jangan menyebar luaskan masalah ini lewat media online. Kita percayakan kepada aparat penegak hukum,” pintanya.

Senada dengan itu, tokoh Muslim Papua, Thaha Alhamid mengatakan, dalam menyikapi masalah ini semua tokoh agama, masyarakat maupun lainnya harus tenang. Dirinya meminta tidak ada yang melakukan gerakan tambahan yang merugikan. Sebab kasus ini sudah ditangani langsung oleh Polda Papua. 

 Ketua DPRD Kota Jayapura, Abisai Rollo menambahkan agar kasus ini harus diusut tuntas. Dirinya berharap kasus seperti ini tidak terulang lagi, sebab sebelumnya sudah terjadi dua kali di tempat yang sama. 

 “Kita di Kota Jayapura sudah hidup berdampingan dari dulu, saling menyayangi walaupun kita beda agama. Kita tetap menghargai kerukunan antar umat  beragama dan rasa toleransi tinggi. Namun, karena ulah satu orang ini, kita jadi begini. Jadi kita minta orang ini harus ke luar dari Papua, supaya masyarakat kembali hidup damai dan aman,” tegasnya.

Baca Juga :  PUPR Segera Pulihkan Bangunan di Wamena

Di tempat yang sama, Ketua GKI Klasis Port Numbay, Pdt. H.C. Mano, S.Th., M.Si., juga meminta agar kasus ini diusut tuntas sehingga tidak ada lagi bibit-bibit kebencian yang dapat merusak hubungan antar umat beragama di Kota Jayapura.

  “Sekali lagi tidak ada permusuhan antar umat beragama di Kota Jayapura. Ini dilakukan hanya satu orang, yang mungkin ada niatan tertentu, ideologi tertentu. Kita jangan terpancing masalah ini,” pintanya.

 Pdt. Carles Mano juga minta, dalam masalah ini, jangan dibuat viral di Medsos, atau membuat opini-opini publik yang bisa membuat orang sesat, tapi tetap percayakan kepada aparat keamanan untuk mengusut tuntas terang benerang, demi kebaikan masyarakat Kota Jayapura. 

Sementara itu, terkait kasus pengrusakan yang terjadi di Koya Barat, mewakili keluarga korban, Yeheskiel Aninam menegaskan bahwa keluarga menyatakan apa yang terjadi kemarin subuh tidak ada angkut pautnya dengan masalah agama. Yeheskiel menegaskan bahwa kejadian tersebut murni kriminal. 

Oleh sebab itu, mewakili pihak keluarga dirinya meminta agar hukum ditegakkan. “Kami tidak membenci saudara kami yang lain. Sebab keutuhan negara ini harus dijaga oleh seluruh masyarakat dari berbagai suku, agama dan ras,” ucapnya dalam pertemuan tokoh agama dan berbagai pihak di Koya Barat, kemarin. 

Tokoh masyarakat yang juga selaku keluarga korban, Niko Pae mengatakan aksi pemalangan yang dilakukan oleh masyarakat di Jalan Poros Koya Barat tidak terlepas dari adanya aksi pengrusakan dan pengancaman yang diduga dilakukan sekelompok orang. 

Di tempat yang sama Ketua Komisi KPKC Klasis Port Numbay, Pendeta Anike mengatakan bahwa selama ini masyarakat di wilayah Muara Tami telah hidup berdampingan dengan aman dan saling melengkapi satu sama lain. Namun kehadiran kelompok jamaah JUT menurutnya telah membuat  kekacauan baru di wilayah itu. Namun Pdt. Anike juga mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga keamanan dan kedamaian di Distrik Muara Tami dan Kota Jayapura pada umumnya.

“Kita sudah memberikan kepercayaan penuh kepada pihak keamanan untuk menaganinya. Karena Ini persolan kriminal murni,” tegasnya. (dil/oel/nat)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/