

Yoseph Calvin Srem (foto:Jimi/Cepos)
Melihat Geliat SMKN 8 Jayapura Menjadi Sekolah TIK yang Unggul
Meski jarang terdengar di telinga publik, SMKN 8 Jayapura tersimpan semangat yang meluap untuk menaklukkan dunia digital untuk kemajuan Kota Jayapura dan Papua umumnya.
Laporan: Jimianus Karlodi-Jayapura
Berada di tepian muara Kali Kamp Wolker, sebuah bangunan sekolah berdiri. Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, SMK Negeri 8 Jayapura sekilas tampak seperti sekolah pinggiran yang sunyi, jarang terpantau karena lokasinya tersembunyi.
Namun, di balik dinding-dindingnya yang sederhana, tersimpan semangat yang meluap untuk menaklukkan dunia digital. Sekolah ini memiliki riwayat yang unik. Dahulu, ia dikenal sebagai SMK Perikanan sebuah identitas yang melekat karena lokasinya yang bersentuhan langsung dengan danau.
Namun, seiring laju zaman yang menuntut penguasaan teknologi, sekolah ini bertransformasi menjadi SMK Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK). Perubahan nama ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan sebuah pernyataan sikap untuk membawa anak-anak Papua ke panggung teknologi global.
Berbeda dengan sekolah-sekolah di jantung kota yang memiliki ribuan murid, SMKN 8 Jayapura memiliki jumlah siswa yang tergolong sedikit. Lokasinya yang jauh dari keramaian masyarakat membuat sekolah ini jarang terdengar di telinga publik.
Tak hanya itu, sarana dan prasarana pendukung pembelajaran pun tergolong masih sangat terbatas. Namun, keterbatasan bukanlah kata mati bagi pihak sekolah. Kepala SMKN 8 Jayapura, Yoseph Calvin Srem, mengungkapkan bahwa kondisi ini justru menciptakan ikatan emosional yang kuat antara guru dan siswa.
“Kami memang kecil dalam jumlah, dan sarana kami mungkin tidak semegah sekolah lain di pusat kota. Tapi semangat kami tidak boleh terbatas. Kami ingin membuktikan bahwa dari pinggir Danau Sentani ini, bisa lahir teknokrat-teknokrat hebat,” ujar Yoseph saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/5).
Berbicara terkait dengan program unggulan dan prestasi, nama sekolah yang dulu asing di telinga, kini mulai sering disebut di panggung penghormatan. Melalui jurusan unggulan seperti: Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Desain Komunikasi Visual (DKV), Teknik Elektronika, Kimia Industri siswa-siswi sekolah ini mulai menunjukkan taringnya.
Berbagai prestasi yang digapai, dari berbagai perlombaan terkhususnya di bidang teknologi. Capaian ini tak terlepas dari strategi sekolah untuk tetap relevan adalah dengan fokus pada program-program favorit yang menjadi unggulan.
Di tengah minimnya fasilitas, kreativitas justru dipacu. Jurusan-jurusan di bidang teknologi informasi dikemas sedemikian rupa agar siswa tidak hanya belajar teori, tapi langsung praktik dengan standar industri. Laboratorium komputer yang ada harus dibagi dengan penuh perhitungan. Jumlah perangkat tak jarang harus digunakan bergantian.
Hasilnya pun tidak main-main. SMKN 8 Jayapura mulai menjadi “ancaman” baru dalam berbagai ajang kompetisi. Nama sekolah ini mulai rutin muncul sebagai juara, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Banyak yang terkejut ketika kami mengikuti berbagai perlombaan di tingkat nasional. Meskipun jarang mendapatkan ‘juara’. Mereka bertanya-tanya, ‘SMKN 8 Jayapura itu di mana?’. Itu adalah kebanggaan terbesar kami,” tambah Kepala Sekolah dengan mata berbinar.
Transformasi dari perikanan ke teknologi digital memang menantang. Namun, para siswa membuktikan bahwa mereka mampu beradaptasi dengan cepat. Di tangan mereka, mouse dan keyboard menjadi alat pancing baru untuk mendapatkan “ikan” berupa prestasi dan masa depan yang cerah. SMKN 8 Jayapura adalah bukti nyata bahwa lokasi yang terpencil dan fasilitas yang terbatas bukanlah penghalang untuk bersinar. Di batas kota ini, mutiara digital Papua sedang terus diasah, siap untuk menerangi cakrawala teknologi Indonesia.
Berada di pinggiran membuat dukungan sarana prasarana seringkali datang terlambat. Namun, bagi Kepala Sekolah, jumlah siswa yang sedikit justru menjadi kekuatan.
“Karena kami sedikit, kami adalah keluarga. Guru mengenal setiap mimpi siswanya, dan setiap siswa saling menguatkan di tengah kekurangan yang ada.” ucapnya dengan nada tenang.
Bagi sang Kepala Sekolah dan seluruh civitas akademika, setiap kesulitan adalah “bug” yang harus diperbaiki, dan setiap prestasi adalah “output” dari kerja keras yang tak kenal lelah. Di batas kota Jayapura, mereka sedang merakit masa depan Papua, satu baris kode di setiap waktu. Memasuki musim penerimaan murid baru, SMK Negeri 8 Jayapura mulai bersiap diri. Sekolah yang terletak di kawasan Waena, perbatasan antara Kota dan Kabupaten Jayapura ini, kembali membuka pintu bagi putra-putri daerah yang ingin mendalami dunia teknologi, meski berada jauh dari hiruk-pikuk pusat keramaian.
Page: 1 2
Menurut RD, Manajer Persipura, Owen Rahadiyan telah menjalin komunikasi untuk mengadakan pertemuan tatap muka di…
Kapolres Jayawijaya AKBP. Anak Agung Made Satriya Bimantara, S.IK menyatakan sejak hari pertama kejadian, 6…
Pelaksanaan tes akademik tersebut berlangsung di beberapa lokasi, di antaranya IPDN Papua, Ian Fattahul Muluk…
Wali Kota Jayapura Abisai Rollo menegaskan, kepala daerah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan seluruh…
Pemerintah Kampung Holtekam akan memfokuskan program pembangunan tahun 2027 pada penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan…
Komisi III DPR Provinsi Papua Selatan melakukan audiens dengan Manajemen, Nakes dan honorer atau pegawai…