Wakil Wali Kota Jayapura Rustan Saru mengatakan, saat ini pihaknya telah menyiapkan tiga lokasi untuk pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di Distrik Abepura, Distrik Muara Tami dan Distrik Jaya
"Kita semua menyadari bahwa tantangan gizi di Papua, khususnya stunting, masih menjadi pekerjaan besar yang memerlukan kerja bersama," kata Setiyo Wahyudi dalam sambutannya.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setyo Wahyudi, mengatakan pemanfaatan pangan lokal menjadi kunci agar program percepatan penyediaan makanan bergizi dapat berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Bupati menegaskan bahwa distribusi MBG harus merata di seluruh wilayah Kabupaten Jayapura dan tidak boleh hanya terfokus pada daerah tertentu. Pemerintah juga ingin memastikan tidak terjadi tumpang tindih bantuan sehingg
Asisten II Setda Papua, Setiyo Wahyudi menyampaikan, oleh karena itu, kehadiran Pokja MBG menjadi penting sebagai wada koordinasi lintas sektor untuk memastikar program MBG berjalan terarah, terintegrasi dar tepat sasara
Menurutnya, pelaksanaan program MBG di setiap daerah tentu memiliki tantangan tersendiri. Untuk itu, Pemkab Jayapura langsung melakukan langkah strategis dengan mengumpulkan Sekda, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pendidika
Kegiatan bertema “Papua Bersatu, Indonesia Maju: Menuju Generasi Sehat, Ekonomi Mandiri, dan Kampung Terpadu” dipusatkan di Nabire dan diikuti secara daring oleh perwakilan dari lima provinsi lainnya di Tanah Papua.
Nurhadi menjelaskan, dapur fiktif ini terkait dengan manipulasi penentuan satuan pelayanan pemenuhan gizi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dengan dalih kuota penuh. Padahal, istilah tersebut sering digunakan untuk menolak
“Dapur MBG jangan memberi makanan yang tidak sehat seperti sosis, mie dan nuget kepada anak-anak, ini menjadi perhatian daripada penangung jawab dapur-dapur yang ada, apalagi orang-orang gizi,” katanya kepada wartawan, u
Sekda Kabupaten Merauke Yermias Paulus Ruben Ndiken mengatakan bahwa sekitar 90 persen siswa yang ada di sekolah ini adalah anak-anak asli Papua, yang saat dari rumah belum tentu sarapan pagi.