Categories: BERITA UTAMA

Patroli Satgas Keamanan Identik Pengejaran Berujung Operasi Tempur

Pendekatan Keamanan di Tanah Papua Diminta Dievaluasi

JAYAPURA-Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua menilai pendekatan keamanan dalam penanganan konflik bersenjata di Papua perlu dievaluasi. Sebab, pendekatan ini dinilai memicu meningkatnya korban jiwa dan pengungsian masyarakat sipil di sejumlah wilayah.

Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey mengatakan, konflik bersenjata yang terjadi di Papua saat ini tidak hanya menimbulkan korban dari kalangan aparat keamanan maupun kelompok bersenjata, tetapi juga berdampak luas terhadap masyarakat sipil.

“Korban bukan hanya dari TNI-Polri dan kelompok bersenjata, tetapi masyarakat sipil juga turut menjadi korban,” kata Frits kepada Cenderawasih Pos, Selasa (12/5).

Menurutnya, konflik yang terus terjadi di sejumlah daerah seperti Kabupaten Nduga, Pegunungan Bintang, Yahukimo hingga Puncak juga menyebabkan gelombang pengungsian yang hingga kini belum tertangani secara maksimal.

Ia menilai persoalan pengungsi selama hampir dua dekade terakhir belum terselesaikan karena perbedaan data antar pihak terkait.“Yang paling bertanggung jawab terhadap data pengungsi adalah pemerintah daerah, karena pemerintah kabupaten yang mengetahui jumlah penduduk di wilayahnya,” ujarnya.
Frits juga menyoroti polemik terkait status korban dalam setiap insiden kontak tembak antara aparat keamanan dan kelompok sipil bersenjata atau organisasi Papua merdeka (OPM). Menurutnya, penentuan identitas korban tidak bisa dilakukan sepihak.

“Kalau ada korban dalam kontak tembak, apakah dia warga sipil atau anggota TPNPB, yang bisa memverifikasi itu kepala kampung, bukan TNI atau Polri,” katanya.

Ia menjelaskan, anggota kelompok bersenjata yang meninggal dunia umumnya diumumkan langsung oleh kelompok mereka sendiri sehingga identitasnya dapat diketahui.

Terkait situasi keamanan di Papua, Frits menilai meningkatnya intensitas kekerasan bersenjata dalam tiga tahun terakhir tidak terlepas dari pola operasi keamanan yang diterapkan di lapangan.

Menurutnya, pendekatan patroli yang dilakukan satuan tugas keamanan identik dengan operasi pengejaran yang berujung pada operasi tempur. “Data kami menunjukkan dalam tiga tahun terakhir korban kekerasan bersenjata semakin banyak karena ada operasi yang salah. Ketika semakin banyak tentara dikirim ke Papua, maka semakin banyak pula korban,” ujarnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Keluhkan Kecilnya DAU dan ASN yang Enggan Pindah

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri menyebut efisiensi anggaran bagi pemerintah daerah masih berlanjut pada 2027. Para…

1 day ago

Sanksi Jangan Berhenti di Administratif

Merespon terkait dengan itu, ​Pengamat Kebijakan Publik Papua, Dr. Methodius Kossay, menyatakan bahwa tindakan suspend…

1 day ago

TNI Tak Gentar Ancaman OPM

Penegasan tersebut disampaikan menyusul adanya pernyataan dari kelompok yang mengatasnamakan TPNPB yang mengancam akan menggagalkan…

2 days ago

Gubernur: Koreksi Total, Jangan Terulang Lagi!

  Fakhiri mengatakan, kejadian serupa sebenarnya pernah terjadi di sejumlah daerah. Namun, khusus untuk Papua,…

3 days ago

Utang Negara Capai Rp 10.000 Triliun

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan posisi utang pemerintah sebesar Rp10.000 triliun hingga pertengahan 2026 masih terkendali…

3 days ago

Dana Otsus Bukan untuk Operasional dan Belanja Kantor!

Gubernur Papua Pegunungan Dr. (HC) Jhon Tabo, SE, M.B.A menyatakan penggunaan dana otsus saat ini…

3 days ago