

Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sesmendukbangga) / BKKBN, Budi Setyono
SURABAYA – Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan, pada 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564.000 orang hidup dengan HIV (ODHIV) di Indonesia. Namun, hingga Maret 2025, baru sekitar 356.638 orang atau 63 persen yang mengetahui status kesehatannya.
Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 67 persen yang menjalani terapi antiretroviral (ARV), sementara sekitar 55 persen berhasil mencapai supresi virus. Artinya, hampir separuh penderita HIV di Indonesia masih berada di luar sistem pengobatan yang optimal. Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sesmendukbangga) / BKKBN, Budi Setyono, mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam menemukan dan mengobati penderita HIV.
Kondisi tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus HIV yang masih tinggi di dunia. “Situasi ini menjelaskan mengapa Indonesia saat ini menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang hidup dengan HIV dan peringkat ke-9 untuk infeksi baru HIV. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan HIV bukan lagi isu kesehatan yang berada di pinggiran agenda pembangunan nasional,” kata Budi, Selasa (9/6).
Menurut Budi, persoalan utama saat ini bukanlah ketersediaan obat. Kemajuan ilmu kedokteran telah menjadikan HIV sebagai penyakit kronis yang dapat dikendalikan sehingga penderitanya tetap dapat hidup produktif. “Seseorang yang rutin mengonsumsi ARV dapat hidup produktif dengan harapan hidup yang mendekati populasi umum. Bahkan ketika jumlah virus berhasil ditekan hingga tidak terdeteksi atau undetectable, risiko penularan seksual praktis menjadi nol melalui prinsip Undetectable Equals Untransmittable atau U=U,” jelasnya.
Namun demikian, banyak orang tidak mengetahui dirinya telah terinfeksi HIV karena penyakit ini dapat berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun. Akibatnya, diagnosis sering kali baru dilakukan ketika pasien sudah mengalami komplikasi serius. “Seorang pekerja kantoran, mahasiswa, pengusaha, atau ibu rumah tangga dapat tampak sehat sambil membawa virus dalam tubuhnya. Ketika diagnosis akhirnya ditegakkan, tidak sedikit yang sudah memasuki stadium lanjut dan mengalami komplikasi serius. Inilah yang disebut para epidemiolog sebagai silent epidemic atau epidemi yang berlangsung tanpa terlihat sampai dampaknya menjadi besar,” ungkap Budi.
Pertamina Patra Niaga mengungkap alasan di balik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis…
"KTT ASEAN dengan Rusia? Ya di Kazan ya, tanggal 17," kata Havas di Kompleks Istana…
Berdasar laporan yang diterima oleh Komjen Ramdani, lebih dari 90 persen kejahatan jalanan, insiden, dan…
Ia merupakan striker yang membunuh mimpi Persipura pada partai penentu lolos tidaknya kedua tim melaju…
Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menilai RSUP Jayapura telah menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, nyaman,…
Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Merna Cinthia, didampingi hakim anggota Irfan Amos Sampe…