alexametrics
31.7 C
Jayapura
Tuesday, June 21, 2022

Papua Bisa Lahirkan Banyak Ilmuan

SWAFOTO: Prof Yohanes Surya diapit sejumlah pelajar untuk melakukan swafoto diakhir kuliah umum di aula FMIPA Uncen, Senin (24/2) kemarin.( FOTO: Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Kehadiran Profesor Yohanes Surya  untuk memberikan kuliah umum dalam dies natalis FMIPA Uncen ke 22, Senin (24/2) kemarin memberi banyak gambaran pentingnya teknologi dalam era revolusi industri saat ini. 

Ia juga meyakini anak-anak Papua bisa melakukan hal yang sama seperti anak-anak di  luar Papua dan melakukan banyak hal lewat kecerdasannya. Kuncinya hanya satu, gigih dalam belajar terutama yang berkaitan dengan hitung-hitungan. Yohanes Surya memberi satu pertanyaan dan jawaban ringan yang menjawab pendapatnya ini. 

 “Siapa yang dalam sehari belajar dari jam pagi sampai malam? Dan siapa yang ingin jadi orang hebat?,”  tanya Prof Surya. 

Saat pertanyaan pertama ini tak ada yang mengangkat tangan  soal belajar dari pagi sampai malam namun giliran ingin jadi orang hebat hampir semua mengangkat tangan. “Nah bagaimana mau jadi orang hebat kalau tidak gigih, tidak mau bekerja keras?,” sindirnya yang dibalas senyum-senyum oleh 300-an peserta kuliah umum.

Baca Juga :  Kelompok Sabinus Waker Diduga Dalang Penembakan

 Ia mengingatkan bahwa era 4.0  perlahan akan ditinggalkan seiring Jepang sedang menyiapkan era 5.0  yang sebagian besar pekerjaan manusia akan dikerjakan lewat teknologi pengganti manusia yakni robot. “Saya melatih beberapa anak mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 11.00 malam dan hasilnya ada yang bernama Novi Kurniawan kini menjadi direktur di IBM Tokyo  dan diagendakan akan  menerima nobel fisika. Karena memecahkan PR yang 140 tahun belum dipecahkan dalam dunia fisika,” jelas Prof Surya. 

Tak hanya itu, ada juga alumni Surya Institut yang bekerja di Facebook termasuk pelatih olimpiade fisika.  “Saya melihat SDM  Papua luar biasa sebab saya pernah menerima anak SD yang empat tahun tahan kelas dan usia 12 tahun masih kelas 2 SD. Tapi setelah  dilatih selama 1 tahun ternyata ia mampu mengikuti lomba robot dan meraih perunggu,” cerita Surya. 

Baca Juga :  Stok Obat Ditarik dan Pemda Keerom Punya Utang, Itu Tidak Benar!

Surya juga menambahkan bahwa ia memiliki keinginan untuk mengembangkan pola pendidikan seperti yang dilakukan di Surya Institute. Ini akan dimulai dengan melatih para dosen kemudian dari dosen ke tenaga guru dan dari guru ke anak murid. 

“Jadi tidak perlu ke Jakarta, pelatih kami juga bisa datang  kesini untuk mengajar dan yang penting adalah bagaimana gigih dalam belajar  dan jangan cepat menyerah. Penting untuk menguasai hitung-hitungan baik perkalian, pembagian, pengurangan. Jika kita tidak siap maka kita akan terlindas dengan perkembangan teknologi dan itu nyata,” pungkasnya. (ade/nat)

SWAFOTO: Prof Yohanes Surya diapit sejumlah pelajar untuk melakukan swafoto diakhir kuliah umum di aula FMIPA Uncen, Senin (24/2) kemarin.( FOTO: Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Kehadiran Profesor Yohanes Surya  untuk memberikan kuliah umum dalam dies natalis FMIPA Uncen ke 22, Senin (24/2) kemarin memberi banyak gambaran pentingnya teknologi dalam era revolusi industri saat ini. 

Ia juga meyakini anak-anak Papua bisa melakukan hal yang sama seperti anak-anak di  luar Papua dan melakukan banyak hal lewat kecerdasannya. Kuncinya hanya satu, gigih dalam belajar terutama yang berkaitan dengan hitung-hitungan. Yohanes Surya memberi satu pertanyaan dan jawaban ringan yang menjawab pendapatnya ini. 

 “Siapa yang dalam sehari belajar dari jam pagi sampai malam? Dan siapa yang ingin jadi orang hebat?,”  tanya Prof Surya. 

Saat pertanyaan pertama ini tak ada yang mengangkat tangan  soal belajar dari pagi sampai malam namun giliran ingin jadi orang hebat hampir semua mengangkat tangan. “Nah bagaimana mau jadi orang hebat kalau tidak gigih, tidak mau bekerja keras?,” sindirnya yang dibalas senyum-senyum oleh 300-an peserta kuliah umum.

Baca Juga :  Dua PDP Covid-19 Diisolasi

 Ia mengingatkan bahwa era 4.0  perlahan akan ditinggalkan seiring Jepang sedang menyiapkan era 5.0  yang sebagian besar pekerjaan manusia akan dikerjakan lewat teknologi pengganti manusia yakni robot. “Saya melatih beberapa anak mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 11.00 malam dan hasilnya ada yang bernama Novi Kurniawan kini menjadi direktur di IBM Tokyo  dan diagendakan akan  menerima nobel fisika. Karena memecahkan PR yang 140 tahun belum dipecahkan dalam dunia fisika,” jelas Prof Surya. 

Tak hanya itu, ada juga alumni Surya Institut yang bekerja di Facebook termasuk pelatih olimpiade fisika.  “Saya melihat SDM  Papua luar biasa sebab saya pernah menerima anak SD yang empat tahun tahan kelas dan usia 12 tahun masih kelas 2 SD. Tapi setelah  dilatih selama 1 tahun ternyata ia mampu mengikuti lomba robot dan meraih perunggu,” cerita Surya. 

Baca Juga :  Stok Obat Ditarik dan Pemda Keerom Punya Utang, Itu Tidak Benar!

Surya juga menambahkan bahwa ia memiliki keinginan untuk mengembangkan pola pendidikan seperti yang dilakukan di Surya Institute. Ini akan dimulai dengan melatih para dosen kemudian dari dosen ke tenaga guru dan dari guru ke anak murid. 

“Jadi tidak perlu ke Jakarta, pelatih kami juga bisa datang  kesini untuk mengajar dan yang penting adalah bagaimana gigih dalam belajar  dan jangan cepat menyerah. Penting untuk menguasai hitung-hitungan baik perkalian, pembagian, pengurangan. Jika kita tidak siap maka kita akan terlindas dengan perkembangan teknologi dan itu nyata,” pungkasnya. (ade/nat)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/