alexametrics
23.7 C
Jayapura
Friday, May 27, 2022

Jangan Perkosa Hak Anak!

Sohilait: Anak Adalah Masa Depan, Harus Mendapatkan Pendidikan

JAYAPURA- Selamat hari anak untuk anak-anak Papua yang berjumlah sebanyak 1.169.020 jiwa. “Sehat dan bahagia selalu di manapun kalian berada”.

Hal ini diucapkan Kepala Dinas Sosial Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua, Ribka Haluk saat memimpin upacara peringatan Hari Anak di lapangan Kantor Sosial Kependudukan, Kamis (23/7) yang bertepatan dengan Hari Anak.

Di moment hari anak, Ribka Haluk pastikan anak-anak harus kembali ke rumah mereka khusus kepada  anak anak yang selama ini distigma sebagai anak jalanan, anak aibon, anak di bawah kolong jembatan dan anak lainnya.

“Saya harus pastikan, anak-anak ini harus kembali ke sekolah,” tegas Ribka kepada Cenderawasih Pos.

HARI ANAK: Kepala Dinas Sosial Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua, Ribka Haluk saat menyerahkan akte kelahiran kepada salah satu anak Papua di momen peringatan Hari Anak Nasional, Kamis (23/7). (FOTO: Elfira/Cepos)

Ribka menegaskan, jika orang tua tidak bisa menangani anaknya, maka pemerintah intrevensi keras.

“Dalam kepemimpinan saya sudah komitmen, anak-anak harus kembali ke rumah, saya tidak akan toleransi untuk orang tua yang biarkan anaknya di jalan. Sebab, anak-anak merupakan generasi penerus,” tuturnya.

Untuk menyukseskan gebrakan ini, dirinya memerintahkan kepada pemberdayaan  perempuan di seluruh kabupaten/kota untuk memastikan anak-anak pada umur sekolah tidak boleh berada di pasar untuk melakukan aktivitas jualan dan seterusnya.

“Membiarkan anak-anak berjualan di pasar atau melakukan aktivitas atas keinginan orang tua, itu kita sudah perkosa hak anak. Ini tidak boleh dibiarkan karena akan menjadi masalah sosial, kemudian kita wariskan generasi yang tidak kuat  dalam fondasi nasional,” paparnya.

Baca Juga :  Indonesia Makin Akrab dengan Komunitas Negara Pasific

Ribka meminta LSM CSR dan  lainnya lebih giat menjadi sebuah gerakan anak-anak  harus kembali ke rumah dan bersekolah. Dimana ini memang sebuah proses, namun imbauan yang disampaikan harus diterima.

Dilain sisi, kekerasan terhadap anak menurut Ribka masih terjadi hingga saat ini. Dimana kekerasan terhadap anak tidak hanya terjadi di luar rumah, melainkan juga terjadi dalam rumah sendiri. Sebagaimana kekerasan orang tua terhadap anak, kakak terhadap adik dan kekerasan lainnya. Juga kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah atau di luar rumah.

“Anak-anak hingga saat ini sangat rentan dengan kekerasan, dan pelakunya rata-rata orang terdekatnya. Mereka (anak-red) kerap mengalami kekerasan fisik, kekerasan seksual, psikis tekanan dari orang tua dan kekerasan-kekerasan lainnya. Inilah yang membuat anak tidak betah di rumah dan memilih berada di jalan,” tuturnya.

Dimoment Hari Anak, Ribka mengajak semua orang tua dan semua pihak untuk lebih menyayangi anak-anak. Serta menerapkan pembinaan sesuai dengan karakter anak sendiri.

Sementara itu, pada Hari Anak Nasional, Dinas Sosial Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua membagikan sebanyak 30 akte kelahiran secara gratis kepada anak yang ada di Jayapura. Adapun total anak Papua yang sudah memiliki akte hingga saat ini sebanyak 45 ribuan anak. 

Baca Juga :  Gubernur Diminta Tidak Terlalu Lama Non Job-kan Aloysius Giyai

Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPPAD) Provinsi Papua Christian Sohilait ST. M.Sin menegaskan momen Hari Anak Nasional Tahun 2020 adalah momen untuk memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan yang layak. Sehingga setiap anak di Papua terdidik dan nantinya akan membawa perubahan di masa depan.

“Perayaan tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Bahwa perayaan tahun ini kita rayakan disituasi Covid-19. Anak adalah segalanya dan disaat kita bicara anak, maka kita berbicara ibunya yang merupakan bagian tidak terpisahkan. Oleh sebab itu kita harus memastikan setiap anak bagaimana mendapatkan pendidikan yang layak dan baik agar nantinya masa depan kita juga baik,” ungkapnya.

Di masa pandemi ini, Sohilait meminta semua pihak memberikan perhatian lebih kepada anak-anak agar tetap mendapatkan pendidikan. Baik pendidikan karakter dan budaya atau pendidikan umum dengan baik. Karena menurutnya anak-anak Papua saat ini adalah generasi penerus nantinya di segala bidang.

“Jangan memberikan segala sesuatu yang salah kepada anak-anak jika tidak mau hal buruk terjadi di masa depan. Jadi mari kita pastikan anak-anak kita ada pada tempatnya. Ada di rumah, ada di dunia pendidikan dan harus terdidik. Karena mereka adalah masa depan daerah ini dan bangsa ini,” tegasnya.

Oleh sebab itu dirinya mengharapkan seluruh kompenen untuk bekerja sama untuk menyelamatkan anak-anak Papua agar dapat mengenyam pendidikan dengan baik dan mendapatkan ilmu yang nantinya bisa digunakan di masa depan .

