Categories: METROPOLIS

Pertanian Papua Harus Hormati Alam dan Kearifan Lokal

JAYAPURA–Pemerintah Provinsi Papua saat ini tengah menggencarkan program cetak sawah dan optimalisasi lahan pertanian bekerja sama dengan Kementerian Pertanian sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan di kawasan timur Indonesia.  Namun, kebijakan tersebut dinilai harus tetap memperhatikan kondisi alam, budaya, dan kearifan lokal masyarakat adat Papua agar tidak menimbulkan persoalan baru.

Tokoh Papua, Kristhina R.I. Luluporo, menilai pembangunan pertanian modern di Papua perlu dilakukan secara hati-hati dan tidak disamaratakan dengan daerah lain di Indonesia. Menurutnya, masyarakat Papua sejak lama hidup berdampingan dengan alam sesuai karakter wilayah masing-masing.

“Masyarakat pesisir hidup dari laut dan sagu, sedangkan masyarakat pegunungan mengembangkan petatas, keladi, dan tanaman lokal lainnya sebagai sumber pangan utama,” ujarnya, Sabtu (23/5).

Ia mengatakan Papua dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam, budaya, serta kearifan lokal. Karena itu, pembangunan pertanian di Papua harus menyesuaikan kondisi geografis dan budaya masyarakat setempat.

Menurut Kristhina, pemerintah memang memiliki alasan kuat mendorong program penanaman padi di Papua, terutama untuk mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar daerah. Selama ini, ketika distribusi terganggu atau harga beras naik, masyarakat Papua ikut merasakan dampaknya. Selain itu, pola konsumsi masyarakat juga terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak mengonsumsi sagu dan umbi-umbian, kini nasi mulai menjadi makanan sehari-hari, khususnya di wilayah perkotaan seperti Jayapura, Timika, dan Sorong. Kondisi tersebut membuat kebutuhan beras di Papua terus meningkat setiap tahun.

Di sisi lain, Kristhina mengakui beberapa wilayah di Papua memiliki potensi untuk pengembangan pertanian skala besar, salah satunya Merauke yang selama ini dikenal sebagai calon lumbung pangan di kawasan timur Indonesia. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar mampu atau tidaknya Papua menanam padi, melainkan apakah pembangunan tersebut benar-benar sesuai dengan kondisi alam dan kebutuhan masyarakat adat.

“Tidak semua wilayah Papua cocok untuk sawah. Banyak daerah terdiri dari pegunungan, rawa, dan hutan adat yang memiliki karakteristik berbeda dengan Pulau Jawa atau Sumatera. Ketika pendekatan pembangunan disamaratakan, masyarakat merasa program itu lebih menyerupai pemaksaan daripada solusi,” katanya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Ramai Pastikan Persipura Siap Promosi ke Liga 1

Menurut Ramai, program latihan yang telah dijalani tim, baik saat pemusatan latihan di Jayapura maupun…

9 hours ago

Lagi, Kapal Nelayan  Indonesia Ditangkap Otoritas PNG

Otoritas Perikanan Nasional Papua Nugini (National Fisheries Authority/NFA) bersama Imigrasi Papua Nugini kembali menangkap kapal…

10 hours ago

Pengamanan di Lokasi Pengungsian Diperketat

Pemerintah Kota Jayapura akan memperketat pengawasan di lokasi pengungsian warga terdampak kebakaran di Kelurahan Mandala,…

11 hours ago

Cek Langsung Siswa di Pengungsian, Galang Bantuan Sukarela dari Orang Tua Murid

Polres Merauke bersama Densus 88 Antiteror memperkuat sinergi dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme dan…

12 hours ago

152.319 Anak di Papua Tercatat Tidak Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Marthen Medlama mengatakan data tersebut perlu divalidasi terlebih dahulu untuk…

13 hours ago

Boaz Dukung Peminjaman Markus ke PSS Sleman

Pemain senior sekaligus legenda Persipura Jayapura, Boaz Solossa, memberikan dukungan penuh atas langkah klub meminjamkan…

14 hours ago