

Selama ratusan bahkan ribuan tahun, bumi dan laut telah menghidupi miliaran manusia. Lebih dari 17 ribu pulau, tak kurang dari 1000 suku bangsa mendiami perahu besar bernama Indonesia. Di antaranya 27 gugus pulau ada di Karimunjawa. Suku Jawa, Bugis, Madura, Bajau, Mandar hingga Buton juga menyebar, hidup di lima pulau, Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk dan Genting.
Kejora Karimunjawa Dukung Mimpi Anak, Perjuangkan Edukasi, Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Sejak 2021, Kejora berjuang memutus ketergantungan masyarakat pulau terhadap modal dan narasi luar. Membangun resiliensi dan kemandirian generasi muda lewat pendidikan dan kelestarian alam.
Laporan: Fikri Thoharudin_Jepara
Upaya dekolonisasi terus diwujudkan oleh Yayasan Kejora Karimunjawa. Dengan pemberdayaan, masyarakat lokal didampingi agar tidak menjadi penonton di tanah sendiri di tengah-tengah gencarnya status Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Ya, semesta nampaknya lebih banyak merawat, dibandingkan manusia dalam merawat alam.
Selama ratusan bahkan ribuan tahun, bumi dan laut telah menghidupi miliaran manusia. Lebih dari 17 ribu pulau, tak kurang dari 1000 suku bangsa mendiami perahu besar bernama Indonesia. Di antaranya 27 gugus pulau ada di Karimunjawa. Suku Jawa, Bugis, Madura, Bajau, Mandar hingga Buton juga menyebar, hidup di lima pulau, Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk dan Genting.
Keanekaragaman hayati yang ada di dalam pulau tersebut, menjadi tumpuan hidup. Ditambah dengan status Karimunjawa sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), menambah kekayaan relasi ekonomi, sosial maupun historis masyarakat Kepulauan Karimunjawa.
Yayasan Kejora Karimunjawa merespon itu semua, mewariskan semangat untuk lebih banyak merawat. Suasana pagi di Karimunjawa tidak selalu dimulai dari ruang kelas. Bagi anak-anak yang belajar di SPS Kejora, alam bisa menjadi halaman sekolah, laut menjadi ruang belajar, sementara perjalanan keluar kelas menjadi cara untuk mengenal lingkungan tempat mereka tumbuh.Di tengah lanskap kepulauan yang dikelilingi laut, pendidikan bagi anak-anak Karimunjawa tidak hanya dipahami sebagai kegiatan membaca, berhitung, atau menghafal pelajaran.
Di sini terdapat rasa ingin tahu yang ditumbuhkan, bahasa yang dikenalkan, lingkungan yang dirawat, serta keberanian untuk bermimpi, melewati batas-batas pulau. Mereka tahu, harapan tak mengenal jarak. Semangat itulah yang dibangun Yayasan Kejora Karimunjawa. Organisasi nirlaba berbasis komunitas tersebut bergerak di bidang pendidikan, pembelajaran bahasa, konservasi lingkungan, sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Macom (Marketing Communication) & Fundraising Coordinator Kejora Karimunjawa, Nur Sayyidah, mengatakan Kejora lahir dari kebermasaan antara masyarakat lokal maupun warga asing. Yang memiliki perhatian terhadap masa depan anak-anak di kepulauan. Yayasan tersebut berdiri pada 29 September 2021. Namun, aktivitasnya bermula dari sebuah kursus bahasa Inggris yang digagas bersama komunitas di Karimunjawa.
Selain program mudik gratis, Mathius mengatakan Pemprov Papua juga menyiapkan subsidi transportasi laut sebagai…
Komisi 1 DPR Papua menilai langkah sejumlah denominasi gereja di Tanah Papua yang membentuk wadah…
Menurutnya, pasar dengan sekitar 200 kios tersebut memiliki potensi ekonomi besar. Ia mendapat informasi…
Presiden Prabowo Subianto memastikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat mengusut hingga melakukan penindakan terhadap menteri…
Menurutnya, dengan lahirnya undang-undang nomor 15 Tahun 2022 terkait dengan DOB semestinya Gubernur pimpin barisan…
Suasana duka yang lagi menyelimuti Universitas Cenderawasih haruslah tercermin dari sikap dan perbuatan. Apalagi yang…