

Salah satu anak usia dini ikut mengumpulkan sampah plastic yang berada di pinggiran pantai di Kampung Kayu Batu, Sabtu (7/12). Pemerintah diminta lebih tegas dalam isu sampah dan lingkungan. (Ikbal For Cepos)
JAYAPURA – Aksi pembersihan bibir pantai yang berada di Kampung Kayu Batu pada Sabtu (7/12) melibatkan sejumlah komunitas lingkungan dan pemuda karang taruna serta anak-anak setempat. Dari aksi pembersihan pantai itu terungkap jika masyarakat di Kampung Kayu Batu juga mengeluhkan banyaknya nyamuk akibat sampah yang masuk lewat perairan laut.
Alhasil tak sedikit warga yang terkena malaria. Aksi pembersihan sampah dini digagas secara kolaborasi oleh Blue Ocean, Komunitas Gerakan Aksi Hijau Alam Rumah Papua (GAHARU), Rumah Bakau Jayapura, dan Gren Leadership Indonesia Kementrian Lingkungan Hidup. Disini terlihat laju sampah makin tak terkendali dan telah memberi dampak pada penduduk di pesisir.
Tak hanya bagi kesehatan tetapi juga ekosistem perairan laut. Dan kegiatan pembersihan sampah di pantai ini lebih pada bagaimana memproteksi kawasan perairan yang juga dimanfaatkan oleh manusia untuk mencari atau melaut.
Koodinator Rumah Bakau Jayapura, Ikbal Asra mengungkapkan bahwa para pegiat lingkungan akan terus mengingatkan warga dengan cara anak muda sekaligus meminta pemerintah lebih tegas dalam penerapan regulasi yang berkaitan tentang sampah.
Ia menyebut bahwa hingga kini pemerintah terlihat belum benar-benar melaksanakan kebijakan terutama sanksi bagi mereka yang kedapatan melanggar jadwal buang sampah termasuk pengelolaan sampah yang menurutnya masih lemah.
Masyarakat dengan tipe konsumtif hanya memahami bagaimana mendapatkan produk dan meninggalkan kemasannya menjadi sampah.
“DPR juga dalam fungsi pengawasannya tidak memuaskan. Kami jarang mendengar DPR berbicara soal bagaimana penanganan sampah dengan melihat karakter warga seperti sekarang. Itu belum persoalan di tempat pembuangan akhir (TPA) yang hari tahu ke tahun masih menyimpan persoalan akibat terbatasnya sarana prasarana sementara timbulan sampah terus menggunung.
Dari pemilahan, pengolahan atau sistem daur ulannya juga belum terintegrasi dengan baik. Ia juga menyinggung soal perusahaan yang menjadi penyuplai kemasan plastic sekali pakai.
“Para perusahaan ini juga belum mengambil tanggungjawab terhadap produk mereka yang akhirnya menjadi limbat dan menjadi persoalan lingkungan. Harusnya tidak hanya menciptakan produk tapi bagaimana ada tanggungjawab perusahaan atas produk yang dihasilkan,” bebernya.
“Mengapa tidak membatasi atau beralih model bisnis yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan,”tutur Ikbal.
Page: 1 2
Persipura kini berada pada posisi keempat dengan raihan 40 poin, mereka memiliki poin sama dengan…
Berdasarkan pantauan di lapangan, penumpang yang tiba masih didominasi oleh masyarakat lokal Papua. "Penumpang paling…
Persipura dijadwalkan menjamu Deltras FC di Stadion Mandala Jayapura pada Sabtu (28/3). Meskipun memiliki sejarah…
Massa berkumpul untuk menunggu dibukanya toko pembelian emas di kawasan tersebut guna menjual hasil dulang…
Mantan Kepala Distrik Waan, Kabupaten Merauke itu mengungkapkan, AKI 3 mobil yang dicuri tersebut yakni…
‘’Sampai hari ini, kami belum menerima adanya keberatan dari perusahaan terkait ketidakmampuan dalam membayarTHR idul…