Categories: METROPOLIS

Nama Jembatan dan Stadion Kedepankan Kearifan Lokal

Salah satu ikon Papua yakni Stadion Papua PON 2020 tengah dalam proses finishing. Pemberian nama Jembatan merah di teluk Youtefa,  Stadion PON 2020 di Kampung Harapan dapat mengedepankan nama kearifan lokal.( FOTO : Gamel/cepos )

JAYAPURA –  Polemik soal penamaan jembatan merah yang berada di ujung Pantai Hamadi hingga Kampung Engros rupanya belum tuntas. Meski Pemkot telah bersepakat untuk menamakan jembatan tersebut menjadi jembatan Youtefa  namun usulan lain masih bermunculan. Yang terakhir dari dua anggota DPR Papua, Yarius Balingga dan Yonas Nussy. Keduanya mengusulkan untuk menamakan jembatan tersebut menjadi jembatan Lukas Enembe. 

 Pertimbangannya adalah jembatan ini dibangun di era kepemimpinan Lukas Enembe sehingga dianggap layak untuk mendedikasikan sebuah capaian pembangunan yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk bisa dikenang. Hanya kata Yarius Balingga penamaan tersebut masih berupa usulan sedangkan untuk kepastiannya perlu ditetapkan dalam sebuah kesepakatan bersama. “Pikiran kami seperti itu, karena jembatan ini dibangun dalam era pak Lukas makanya kami pikir sah-sah saja usulan ini,” jelas Yarius Balingga, Senin (1/4) kemarin. 

 Politisi Partai Demokrat ini menyebut bahwa saat ini ada tiga pekerjaan besar yang sedang berjalan. Pertama, gedung negara, kedua jembatan merah dan ketiga stadion di Kampung Harapan. Yarius bahkan mengusulkan agar nama stadion juga bisa menggunakan nama pemimpin saat memimpin. “Kalau gedung negara tetap saja seperti itu tapi   untuk stadion di Kampung Harapan dan jembatan ini yang kami usul menjadi Lukas Enembe,” imbuhnya. Terkait usulan ini, pengamat sosial politik Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung berpendapat soal penamaan diharapkan tetap menghormati  tempat dimana bangunan tersebut berdiri dengan mengedepankan nama yang berkearifan lokal.

 “Kalau diusulkan menjadi nama Lukas Enembe  pertanyaan saya apa tujuan menamakan jembatan dan stadion menjadi Lukas Enembe. Jika jembatan ini ada di pegunungan tengah saya pikir tidak masalah tapi mari berikan kesempatan dan penghargaan terhadap  masing-masing wilayah adat untuk menonjolkan kearifan dan wilayah adatnya masing-masing,” kata Yaung. Ia menyebut ada lima wilayah adat dan masing-masing punya identitas dan kearifan lokalnya masing-masing sehingga jangan karena kepentingan politik atau kelompok akhirnya merusak tatanan sosial  adat. 

 “Jembatan ini ada di wilayah Tabi dan sudah disepakati menjadi jembatan Youtefa  yang sesuai dengan kearifan lokal setempat dan menjadi kebanggaan bagi kami dan masyarakat yang tanahnya digunakan untuk pembangunan di lokasi tersebut. Disitu juga ada sejarah  sebagai lokasi masuknya injil jadi kembalikan saja ke masyarakat di Port Numbay soal nama ini,” pungkasnya. (ade/wen)  

newsportal

Recent Posts

OPD Diingatkan Jangan Kerja Ketika Injury Time

Ia menargetkan seluruh kegiatan dan program dapat terealisasi hampir seluruhnya sebelum memasuki akhir tahun. Bahkan,…

9 hours ago

Selecao Wajib Waspadai Singa Atlas

Timnas Brasil akan menghadapi Timnas Maroko pada laga perdana Grup C Piala Dunia 2026 di…

9 hours ago

Gunakan Sebo Buff, Delapan Anggota OPM Cium Merah Putih

Delapan orang yang disebut sebagai anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap…

10 hours ago

Disosialisasikan, Rencana Pembangunan Bandar Antariksa Mendapat Dukungan

Selain itu, juga disepakati hasil sosialisasi ini akan ditindaklanjuti dalam penantanganan nota kesepahaman antara masyarakat…

10 hours ago

Pendistribusian BBM Diawasi Polisi

Publik juga khawatir dari kenaikan ini justru ada upaya mencari keuntungan sepihak termasuk menerapkan cara-cara…

11 hours ago

Belum Ada Razia Lagi, Kendaraan Modifikasi Tangki Kembali Ikut Antrian Pengisian BBM

Pengelola APMS Lasminingsih dan Anwarudin Wamena, Suyono mengaku sebenarnya kalau dikatakan pembiaran itu tidak, sebab…

11 hours ago