Puisi yang berjudul ‘Nyanyian Sunyi’ liriknya seperti ini: Tulis saja lirik tembang dukamu di lembaran kertas bisu. Jika suaramu hanya menghantam tuli, menggeser hati yang membatu karena ketamakan, tikam dan hujamkan belati.
Robek nuraninya dengan penamu, bagi dukamu dengan untaian kata, karena kata adalah senjata terakhirmu.
“Nyanyian Sunyi itu realita Papua, bahwa suara suara kami seperti nyanyian namun nyanyian yang sunyi, yang tidak banyak didengar orang,” ungkapnya.
Dengan penghargaan yang baru saja diraihnya, Esther mengaku ini menjadi energi untuk kemudian melahirkan buku-buku lainnnya ke depannya. Tak hanya puisi, melainkan cerpen dan novel yang sementara ia rangkai setiap katanya.
Baginya, sastra atau tulisan memiliki kekuatan untuk menyuarakan protes ketika ruang-ruang berekspresi semakin dibatasi. Selain itu, tulisan mempunyai efek bertahan lama dan bisa dibaca berulang-ulang.
“Sastra adalah ruang aman bagi seseorang untuk menceritakan kisahnya dengan berimajinasi, menggunakan tokoh fiktif atau menggunakan diksi untuk merangkai realitas dalam kertas-kertas bisu,” ucap pemerhati isu perempuan ini.
Esther suka menulis dan membaca majalah ‘Bobo’ sejak duduk di bangku sekolah dasar di Makassar, Sulawesi Selatan. Tulisannya kala itu tentang puisi hingga cerita anak-anak, sebatas konsumsi pribadi atau dibaca adik-adiknya yang ada di rumah.
Bahkan, ia pernah mewakili sekolahnya mengikuti lomba mengarang. Seusai menuntaskan pendidikan SD di Makassar, lalu SMP ia kembali ke Papua.
“Saya suka menulis di diary sejak SD, entah kenapa saya senang puisi dan suka membaca sejak kecil. Hal-hal itu lantas mempengaruhi saya dan kemudian aktif di beberapa organisasi,” tuturnya.
Menurutnya, banyak anak-anak Papua yang memiliki kemampuan dalam menulis. Hanya saja pemerintah belum memperhatikan talenta-talenta itu.
“Saya pikir pemerintah juga harus mendorong dibagian ini, bagaimana memberikan suport untuk penulis-penulis Sastra Papua. Di Papua, ada komunitas sastra, ini juga perlu diperhatikan pemerintah,” pintanya.(*/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Di balik lembaran berkas perkara yang menumpuk, ada kisah-kisah pilu tentang biduk rumah tangga yang…
Kepolisian Resor (Polres) Mimika tengah menyelidiki kasus penganiayaan berat yang menimpa seorang petugas keamanan swasta…
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua selaku Kepala Operasi (Kaops) Sikat Cartenz 2026, Kombes Pol…
elayanan kesehatan di daerah pedalaman Mimika masih menghadapi tantangan berat akibat keterbatasan fasilitas dan kebijakan…
Pertemuan tersebut membahas rencana pembukaan dan pengembangan lahan pangan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan…
Kepala SMA Negeri 1 Sentani, Kelasina Yanggroseray, meminta para orang tua siswa memahami keterbatasan daya…