Menurut Aristoteles, pada galeri kreatif kehutanan tersebut terdapat berbagai macam HHBK yang dikelola oleh masyarakat perorangan ataupun kelompok. “Dengan menghadirkan ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mencegah terjadinya kerusakan alam di Sembilan kabupaten dan kota,” ujarnya.
Untuk kawasan ekowisata itu sendiri, memiliki luas lahan 16 hektar yang berdiri dari Kampung Yenggu lama dan Yenggu Baru, setiap wisatawan yang ingin menyaksikan satwa endemik Papua ini, diwajibkan untuk menginap terlebih dahulu, karena untuk menjumpai secara langsung satwa-satwa tersebut, hanya dapat dilihat pada pagi hari.
Kepala Disparbudpora Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin menerangkan, kondisi Ekowisata Mangrove yang sempat menjadi primadona para atlet beserta ofisial PON XX 2021 itu kini sangat tidak terawat.
"Ini ada potensi wisata yang luar biasa sehingga kami dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua membangun jembatan tracking dengan harapan sektor wisata melalui pengelolaan ekowisata di sekitar danau Sentani ini bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat di wilayah ini," Kepala Bidang Perlindungan Hutan Dishut LH Papua, Ayub Womsiri, Senin (11/11).
Kepala Disparbudpora Kabupaten Mimika, Jacob Jopi Toisuta mengatakan, pemerintah memfokuskan agar pembangunan Ekowisata Mangrove dapat segera terselesaikan. Sebab, sejak awal pembangunannya hingga kini, pembangunan Ekowisata Mangrove tak kunjung selesai.
Erens Hassor, selaku pemilik hak Ulayat Ekowisata tersebut menyampaikan bahwa kerjasama dengan Dinas Pariwisata dengan sistem bagi hasil yakni 80 persen untuk hak Ulayat sementara 20 persen untuk Dinas Pariwisata. Dijelaskan Hassor, tempat tersebut masih di bawah pengawasan Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura melalui Dinas Pariwisata.