Ia juga menyoroti kekhawatiran terhadap semakin terpinggirkannya pangan lokal Papua seperti sagu, petatas, dan keladi. Menurutnya, pangan lokal bukan hanya sumber makanan, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat adat Papua.
“Ketika pemerintah terlalu fokus pada beras, muncul kesan bahwa pangan lokal dianggap kurang modern. Padahal sagu telah terbukti menopang kehidupan masyarakat Papua sejak lama,” ujarnya.
Karena itu, Kristhina menilai modernisasi pertanian tidak boleh mematikan identitas pangan lokal. Pemerintah diminta tetap melindungi dan mengembangkan pangan khas Papua sebagai bagian dari ketahanan pangan daerah. (rel/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Kesemutan terjadi ketika saraf mendapatkan tekanan dalam waktu lama atau aliran darah ke saraf terhambat.…
Warga mengenal lokasi tersebut sebagai Taman Baca Masyarakat (TBM) Cahaya. Bukan sekadar tempat meminjam buku,…
Bukan hanya diduga melanggar beberapa aturan sekaligus, dia juga dijerat dengan beberapa pasal berbeda. ”Pasal…
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu menjelaskan, mekanisme pengambilalihan perkara telah diatur dalam…
Pengusutan perkara juga tidak seharusnya dianggap sebagai upaya melemahkan institusi strategis negara. Penegakan hukum yang…
Penutupan Selat Hormuz menjadi eskalasi paling serius dalam konflik kedua negara dan berpotensi mengguncang pasar…