Categories: BERITA UTAMA

Komnas HAM: Pelaku Penembakan di Puncak Diduga dari TNI

Komnas menilai terdapat indikasi bahwa pelaku penembakan warga sipil di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, bukan berasal dari kelompok TPN-OPM. Penilaian tersebut didasarkan pada pola korban serta karakteristik kejadian di lapangan. Frits menyatakan, dalam sejumlah pengalaman penanganan kasus di wilayah pegunungan Papua, kelompok bersenjata lokal umumnya memiliki pola selektif dalam menyasar target.

“Dalam pengalaman kami, masyarakat pegunungan, terlepas dia OPM atau bukan, tidak menjadikan anak-anak dan perempuan sebagai sasaran penembakan,” katanya.

Ia menjelaskan, berdasarkan pola korban dalam insiden di Kembru yang melibatkan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, maka terdapat dugaan kuat bahwa pelaku bukan TPN-OPM.

Menurutnya, TPN-OPM yang beroperasi di wilayah tersebut merupakan bagian dari masyarakat lokal yang memahami struktur sosial setempat, sehingga tidak lazim melakukan penembakan secara acak terhadap warga sipil.

“Kalau kita lihat pola korban yang banyak dan dilakukan dengan cara seperti ini, maka kuat dugaan bukan dilakukan oleh TPN-OPM,” ujarnya.

Frits menambahkan, berdasarkan analisis awal, satuan yang berada di sekitar lokasi kejadian adalah aparat TNI, sehingga dugaan sementara mengarah pada perlunya klarifikasi dari pihak komando terkait.

“Yang ada di sekitar lokasi hanya satuan TNI. Karena itu kami meminta klarifikasi dari Pangkogabwilhan,” tegasnya.

Komnas HAM juga mengingatkan seluruh pihak untuk menahan diri dalam melakukan pengejaran atau operasi di lapangan, terutama Satgas TNI yang bertugas di wilayah pegunungan Papua.

Ia menilai, sejumlah aparat yang bertugas di daerah tersebut masih belum sepenuhnya memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat, sehingga berpotensi menimbulkan korban sipil.

“Penugasan di wilayah pegunungan harus disertai pemahaman sosial budaya masyarakat agar tidak terjadi korban yang tidak diinginkan,” katanya.

Komnas HAM meminta agar penempatan dan pola operasi Satgas di wilayah tersebut dievaluasi, guna mencegah jatuhnya korban sipil di masa mendatang.

Di sisi lain, hingga saat ini Komnas HAM masih menerima beragam informasi terkait jumlah korban yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Data yang beredar di masyarakat menyebutkan variasi angka, mulai dari lima, tujuh hingga sembilan orang korban jiwa. “Seluruh informasi masih kami verifikasi. Komnas HAM belum dapat menyampaikan jumlah pasti karena data di lapangan masih simpang siur,” ujarnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Pengunjung Kurang, Pendapatan Pengelola Pantai Hamadi Merosot Pengunjung Kurang, Pendapatan Pengelola Pantai Hamadi Merosot 

Pengunjung Kurang, Pendapatan Pengelola Pantai Hamadi Merosot

   Para pengelola pantai dan penyedia jasa penyewaan pondok wisata kini harus menelan pil pahit…

7 hours ago

Uskup dan Ordo Sepakati Anggaran Dasar Unika Fajar Timur Papua

  Rapat tersebut dihadiri langsung oleh Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi, M.S.C., Uskup…

8 hours ago

Festival Port Numbay 2026 Promosikan Potensi Kampung Wisata

   Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Richard J. Nahumury, mengatakan Festival Port…

9 hours ago

Tingkatkan Daya Saing UMKM, Pemkot Perkuat Legalitas dan Manajemen

Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM)…

10 hours ago

Disiplin dan Berintegritas Kunci Pelayanan Publik Berkualitas

  Menurut Abisai, ASN merupakan ujung tombak penyelenggaraan pemerintahan. Karena itu, setiap pegawai dituntut untuk…

11 hours ago

Lomba Gerak Jalan HUT RI  Disambut Antusias 

   Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Jayapura, Bobby Johanis Enos Awi,…

12 hours ago