Tak Melulu Gigi Berlubang Harus Dicabut, tapi Jangan Disepelekan

GIGI berlubang atau karies gigi masih menjadi salah satu masalah kesehatan mulut paling sering dialami masyarakat. Meski terlihat sepele, jika dibiarkan tanpa perawatan, dampaknya bisa sangat serius. Bahkan bisa mengancam kesehatan organ tubuh lain. Karies terjadi akibat kerusakan lapisan gigi oleh asam yang dihasilkan bakteri dari sisa makanan, terutama makanan manis yang mengandung gula.

“Gigi itu punya beberapa lapisan. Paling luar adalah enamel atau email, di bawahnya dentin, lalu yang paling dalam adalah ruang pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah. Ketika sisa makanan tidak dibersihkan, bakteri akan menghasilkan asam yang mengikis lapisan terluar gigi secara perlahan,” jelas drg. Kyagus Badius Sani, M.H., CMC.

Baca Juga :  Menkes: 13 Persen Populasi Indonesia Alami Penyakit Gula

Proses pengikisan ini disebut demineralisasi. Jika terus berlanjut tanpa perawatan, lubang akan semakin dalam hingga mencapai ruang saraf. Pada tahap inilah, pasien biasanya mulai merasakan nyeri hebat. “Ciri gigi yang sudah sampai saraf itu nyerinya spontan, berdenyut, berlangsung lama, dan seringkali tidak hilang meski sudah minum obat pereda nyeri,” ujar Kyagus.

Namun, gigi berlubang tidak selalu harus dicabut. Menurut Kyagus, selama sisa struktur gigi masih cukup baik dan bisa dipertahankan, gigi masih dapat diselamatkan melalui perawatan saluran akar atau root canal treatment.

“Pada perawatan saluran akar, jaringan saraf yang sudah mati dan terinfeksi akan dibersihkan menggunakan jarum endodontik sampai ke ujung akar. Setelah itu saluran akar diisi, lalu gigi direstorasi kembali dengan tambalan, mahkota atau crown, inlay, onlay, atau overlay. Dengan begitu, fungsi gigi bisa kembali normal,” terangnya.

Baca Juga :  Gerindra Sebut MKMK Tidak Bisa Membatalkan Putusan Hakim MK yang Bersifat Final

GIGI berlubang atau karies gigi masih menjadi salah satu masalah kesehatan mulut paling sering dialami masyarakat. Meski terlihat sepele, jika dibiarkan tanpa perawatan, dampaknya bisa sangat serius. Bahkan bisa mengancam kesehatan organ tubuh lain. Karies terjadi akibat kerusakan lapisan gigi oleh asam yang dihasilkan bakteri dari sisa makanan, terutama makanan manis yang mengandung gula.

“Gigi itu punya beberapa lapisan. Paling luar adalah enamel atau email, di bawahnya dentin, lalu yang paling dalam adalah ruang pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah. Ketika sisa makanan tidak dibersihkan, bakteri akan menghasilkan asam yang mengikis lapisan terluar gigi secara perlahan,” jelas drg. Kyagus Badius Sani, M.H., CMC.

Baca Juga :  Bawang Putih Baik untuk Kesehatan Jantung dan Pengendalian Gula Darah

Proses pengikisan ini disebut demineralisasi. Jika terus berlanjut tanpa perawatan, lubang akan semakin dalam hingga mencapai ruang saraf. Pada tahap inilah, pasien biasanya mulai merasakan nyeri hebat. “Ciri gigi yang sudah sampai saraf itu nyerinya spontan, berdenyut, berlangsung lama, dan seringkali tidak hilang meski sudah minum obat pereda nyeri,” ujar Kyagus.

Namun, gigi berlubang tidak selalu harus dicabut. Menurut Kyagus, selama sisa struktur gigi masih cukup baik dan bisa dipertahankan, gigi masih dapat diselamatkan melalui perawatan saluran akar atau root canal treatment.

“Pada perawatan saluran akar, jaringan saraf yang sudah mati dan terinfeksi akan dibersihkan menggunakan jarum endodontik sampai ke ujung akar. Setelah itu saluran akar diisi, lalu gigi direstorasi kembali dengan tambalan, mahkota atau crown, inlay, onlay, atau overlay. Dengan begitu, fungsi gigi bisa kembali normal,” terangnya.

Baca Juga :  RSUD Biak Kini Jadi Pusat Unggulan Neurologi di Papua

Berita Terbaru

Artikel Lainnya