Friday, February 20, 2026
31.7 C
Jayapura

Awal Ramadan Dimulai Besok

MERAUKE – Kantor Agama Wilayah Provinsi Papua melakukan pengamatan hilal di PBO Lampu Satu Merauke, Selasa (17/2) sore. Tim menggunakan sebuah teropong khusus yang diarahkan ke bagian barat. Pengamatan Hilal tersebut dipimpin Ketua Tim Falakiyah Provinsi Papua Dr. Hendra Aulia didampingi Kepala Kantor Agama Wilayah Provinsi Papua Pdt Klemen Taran, S.Ag.

Ketua Tim Falakiyah Provinsi Papua Dr. Hendra Aulia menjelaskan bahwa ketinggian hilal pada pengamatan yang dilakukan pada 17 Februari bertepadan dengan 29 Sakban 1447 H, untuk wilayah Merauke masih minus 2 derajat atau 1,9 jika dibulatkan.

Yang mana dibawah ufuk. Sementara Standar minimal yang diperkanankan pemerintah berada pada 3 derajat. ‘’Sementara ketinggian sekarang minus 2 derajat plus 1,9 derajat dan delegoe tidak memenuhi standar. Sehingga mustahil hilal kelihatan,’’ katanya.

Baca Juga :  Kinerja DPRD juga Diperhitungkan

Ketinggian hilal yang masih dibawah minus 2 derajat ini, lanjut Hendra Aulia, berlaku atau terjadi diseluruh Indonesia dari Sabang Sampai Merauke. Karena karena yang terlihat di Aceh minus 0,9 derajat.

‘’Untuk awal Ramadan, meskipun hilal tidak bisa dilihat sampai di Sabang, tapi pastinya nanti diistijma’kan atau digenapkan untuk Sya’ban 30 hari. InsaaAllah 1 Ramadan akan dilaksanakan mulai 19 Februari,’’ kata Hendra.

Hendra menjelaskan lebih lanjut bahwa pengamatan Hilal tersebut dilaksanakan setiap 29 diakhir bulan Hijriah, sehingga pengamatan tersebut tidak perlu lagi dilakukan pada Rabu 18 Februari 2026.

‘’Kalau diamati ditanggal 29 Sakban dan belum kelihatan karena di bawah ufuk atau tertutup awan, maka digenapkan menjadi 30. Artinya, besok itu tetap Sya’ban dan malamnya masuk 1 Ramadan untuk melaksanakan tarawih dan besoknya tanggal 19 Februari awal melaksanakan puasa Ramadan,’’ terangnya.

Baca Juga :  100 Ton Minyak Goreng Satu Harga Tiba di Merauke 

Kepala BMKG Merauke Wahyu Hidayat mengatakan, berdasarkan data hasil Hisab (perhitungan BMKG) konjungsi terjadi pada pukul 21:01:07 WIT dengan ketinggian hilal minus 1,93 derajat. Azimuth bulan berada di 256 derajat, dimana posisi bulan atau hilal berada di sebelah Selatan bawah matahari dengan fraksi iluminasi atau pencerahan hilal sebesar 0,02 persen.

‘’Dari data ini bisa dipastikan bahwa hilal mustahil terlihat, karena masih di bawah ufuk. Namun data hasil pengamatan ini dibutuhkan sebagai masukan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan yang digelar pemerintah dalam hal ini Kementrian Agama Republik Indonesia,’’ terangnya.

MERAUKE – Kantor Agama Wilayah Provinsi Papua melakukan pengamatan hilal di PBO Lampu Satu Merauke, Selasa (17/2) sore. Tim menggunakan sebuah teropong khusus yang diarahkan ke bagian barat. Pengamatan Hilal tersebut dipimpin Ketua Tim Falakiyah Provinsi Papua Dr. Hendra Aulia didampingi Kepala Kantor Agama Wilayah Provinsi Papua Pdt Klemen Taran, S.Ag.

Ketua Tim Falakiyah Provinsi Papua Dr. Hendra Aulia menjelaskan bahwa ketinggian hilal pada pengamatan yang dilakukan pada 17 Februari bertepadan dengan 29 Sakban 1447 H, untuk wilayah Merauke masih minus 2 derajat atau 1,9 jika dibulatkan.

Yang mana dibawah ufuk. Sementara Standar minimal yang diperkanankan pemerintah berada pada 3 derajat. ‘’Sementara ketinggian sekarang minus 2 derajat plus 1,9 derajat dan delegoe tidak memenuhi standar. Sehingga mustahil hilal kelihatan,’’ katanya.

Baca Juga :  BKN: Perpindahan ASN Urusan Pemda!

Ketinggian hilal yang masih dibawah minus 2 derajat ini, lanjut Hendra Aulia, berlaku atau terjadi diseluruh Indonesia dari Sabang Sampai Merauke. Karena karena yang terlihat di Aceh minus 0,9 derajat.

‘’Untuk awal Ramadan, meskipun hilal tidak bisa dilihat sampai di Sabang, tapi pastinya nanti diistijma’kan atau digenapkan untuk Sya’ban 30 hari. InsaaAllah 1 Ramadan akan dilaksanakan mulai 19 Februari,’’ kata Hendra.

Hendra menjelaskan lebih lanjut bahwa pengamatan Hilal tersebut dilaksanakan setiap 29 diakhir bulan Hijriah, sehingga pengamatan tersebut tidak perlu lagi dilakukan pada Rabu 18 Februari 2026.

‘’Kalau diamati ditanggal 29 Sakban dan belum kelihatan karena di bawah ufuk atau tertutup awan, maka digenapkan menjadi 30. Artinya, besok itu tetap Sya’ban dan malamnya masuk 1 Ramadan untuk melaksanakan tarawih dan besoknya tanggal 19 Februari awal melaksanakan puasa Ramadan,’’ terangnya.

Baca Juga :  Pengawasan THM akan Digelar Secara Terpadu

Kepala BMKG Merauke Wahyu Hidayat mengatakan, berdasarkan data hasil Hisab (perhitungan BMKG) konjungsi terjadi pada pukul 21:01:07 WIT dengan ketinggian hilal minus 1,93 derajat. Azimuth bulan berada di 256 derajat, dimana posisi bulan atau hilal berada di sebelah Selatan bawah matahari dengan fraksi iluminasi atau pencerahan hilal sebesar 0,02 persen.

‘’Dari data ini bisa dipastikan bahwa hilal mustahil terlihat, karena masih di bawah ufuk. Namun data hasil pengamatan ini dibutuhkan sebagai masukan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan yang digelar pemerintah dalam hal ini Kementrian Agama Republik Indonesia,’’ terangnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya