Sepintas lokasi tambang ini berada di lembah. Lokasinya tak jauh dari gedung IPDN Papua. Lokasinya tidak sulit didatangi karena motor bisa langsung berada di titik lokasi penambangan. Saat tiba pertama ada beberapa pondok terbuat dari papan dan atap seng. Ini digunakan oleh pendulang untuk tinggal dan menetap di lokasi. Ada anak istri juga yang tinggal disini. Selain itu ada juga warung atau kios yang didirikan oleh keluarga pendulang.
Saat didatangi terdengar seorang wanita sedang memasak, menyiapkan makanan untuk suami atau keluarganya yang sedang bekerja. Cuaca di lokasi ini cukup terik karena berada di kawasan terbuka. Dari kejauhan sudah terdengar suara mesin alkon yang menyiram tumpukan material tanah berwarna kecoklatan. Tanah-tanah ini disaring untuk mendapatkan biji emas. “Ukurannya seperti pasir.
Ya kalau beruntung bisa dapat seperti gula pasir atau beras,” ujar seorang pemuda yang tak mau menyebut namanya saat ditemui di lokasi, Sabtu (13/12).
Luasan tambang yang sudah tergarap juga membentang. Beberapa kubangan air terlihat layaknya kolam –kolam namun berisi air berwarna kuning kental. Lalu ada selang-selang berukuran besar yang diurai puluhan meter ke bawah.
Sesekali mesin excavator bergerang menuju tebing dan menggeser material. Dari pemandangan ini selang beberapa hari kemudian barulah Cenderawasih Pos bertemu Adolof Ohee.
Adolof sendiri bukan sosok yang pelit bercerita. Ia besedia menjawab semua yang ditanyakan dan disampaikan secara terbuka. Nama lokasi tambang yang sedang digarap saat ini adalah Pokhla. Dikatakan lokasi tambang di Buper dikelola oleh tiga orang yang semua masih keluarga. Setiap pemilik memiliki pekerja masing-masing. Ia sendiri memiliki 7 pekerja. “Kalau lokasi saya itu di bagian bawah. Yang tadi lewat itu tempat saya, kalau ke atas lagi ada kakak dua yang garap,” Akunya.
Ia menjelaskan bahwa lokasinya seluas 12 hektar dan semua berawal ketika tahun 98 dimana ketika itu krisis moneter melanda Indonesia. Tak lama aktifitas penambangan bermunculan tak terkecuali di wilayah Sentani Timur.
“Dulu diawali dari Jembatan II (Sentani Timur) dan terus naik hingga ke Pokhla ini. Tahun 2007 saya kembali ke Papua kemudian pelajari dan ketika itu sedang nganggur akhirnya saya mulai kerja dan berkecimpung di tambang,” beber Adolof.
Lalu pada tahun 2011 pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) datang dan melakukan penelitian selama 3 hari. Adolof dan keluarga mendapat jawaban jika potensi mineral emas di lokasinya baik sehingga itu juga yang memotivasinya untuk terus bekerja. Meski begitu, Adolf memahami bahwa ia harus mengantongi ijin. Iapun berupaya mendapatkan ijin dari pemerintah.
Sepintas lokasi tambang ini berada di lembah. Lokasinya tak jauh dari gedung IPDN Papua. Lokasinya tidak sulit didatangi karena motor bisa langsung berada di titik lokasi penambangan. Saat tiba pertama ada beberapa pondok terbuat dari papan dan atap seng. Ini digunakan oleh pendulang untuk tinggal dan menetap di lokasi. Ada anak istri juga yang tinggal disini. Selain itu ada juga warung atau kios yang didirikan oleh keluarga pendulang.
Saat didatangi terdengar seorang wanita sedang memasak, menyiapkan makanan untuk suami atau keluarganya yang sedang bekerja. Cuaca di lokasi ini cukup terik karena berada di kawasan terbuka. Dari kejauhan sudah terdengar suara mesin alkon yang menyiram tumpukan material tanah berwarna kecoklatan. Tanah-tanah ini disaring untuk mendapatkan biji emas. “Ukurannya seperti pasir.
Ya kalau beruntung bisa dapat seperti gula pasir atau beras,” ujar seorang pemuda yang tak mau menyebut namanya saat ditemui di lokasi, Sabtu (13/12).
Luasan tambang yang sudah tergarap juga membentang. Beberapa kubangan air terlihat layaknya kolam –kolam namun berisi air berwarna kuning kental. Lalu ada selang-selang berukuran besar yang diurai puluhan meter ke bawah.
Sesekali mesin excavator bergerang menuju tebing dan menggeser material. Dari pemandangan ini selang beberapa hari kemudian barulah Cenderawasih Pos bertemu Adolof Ohee.
Adolof sendiri bukan sosok yang pelit bercerita. Ia besedia menjawab semua yang ditanyakan dan disampaikan secara terbuka. Nama lokasi tambang yang sedang digarap saat ini adalah Pokhla. Dikatakan lokasi tambang di Buper dikelola oleh tiga orang yang semua masih keluarga. Setiap pemilik memiliki pekerja masing-masing. Ia sendiri memiliki 7 pekerja. “Kalau lokasi saya itu di bagian bawah. Yang tadi lewat itu tempat saya, kalau ke atas lagi ada kakak dua yang garap,” Akunya.
Ia menjelaskan bahwa lokasinya seluas 12 hektar dan semua berawal ketika tahun 98 dimana ketika itu krisis moneter melanda Indonesia. Tak lama aktifitas penambangan bermunculan tak terkecuali di wilayah Sentani Timur.
“Dulu diawali dari Jembatan II (Sentani Timur) dan terus naik hingga ke Pokhla ini. Tahun 2007 saya kembali ke Papua kemudian pelajari dan ketika itu sedang nganggur akhirnya saya mulai kerja dan berkecimpung di tambang,” beber Adolof.
Lalu pada tahun 2011 pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) datang dan melakukan penelitian selama 3 hari. Adolof dan keluarga mendapat jawaban jika potensi mineral emas di lokasinya baik sehingga itu juga yang memotivasinya untuk terus bekerja. Meski begitu, Adolf memahami bahwa ia harus mengantongi ijin. Iapun berupaya mendapatkan ijin dari pemerintah.