Monday, March 2, 2026
26.9 C
Jayapura

Dari Bangun Subuh hingga Malam Diisi dengan Berbagai Kegiatan

Saat adzan Maghrib berkumandang, santri berbuka dengan kurma dan air putih. Setelah itu, mereka menikmati hidangan bersama-sama. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan terasa kental.

“Tradisi ini mengajarkan nilai berbagi dan bersyukur. Santri belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri dan menghargai nikmat Allah. Mereka juga diingatkan untuk tidak berlebihan dalam makan meski telah berpuasa seharian,” terang Ahmad.

Ahmad menjelaskan, Shalat Tarawih di pesantren menjadi ritual yang khusyuk. Masjid pesantren dipenuhi santri yang berbaris rapi. Imam membacakan ayat-ayat panjang dengan tartil. Suasana khidmat terasa hingga ke sudut-sudut masjid.

Setiap malam, jumlah rakaat Tarawih bisa berbeda. Namun semua santri mengikuti dengan penuh semangat. Setelah Tarawih, dilanjutkan dengan ceramah singkat atau tadarus Al-Qur’an.

Baca Juga :  Walau dari Timur Indonesia, Tak Pelru Minder Karena Semua Punya Peluang

Tradisi ini dilakukan pondok untuk melatih ketahanan fisik dan spiritual santri. Mereka belajar untuk istiqomah dalam beribadah. Shalat Tarawih juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT di malam-malam Ramadhan.

Selain kitab-kitab klasik atau populer di pesantren sebagai Kitab Kuning, para santri juga di wajibkan membaca berbagai jenis kitab diantaranya Kitab Nashoikhul ‘ibad, Kitab Hikayatul ramadhan, Kitab Qobasul wa’id, Kitab Hikayatul murid ini, Kitab Akhlaqul nubuwah, Kitab Asrorul shoum, Kitab Wasyiyatul musthofa dan Kitab Adabul Mar ah.

Lebih jauh kepala pondok itu menyampaikan selama Bulan Ramadan ini, para santri lama melaksanakan kegiatan rutin setiap hari selama bulan ramadhan. Ada banyak perubahan kegiatan harian selama bulan ramadhan ini. Dari mulai bangun sahur di pagi hari pada pukul 03.15 WIT kemudian tadarus Al-Qur’an di masjid dan dilanjutkan dengan Jamaah Sholat Subuh.

Baca Juga :  Warga Diminta Tidak Bereforia Berlebihan di Malam Pergantian Tahun

Saat adzan Maghrib berkumandang, santri berbuka dengan kurma dan air putih. Setelah itu, mereka menikmati hidangan bersama-sama. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan terasa kental.

“Tradisi ini mengajarkan nilai berbagi dan bersyukur. Santri belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri dan menghargai nikmat Allah. Mereka juga diingatkan untuk tidak berlebihan dalam makan meski telah berpuasa seharian,” terang Ahmad.

Ahmad menjelaskan, Shalat Tarawih di pesantren menjadi ritual yang khusyuk. Masjid pesantren dipenuhi santri yang berbaris rapi. Imam membacakan ayat-ayat panjang dengan tartil. Suasana khidmat terasa hingga ke sudut-sudut masjid.

Setiap malam, jumlah rakaat Tarawih bisa berbeda. Namun semua santri mengikuti dengan penuh semangat. Setelah Tarawih, dilanjutkan dengan ceramah singkat atau tadarus Al-Qur’an.

Baca Juga :  Rustan Saru Ajak Warga Jaga Fasilitas Umum

Tradisi ini dilakukan pondok untuk melatih ketahanan fisik dan spiritual santri. Mereka belajar untuk istiqomah dalam beribadah. Shalat Tarawih juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT di malam-malam Ramadhan.

Selain kitab-kitab klasik atau populer di pesantren sebagai Kitab Kuning, para santri juga di wajibkan membaca berbagai jenis kitab diantaranya Kitab Nashoikhul ‘ibad, Kitab Hikayatul ramadhan, Kitab Qobasul wa’id, Kitab Hikayatul murid ini, Kitab Akhlaqul nubuwah, Kitab Asrorul shoum, Kitab Wasyiyatul musthofa dan Kitab Adabul Mar ah.

Lebih jauh kepala pondok itu menyampaikan selama Bulan Ramadan ini, para santri lama melaksanakan kegiatan rutin setiap hari selama bulan ramadhan. Ada banyak perubahan kegiatan harian selama bulan ramadhan ini. Dari mulai bangun sahur di pagi hari pada pukul 03.15 WIT kemudian tadarus Al-Qur’an di masjid dan dilanjutkan dengan Jamaah Sholat Subuh.

Baca Juga :  Jarak Dan Akses Jauh, 3 Rumah Sakit Tipe D Dibangun di 3 Wilayah

Berita Terbaru

Artikel Lainnya