“Anak-anak kita adalah agen perubahan di masa depan. Jika ingin selamatkan daerah ini dan bangsa ini maka anak-anak tidak boleh diabaikan,” pungkasnya.(fia/gin/nat)

Sohilait: Anak Adalah Masa Depan, Harus Mendapatkan Pendidikan

JAYAPURA- Selamat hari anak untuk anak-anak Papua yang berjumlah sebanyak 1.169.020 jiwa. “Sehat dan bahagia selalu di manapun kalian berada”.

Hal ini diucapkan Kepala Dinas Sosial Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua, Ribka Haluk saat memimpin upacara peringatan Hari Anak di lapangan Kantor Sosial Kependudukan, Kamis (23/7) yang bertepatan dengan Hari Anak.

Di moment hari anak, Ribka Haluk pastikan anak-anak harus kembali ke rumah mereka khusus kepada  anak anak yang selama ini distigma sebagai anak jalanan, anak aibon, anak di bawah kolong jembatan dan anak lainnya.

“Saya harus pastikan, anak-anak ini harus kembali ke sekolah,” tegas Ribka kepada Cenderawasih Pos.

HARI ANAK: Kepala Dinas Sosial Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua, Ribka Haluk saat menyerahkan akte kelahiran kepada salah satu anak Papua di momen peringatan Hari Anak Nasional, Kamis (23/7). (FOTO: Elfira/Cepos)

Ribka menegaskan, jika orang tua tidak bisa menangani anaknya, maka pemerintah intrevensi keras.

“Dalam kepemimpinan saya sudah komitmen, anak-anak harus kembali ke rumah, saya tidak akan toleransi untuk orang tua yang biarkan anaknya di jalan. Sebab, anak-anak merupakan generasi penerus,” tuturnya.

Untuk menyukseskan gebrakan ini, dirinya memerintahkan kepada pemberdayaan  perempuan di seluruh kabupaten/kota untuk memastikan anak-anak pada umur sekolah tidak boleh berada di pasar untuk melakukan aktivitas jualan dan seterusnya.

“Membiarkan anak-anak berjualan di pasar atau melakukan aktivitas atas keinginan orang tua, itu kita sudah perkosa hak anak. Ini tidak boleh dibiarkan karena akan menjadi masalah sosial, kemudian kita wariskan generasi yang tidak kuat  dalam fondasi nasional,” paparnya.

Baca Juga :  Kejati Jadwalkan Ulang Pemanggilan Bupati Keerom

Ribka meminta LSM CSR dan  lainnya lebih giat menjadi sebuah gerakan anak-anak  harus kembali ke rumah dan bersekolah. Dimana ini memang sebuah proses, namun imbauan yang disampaikan harus diterima.

Dilain sisi, kekerasan terhadap anak menurut Ribka masih terjadi hingga saat ini. Dimana kekerasan terhadap anak tidak hanya terjadi di luar rumah, melainkan juga terjadi dalam rumah sendiri. Sebagaimana kekerasan orang tua terhadap anak, kakak terhadap adik dan kekerasan lainnya. Juga kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah atau di luar rumah.

“Anak-anak hingga saat ini sangat rentan dengan kekerasan, dan pelakunya rata-rata orang terdekatnya. Mereka (anak-red) kerap mengalami kekerasan fisik, kekerasan seksual, psikis tekanan dari orang tua dan kekerasan-kekerasan lainnya. Inilah yang membuat anak tidak betah di rumah dan memilih berada di jalan,” tuturnya.

Dimoment Hari Anak, Ribka mengajak semua orang tua dan semua pihak untuk lebih menyayangi anak-anak. Serta menerapkan pembinaan sesuai dengan karakter anak sendiri.

Sementara itu, pada Hari Anak Nasional, Dinas Sosial Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua membagikan sebanyak 30 akte kelahiran secara gratis kepada anak yang ada di Jayapura. Adapun total anak Papua yang sudah memiliki akte hingga saat ini sebanyak 45 ribuan anak. 

Baca Juga :  Karantina Enam Hari, Swab PCR Empat Kali

Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPPAD) Provinsi Papua Christian Sohilait ST. M.Sin menegaskan momen Hari Anak Nasional Tahun 2020 adalah momen untuk memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan yang layak. Sehingga setiap anak di Papua terdidik dan nantinya akan membawa perubahan di masa depan.

“Perayaan tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Bahwa perayaan tahun ini kita rayakan disituasi Covid-19. Anak adalah segalanya dan disaat kita bicara anak, maka kita berbicara ibunya yang merupakan bagian tidak terpisahkan. Oleh sebab itu kita harus memastikan setiap anak bagaimana mendapatkan pendidikan yang layak dan baik agar nantinya masa depan kita juga baik,” ungkapnya.

Di masa pandemi ini, Sohilait meminta semua pihak memberikan perhatian lebih kepada anak-anak agar tetap mendapatkan pendidikan. Baik pendidikan karakter dan budaya atau pendidikan umum dengan baik. Karena menurutnya anak-anak Papua saat ini adalah generasi penerus nantinya di segala bidang.

“Jangan memberikan segala sesuatu yang salah kepada anak-anak jika tidak mau hal buruk terjadi di masa depan. Jadi mari kita pastikan anak-anak kita ada pada tempatnya. Ada di rumah, ada di dunia pendidikan dan harus terdidik. Karena mereka adalah masa depan daerah ini dan bangsa ini,” tegasnya.

Oleh sebab itu dirinya mengharapkan seluruh kompenen untuk bekerja sama untuk menyelamatkan anak-anak Papua agar dapat mengenyam pendidikan dengan baik dan mendapatkan ilmu yang nantinya bisa digunakan di masa depan .

“Anak-anak kita adalah agen perubahan di masa depan. Jika ingin selamatkan daerah ini dan bangsa ini maka anak-anak tidak boleh diabaikan,” pungkasnya.(fia/gin/nat)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/