Categories: BERITA UTAMA

Sambil Menangis, Bocah yang Disiksa Katakan Tak Mau Pulang

Pelaku Ngaku Kerap Aniaya Saat Mabuk

JAYAPURA – Menyikapi kasus tindak pidana kekerasan fisik yang mengarah pada penyiksaan terhadap bocah lima tahun di Organda Padang Bulan, Komnas HAM wilayah Papua mengunjungi korban di RS Bhayangkara. Kepala Kantor Komnas HAM wilayah Papua Frits Ramandey berharap Polisi mengambil langkah-langkah tegas menghukum pelaku dari tindakan kekerasan tersebut.

Hal tersebut ia sampaikan karena melihat kondisi korban saat ini yang mengalami patah tulang kaki dan tangan serta mengalami luka cukup banyak disekujur tubuhnya hingga mengalami trauma.  Untungnya kondisi korban mulai membaik.

“Dari hasil pengamatan kami tadi anak itu (AL) sudah mulai pulih kondisinya, sudah mulai intraksi dengan keluarga, perawatan dan para pengunjung yang menjenguknya,” ungkap Frits, Senin (6/1) sore.

Lanjut Frits menjelaskan, berdasarkan keterangan korban, ia mengaku bahwa dirinya sering dipukul dan disiksa oleh pelaku. Hal itu terbukti dari beberapa rekaman video kekerasan dimiliki Komnas HAM yang dialami korban selama hidup dengan kedua pelaku dalam kurun waktu yang panjang.

“Tangan saya dipukul oleh bapa, kaki saya dipukul oleh bapa, mulut saya dipukul oleh mama, kepala saya juga di pukul. Saya tidak mau pulang kerumah,” ucap korban sambil menangis kata Frits. Selain mengunjungi korban, Komnas HAM Papua juga mendatangi salah satu pelaku dari tindakan kekerasan tersebut.

Dalam keterangan pelaku mengaku, ia melakukan penganiayaan itu secara sadar tanpa dipengaruhi Minuman Keras (Miras). Oleh karenanya Frits berharap pelaku dihukum seberat mungkin sesuai dengan perbuatannya. Yang disayangkan oleh Kepala Komnas HAM itu adalah status hukum dari korban hingga ini secara administrasi belum tercatat kedalam kartu keluarga dari kedua pelaku.

Sementara pelaku telah mempunyai tiga orang anak dan sering menganiaya korban didepan anak kandungnya sendiri. “Status hukum dari korban belum tercatat di kartu keluarga pelaku. Sementara anak ini (korban) sudah berusia lima tahun. Sementara keluarga ini juga mempunyai tiga orang anak kandung. Sangat disesalkan korban ini sering disiksa di depan anak yang lain,” bebernya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Dana Perawatan Nihil, Venue PON Papua Mulai Rusak

  Ia menjelaskan, venue peninggalan PON yang berada di bawah pengelolaan Pemprov Papua tersebar di…

6 hours ago

10 Personel Luka-Luka dan 1 Unit Mobil Warga Rusak

  Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, menegaskan bahwa pengamanan kegiatan penyampaian pendapat…

8 hours ago

Dari Rasa Gabut  dan Tanpa Kursus Khusus Bisa Hasilkan Karya Tepat Guna

Tiga siswa Sekolah Negeri Khusus (SNK) Pariwisata Papua, Juan Omar, Dhafin Khairan Abuhari dan Jeskhiel…

9 hours ago

Ribuan Warga Binaan Dapat Remisi, 36 Orang Langsung Bebas

   Dari total penerima tersebut, sebanyak 1.970 orang memperoleh Remisi Umum I (pengurangan masa pidana…

10 hours ago

Kemerdekaan Harus Dirasakan Rakyat Papua

   Ketua DPD PDI Perjuangan Papua, Benhur Tomi Mano (BTM), mengatakan kemerdekaan Indonesia tidak boleh…

11 hours ago

Beda Versi Polisi dan Mahasiswa

   Di satu sisi, Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus W.A. Maclarimboen secara tegas membantah…

12 hours ago