Dalam struktur baru tersebut, Santosh Janardhan—eksekutif senior Meta—tetap memimpin arsitektur teknis, perangkat lunak, chip khusus, serta operasional jaringan pusat data global Meta. Sementara itu, Daniel Gross, mantan pendiri Safe Superintelligence, ditugaskan memikirkan kebutuhan komputasi jangka panjang, lokasi pembangunan, pengamanan pasokan chip dan energi, hingga dampak bisnis dari keputusan tersebut.
Zuckerberg juga menunjuk Dina Powell McCormick sebagai presiden dan wakil ketua Meta untuk memperkuat kerja sama dengan pemerintah dalam pembiayaan dan percepatan pembangunan pusat data di berbagai negara. Menurut investor dan anggota dewan berpengalaman, Umesh Padval, peran ini krusial.
“Para hyperscaler—perusahaan teknologi raksasa yang mengoperasikan pusat data berskala sangat besar—kini fokus pada bagaimana mendapatkan pasokan listrik. Dengan latar belakang perbankan dan politiknya, dia dapat membantu mempercepat pembiayaan dan perizinan kapasitas komputasi,” katanya.
Meski demikian, strategi padat modal ini memicu kritik. Investor terkenal Michael Burry memperingatkan potensi dampak finansialnya melalui media sosial. “Meta telah mengorbankan keunggulan utamanya. Langkah ini berisiko menekan tingkat pengembalian atas modal yang diinvestasikan,” tulis Burry.
Pernyataan tersebut merujuk pada kekhawatiran bahwa investasi besar pada pusat data dan infrastruktur fisik dapat menurunkan return on invested capital Meta. Namun, di luar kritik tersebut, sebagian pengamat menilai arah strategi Meta justru sudah sangat jelas. Lane Dilg, mantan kepala kebijakan infrastruktur OpenAI, menyebut Meta kini memperlakukan pusat data, GPU, kontrak energi, dan chip khusus sebagai aset strategis.
“Meta menggandakan taruhan pada infrastruktur sebagai portofolio investasi, bukan sekadar pusat biaya,” ujarnya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, belanja modal Meta untuk infrastruktur AI pada tahun lalu telah menembus puluhan miliar dolar AS. Perusahaan bahkan memproyeksikan komitmen hingga 600 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 10.092 triliun dengan kurs Rp 16.820 per dolar AS, dalam beberapa tahun ke depan untuk pembangunan pusat data dan pengamanan pasokan energi guna mendukung ambisi pengembangan model AI berkemampuan “superintelligence.”