Wow! Rudal Khorramshahr Kheibar Bisa Jangkau Singapura, Darwin dan Australia

Menggunakan bahan bakar cair jenis baru yang memungkinkan rudal disimpan dalam kondisi “siap tembak” selama bertahun-tahun di dalam silo bawah tanah tanpa perlu pengisian bahan bakar mendadak yang memakan waktu. Rudal tersebut juga memiliki ketahanan terhadap perang elektronik karena dilengkapi dengan sistem navigasi yang mampu menangkal serangan siber dan gangguan sinyal (jamming) dari musuh.

Hanya ada kelemahan yang bisa dibaca yakni akurasi jarak jauh: Meski disebut presisi, rudal balistik dengan hulu ledak seberat ini biasanya memiliki Circular Error Probable (CEP) atau radius kesalahan yang lebih besar dibandingkan rudal jelajah yang lebih kecil. Kedua, stabilitas bahan bakar cair: walaupun teknologinya sudah maju, bahan bakar cair tetap lebih berisiko dan berbahaya untuk dikelola dibandingkan bahan bakar padat dalam situasi pertempuran yang kacau.

Baca Juga :  Tiket PTC Waterpark Hanya Rp 50 Ribu

Lainnya adalah terdeteksi saat peluncuran. Karena ukurannya yang besar, tanda panas (heat signature) saat peluncuran sangat besar, sehingga mudah dideteksi oleh satelit peringatan dini global. Menariknya ini bukan rudal nuklir. Secara teknis, bukan. Iran menegaskan bahwa program rudal mereka bertujuan untuk pertahanan konvensional. Namun, secara desain, rudal yang mampu membawa beban 1,5 ton secara teori memiliki kapasitas untuk mengangkut hulu ledak nuklir jika diintegrasikan. Hingga saat ini, tidak ada bukti operasional bahwa rudal ini dipersenjatai dengan nuklir.

Dalam konteks rudal balistik. Kheibar dilengkapi dengan sistem mid-course guidance yang memungkinkannya melakukan koreksi jalur di luar atmosfer. Hal ini membuatnya sangat sulit dicegat karena jalurnya tidak sepenuhnya bisa diprediksi oleh komputer pertahanan udara seperti Iron Dome atau Patriot.

Baca Juga :  Timur Tengah Bergejolak, Indonesia Terdampak Gangguan Pasokan BBM

Menggunakan bahan bakar cair jenis baru yang memungkinkan rudal disimpan dalam kondisi “siap tembak” selama bertahun-tahun di dalam silo bawah tanah tanpa perlu pengisian bahan bakar mendadak yang memakan waktu. Rudal tersebut juga memiliki ketahanan terhadap perang elektronik karena dilengkapi dengan sistem navigasi yang mampu menangkal serangan siber dan gangguan sinyal (jamming) dari musuh.

Hanya ada kelemahan yang bisa dibaca yakni akurasi jarak jauh: Meski disebut presisi, rudal balistik dengan hulu ledak seberat ini biasanya memiliki Circular Error Probable (CEP) atau radius kesalahan yang lebih besar dibandingkan rudal jelajah yang lebih kecil. Kedua, stabilitas bahan bakar cair: walaupun teknologinya sudah maju, bahan bakar cair tetap lebih berisiko dan berbahaya untuk dikelola dibandingkan bahan bakar padat dalam situasi pertempuran yang kacau.

Baca Juga :  Sampit Kalimantan Tengah Diguncang Gempa Tektonik untuk Pertama Kalinya

Lainnya adalah terdeteksi saat peluncuran. Karena ukurannya yang besar, tanda panas (heat signature) saat peluncuran sangat besar, sehingga mudah dideteksi oleh satelit peringatan dini global. Menariknya ini bukan rudal nuklir. Secara teknis, bukan. Iran menegaskan bahwa program rudal mereka bertujuan untuk pertahanan konvensional. Namun, secara desain, rudal yang mampu membawa beban 1,5 ton secara teori memiliki kapasitas untuk mengangkut hulu ledak nuklir jika diintegrasikan. Hingga saat ini, tidak ada bukti operasional bahwa rudal ini dipersenjatai dengan nuklir.

Dalam konteks rudal balistik. Kheibar dilengkapi dengan sistem mid-course guidance yang memungkinkannya melakukan koreksi jalur di luar atmosfer. Hal ini membuatnya sangat sulit dicegat karena jalurnya tidak sepenuhnya bisa diprediksi oleh komputer pertahanan udara seperti Iron Dome atau Patriot.

Baca Juga :  Resmi Tetapkan 17 Hari Libur Nasional dan 8 Cuti Bersama di Tahun 2026

Berita Terbaru

Artikel Lainnya