Sunday, May 12, 2024
31.7 C
Jayapura

Di Luar Dijaga dan Dirawat Baik, di Papua Justru Diabaikan

JAYAPURA-Salah satu pemuda peserta Program  Indonesia Young Leader Program Nikolas Imbiri berkesempatan melihatan Museum Perang Dunia kedua Auckland Zelandia Baru. Di mana dari hasil kunjungannya tersebut, ia mengaku terkesan dengan adanya benda antik milik orang Papua berupa salinogen baju adat beserta benda budaya lainnya di Museum tersebut yang menurutnya sangat dijaga baik dan dikhususkan.

   Ia mengaku bersyukur  bisa mendapatkan kesempatan mengunjungi Museum Perang Dunia kedua Auckland Zelandia Baru.   “Menariknya adalah saya dan dua adik dari Papua mendapatkan pelayanan khusus secara langsung dari staf museum. Kami diajak melihat space Papua yang menyediakan beberapa aset budaya Papua seperti noken dan koteka serta benda budaya lainnya,”uingkapnya.

  Hal menarik dirinya, saat berkunjung ke museum itu adalah ketika berada di ruangan khusus. Diman ruangan ini tidak bisa diakses masyarakat umum, namun harus melalui permintaan khusus.

Baca Juga :  Kota Jayapura Sebagai Rumah Besar, Mari Jaga Persaudaraan

  “Di ruangan ini terdapat  aset budaya yang tidak secara langsung dipublish, dan saya temukan sebuah sisir rambut yang ternyata berasal dari Supiori Papua dengan tulisan soepiori is dutch new guinea,” kata Imbiri kepada Cenderawasih Pos, melalui pesan Whats Appnya, Kamis, (22/6).

    Sebagai anak Papua ia mengaku bangga dan senang di mana benda Budaya yang merupakan identitas orang asli Papua terpampang rapi dan dijaga begitu baik. Justu di Papua sendiri seringkali tidak dijaga dan dirawat dengan baik.

  “Senang sekali ternyata mereka mengoleksi benda budaya Papua, cek dan ricek ternyata sisir ini diberikan oleh salah satu orang Belanda yang pernah datang ke pulau Biak. saya mengucapkan terima kasih kepada staf tersebut karena telah ikut merawat budaya Papua, selain itu benda budaya dari Wamena dan daerah lain juga terjaga rapi dan awet,” katanya.

Baca Juga :  Harusnya Pejabat Memberi Contoh

  Sebagai salah satu anak Papua yang mendapat kesempatan untuk melihat hal tersebut ia menyarankan agar pemerintah di Provinsi Papua bersama masyarakat untuk bisa menjaga identitas jati dirinya melalui benda budaya, bahasa daerah, tradisi adat istiadat yang sudah diwariskan oleh nenek moyang yang kadang makin terkikis di kalangan generasi muda Papua.

  “Pemerintah harus melihat bagian ini sebagai bentuk pelestarian budaya aset budaya Papua, karena perubahan era modern yang semakin cepat akan dengan sendirinya memangkas budaya orang Papua dan masyarakat Papua akan kehilangan aset dan jati diri sebagai anak Papua,” katanya, (oel/tri)

JAYAPURA-Salah satu pemuda peserta Program  Indonesia Young Leader Program Nikolas Imbiri berkesempatan melihatan Museum Perang Dunia kedua Auckland Zelandia Baru. Di mana dari hasil kunjungannya tersebut, ia mengaku terkesan dengan adanya benda antik milik orang Papua berupa salinogen baju adat beserta benda budaya lainnya di Museum tersebut yang menurutnya sangat dijaga baik dan dikhususkan.

   Ia mengaku bersyukur  bisa mendapatkan kesempatan mengunjungi Museum Perang Dunia kedua Auckland Zelandia Baru.   “Menariknya adalah saya dan dua adik dari Papua mendapatkan pelayanan khusus secara langsung dari staf museum. Kami diajak melihat space Papua yang menyediakan beberapa aset budaya Papua seperti noken dan koteka serta benda budaya lainnya,”uingkapnya.

  Hal menarik dirinya, saat berkunjung ke museum itu adalah ketika berada di ruangan khusus. Diman ruangan ini tidak bisa diakses masyarakat umum, namun harus melalui permintaan khusus.

Baca Juga :  Gelar Workshop Kurikulum Merdeka Belajar, Ini Permintaan BP YPK di Tanah Papua

  “Di ruangan ini terdapat  aset budaya yang tidak secara langsung dipublish, dan saya temukan sebuah sisir rambut yang ternyata berasal dari Supiori Papua dengan tulisan soepiori is dutch new guinea,” kata Imbiri kepada Cenderawasih Pos, melalui pesan Whats Appnya, Kamis, (22/6).

    Sebagai anak Papua ia mengaku bangga dan senang di mana benda Budaya yang merupakan identitas orang asli Papua terpampang rapi dan dijaga begitu baik. Justu di Papua sendiri seringkali tidak dijaga dan dirawat dengan baik.

  “Senang sekali ternyata mereka mengoleksi benda budaya Papua, cek dan ricek ternyata sisir ini diberikan oleh salah satu orang Belanda yang pernah datang ke pulau Biak. saya mengucapkan terima kasih kepada staf tersebut karena telah ikut merawat budaya Papua, selain itu benda budaya dari Wamena dan daerah lain juga terjaga rapi dan awet,” katanya.

Baca Juga :  Kota Jayapura Sebagai Rumah Besar, Mari Jaga Persaudaraan

  Sebagai salah satu anak Papua yang mendapat kesempatan untuk melihat hal tersebut ia menyarankan agar pemerintah di Provinsi Papua bersama masyarakat untuk bisa menjaga identitas jati dirinya melalui benda budaya, bahasa daerah, tradisi adat istiadat yang sudah diwariskan oleh nenek moyang yang kadang makin terkikis di kalangan generasi muda Papua.

  “Pemerintah harus melihat bagian ini sebagai bentuk pelestarian budaya aset budaya Papua, karena perubahan era modern yang semakin cepat akan dengan sendirinya memangkas budaya orang Papua dan masyarakat Papua akan kehilangan aset dan jati diri sebagai anak Papua,” katanya, (oel/tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya