

Suasana Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Wilayah Mamta-Tabi Tahun 2026 yang berlangsung di Hotel Suni Sentani, Rabu (7/10). (foto:Yohana/Cepos)
SENTANI – Gubernur Papua Mathius Fakhiri berharap Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Wilayah Mamta-Tabi Tahun 2026 tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi mampu menghasilkan rekomendasi konkret, terutama terkait batas wilayah adat dan penyelesaian persoalan hak ulayat.
Menurut Fakhiri, konferensi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali nilai-nilai adat dan budaya yang mulai dilupakan oleh generasi saat ini.
Ia mengatakan, selama ini pemerintah kerap dihadapkan pada berbagai persoalan adat dan budaya yang bersinggungan dengan kebijakan pembangunan. Kondisi tersebut terkadang menimbulkan persoalan karena belum adanya titik temu antara pemerintah dan masyarakat adat.
“Kami pemerintah banyak dibuat sibuk dengan persoalan adat dan budaya. Banyak hal yang selalu bertabrakan dan beririsan dengan pemerintah sehingga belum memiliki titik temu,” ujar Fakhiri, Rabu (7/10).
Karena itu, ia berharap konferensi tersebut tidak hanya memperkuat kelembagaan Dewan Adat, tetapi juga menghasilkan kejelasan mengenai batas-batas wilayah adat serta tatanan adat yang berlaku di setiap wilayah.
Pemain Persipura Jayapura, Rafael Sunuk meminta seluruh masyarakat Papua maupun pecinta Persipura untuk tetap memberikan…
Kebijakan ini diambil menyusul kabut asap dan kondisi kualitas udara yang berpotensi membahayakan kesehatan serta…
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya Rudi Aibesa, S.KM, M.Kes menyatakan pelatihan yang melibatkan dokter…
Melalui kebijakan baru ini, setiap warga yang sudah terdaftar berhak membeli minyak tanah hingga 20…
Seorang mahasiswa berinisial ND (27) ditemukan meninggal dunia di kawasan Pasar Lama Sentani, Kabupaten Jayapura,…
Pemerintah Kabupaten Merauke memperkuat langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemetaan wilayah rawan…