Pintu Perbatasan Tidak Direlaksasi

Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Provinsi Papua Suzana Wanggai dan Konsulat Jendral (Konjen) Papua Nugini, Geoffrey Wiri saat ditemui di PLBN Skouw Kota Jayapura, Rabu (3/6) lalu.( foto: Gratianus Silas/Cepos)

JAYAPURA- Dengan telah diperpanjangnya Pembatasan Sosial yang Diperluas dan Diperketat dengan Relaksasi Kontekstual Papua (PSDD), penerbangan dan pelayaran pun kembali beroperasi di Papua. Namun, lain cerita dengan pintu perbatasan yang tidak ikut direlaksasi.

 Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Provinsi Papua, Suzana Wanggai mengatakan, untuk membuka kembali pintu perbatasan RI – PNG, khususnya di Provinsi Papua, maka harus dilakukan kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Papua Nugini (PNG).

“Artinya, kita buat relaksasi, tetapi dari pemerintah PNG tetap tidak, ya kita tetap ikuti. Tapi nanti kita akan duduk bersama dan melihat hal ini,” ujar Suzana Wanggai kepada Cenderawasih Pos, Senin (8/6) kemarin.

Baca Juga :  Penyaluran Logistik Pemilu 4 Distrik di Kab Jayapura Perlu Tenaga Ekstra

 Bukan tanpa alasan, sambung Wanggai, PNG merupakan negara yang zero (nol) Covid-19, sehingga tidak heran jika ada kekhawatiran dari PNG karena berbatasan langsung dengan Indonesia, khususnya Papua.

“PNG merupakan negara yang zero dari Covid-19, sehingga memang ada kekhawatiran dari pihak pemerintah PNG. Jadi sangat wajar kalau ada kekhawatiran yang sangat kuat dari pihak PNG,” tambahnya.

 Konsulat Jendral (Konjen) Papua Nugini, Geoffrey Wiri, mengakui bahwa pihaknya tidak menutup diri jika nantinya ada upaya duduk bersama antara pemerintah Indonesia, Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Papua Nugini.

 “Pemerintah PNG melihat Asia dalam hal bisnis dan perdagangan. Indonesia sendiri merupakan tetangga kami. Jadi kami mengharapkan hal itu, terlebih kita punya kerja sama bilateral di bidang investasi hingga pariwisata dengan Indonesia,” terang Geoffrey Wiri. (gr/ay)

Baca Juga :  Pemprov Sambut Baik Kenaikan UMP Secara Nasional
Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Provinsi Papua Suzana Wanggai dan Konsulat Jendral (Konjen) Papua Nugini, Geoffrey Wiri saat ditemui di PLBN Skouw Kota Jayapura, Rabu (3/6) lalu.( foto: Gratianus Silas/Cepos)

JAYAPURA- Dengan telah diperpanjangnya Pembatasan Sosial yang Diperluas dan Diperketat dengan Relaksasi Kontekstual Papua (PSDD), penerbangan dan pelayaran pun kembali beroperasi di Papua. Namun, lain cerita dengan pintu perbatasan yang tidak ikut direlaksasi.

 Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Provinsi Papua, Suzana Wanggai mengatakan, untuk membuka kembali pintu perbatasan RI – PNG, khususnya di Provinsi Papua, maka harus dilakukan kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Papua Nugini (PNG).

“Artinya, kita buat relaksasi, tetapi dari pemerintah PNG tetap tidak, ya kita tetap ikuti. Tapi nanti kita akan duduk bersama dan melihat hal ini,” ujar Suzana Wanggai kepada Cenderawasih Pos, Senin (8/6) kemarin.

Baca Juga :  Bakal Jadi Sejarah Baru di Indonesia

 Bukan tanpa alasan, sambung Wanggai, PNG merupakan negara yang zero (nol) Covid-19, sehingga tidak heran jika ada kekhawatiran dari PNG karena berbatasan langsung dengan Indonesia, khususnya Papua.

“PNG merupakan negara yang zero dari Covid-19, sehingga memang ada kekhawatiran dari pihak pemerintah PNG. Jadi sangat wajar kalau ada kekhawatiran yang sangat kuat dari pihak PNG,” tambahnya.

 Konsulat Jendral (Konjen) Papua Nugini, Geoffrey Wiri, mengakui bahwa pihaknya tidak menutup diri jika nantinya ada upaya duduk bersama antara pemerintah Indonesia, Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Papua Nugini.

 “Pemerintah PNG melihat Asia dalam hal bisnis dan perdagangan. Indonesia sendiri merupakan tetangga kami. Jadi kami mengharapkan hal itu, terlebih kita punya kerja sama bilateral di bidang investasi hingga pariwisata dengan Indonesia,” terang Geoffrey Wiri. (gr/ay)

Baca Juga :  Pelapor Dokumen Palsu Ternyata Hak Pilihnya Bukan di Papua 

Berita Terbaru

Artikel Lainnya