Categories: FEATURES

Papua, “Dikelilingi” Pengungsi, Rasisme dan Kekerasan

‘Nyanyian Sunyi’ Mengantarkan Esther Haluk Meraih Penghargaan Dermakata Award 2024

Kegemarannya membaca dan menulis di buku diary sejak duduk di bangku sekolah dasar, lalu menempuh pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, jurusan Pendidikan dan Sastra Inggris. Membuatnya mahir dalam merangkai setiap kata-kata hingga kemudian meraih penghargaan. Seperti apa ‘Nyanyian Sunyi’ yang ditulisnya ?

Laporan – Elfira

Belum lama ini, Papua menjadi perbincangan di kalangan penulis atau sastrawan. Bukan karena kekayaan alamnya, atau konflik bersenjata yang kerap terjadi hingga menewaskan sipil atau aparat.

Melainkan, memperbincangkan tentang seorang perempuan Papua bernama Esther Haluk yang mendapat penghargaan Dermakata Award 2024 kategori fiksi, berkat karya monumentalnya ‘Nyanyian Sunyi’ yang menyuarakan suara orang terpinggirkan di Papua.

Di buku dengan tebal 95 halaman berisikan 92 puisi, Esther tidak hanya menulis, tetapi menyuarakan mereka yang terpinggirkan. Karyanya mengangkat isu hak perempuan dan diskriminasi, menjadikan sastra sebagai medium advokasi.

Judul puisinya beragam, ada Nyanyian Sunyi, Sejarah Yang Gelap, Cantik Itu Luka, Pelacur Terhormat dan judul lainnya.

Perempuan yang menempuh pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga jurusan Sastra Inggris awalnya mengaku sempat tak percaya diri dengan hasil tulisan yang ia rangkum sejak 2018.

Namun, berkat dorongan Aprila Wayar novelis perempuan pertama dari Papua. Maka lahirlah buku ‘Nyanyian Sunyi’

“Saya awalnya pesimis, sempat tak percaya diri dan takut jika tak ada orang yang membaca tulisan saya. Namun, berkat dorongan dan dukungan dari novelis Papua Aprila Wayar, maka lahirlah buku ini,” ucap Esther selaku Koordinator dari West Papua Feminist Forum ini, kepada Cenderawasih Pos, Minggu (22/12).

Nyanyian Sunyi merupakan buku perdananya yang langsung menyabet penghargaan, yang setiap bait puisi mewakili momentum-momentum khusus kejadian yang pernah terjadi di Papua.

“Pengungsi, rasisme dan kekerasan. Semua tertuang dalam bait-bait puisi saya,” ucap perempuan asal Agamua, Wamena ini.

“Kebanyakan puisi saya menceritakan situasi Papua, membaca Papua di dalam puisi. Apa yang saya rasa sebagai orang Papua, apa pendapat saya tentang situasi yang terjadi saat ini,   itu yang saya tulis dalam buku ini,” ujarnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Indonesia Butuh Keseimbangan Antara Pertumbuhan dan Stabilitas

Dua akademisi ekonomi asal Papua turut memberikan ulasan komprehensif mengenai latar belakang, dampaknya terhadap pasar…

1 hour ago

Transaksi Sabu 12,35 Gram Lewat Ekspedisi Digagalkan

   IG diamankan saat mengambil sebuah paket yang sebelumnya telah dicurigai petugas berisi narkotika di…

2 hours ago

Pendapatan Naik Rp78 Miliar, Belanja Bertambah Rp83 Miliar

   Rapat paripurna tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pembahasan perubahan APBD sekaligus momentum…

3 hours ago

Perubahan Kehidupan Setelah Menerima Injil, Membuat Ondoafi Skouw Tergerak Hatinya

  Bukan sekadar tentang usia sebuah kampung, tetapi tentang sebuah benih iman yang pertama kali…

4 hours ago

56 BLUD di Tanah Papua, Baru 4 Punya Regulasi Fleksibilitas PBJ

Data tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Strategi dan Kebijakan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)…

5 hours ago

Sidak Kelurahan Waena, Penyaluran Bansos Hingga Lingkungan Jadi Atensi

  Salah satu perhatian utama Rustan adalah penyaluran bansos yang dinilai masih belum sepenuhnya tepat…

9 hours ago