Kasus yang paling banyak dilaporkan adalah pencurian kendaraan bermotor. Di sisi lain, polisi juga berhasil mengamankan puluhan kendaraan hasil penjarahan yang ditemukan di beberapa lokasi. Total sudah ada 35 kendaraan diamankan di Polsek Sentani Timur untuk didata dan dicocokkan dengan laporan para korban.
Di dalam Posko Pengaduan, kisah para korban silih berganti terdengar.
Salah satunya datang dari Yulianus, wartawan Tribun Papua yang malam itu bertugas meliput pertandingan. Biasanya ia diperbolehkan memarkir motor di dalam stadion, tetapi karena penonton membludak, panitia meminta semua kendaraan diparkir di luar area stadion.
Ia tetap menjalankan tugas jurnalistiknya hingga malam. Namun saat situasi memanas, ia bersama sejumlah wartawan memilih bertahan di dalam stadion demi keselamatan. Ketika keadaan mulai tenang dan mereka menuju area parkir, motornya sudah hilang.
Yang lebih menyedihkan motor tersebut baru saja dibelinya melalui jalur kredit, belum sampai 3 bulan. Motor tersebut digunakan untuk mendukung pekerjaannya. “Saya sempat kaget dan bingung karena bukan cuma motor saya yang hilang, ternyata banyak kendaraan masyarakat juga ikut dicuri,” katanya.
Yulianus kemudian bolak-balik mendatangi Polsek Sentani Timur dan Polres Jayapura untuk mengurus laporan kehilangan. Antrean panjang di posko membuat proses administrasi berjalan hingga larut malam. Meski begitu, ia akhirnya mendapat kabar baik beberapa hari kemudian. Motornya ditemukan warga dan diamankan polisi.
Di sudut lain posko, Rhut duduk sambil menahan emosi ketika menceritakan nasib mobil keluarganya yang hangus terbakar. Malam itu ia datang bersama orang tua dan dua adiknya untuk mendukung Persipura, tim yang selama ini mereka cintai.
Mereka datang dengan penuh sukacita, membawa tas sekolah anak-anak, dokumen keluarga, hingga perlengkapan kerja sang ibu. Namun semua berubah ketika kerusuhan pecah selepas pertandingan. “Kami hanya bisa melihat mobil terbakar dari jauh karena situasi sangat berbahaya,” ujarnya lirih.
Mobil Toyota Innova milik keluarganya yang selama ini dipakai antar jemput sekolah dan bekerja dari Sentani ke Kotaraja kini tinggal rangka hitam. Meski bersyukur seluruh anggota keluarga selamat, Rhut mengaku trauma dan kecewa.
“Kami datang mendukung Persipura karena cinta. Tapi yang terjadi justru membuat masyarakat sendiri menderita,” katanya dengan penuh kekecewaan.
Cerita serupa juga datang dari Johan, warga Abepura yang menjadi korban pencurian motor saat kerusuhan berlangsung. Malam itu, ketika situasi semakin tidak terkendali, Johan memilih menyelamatkan diri bersama warga lainnya.
Namun setelah kondisi mulai mereda dan ia kembali menuju area parkir di tribun timur, motor yang sebelumnya diparkir sudah raib. “Saat itu saya tidak pikir apa-apa lagi selain menyelamatkan diri. Tapi setelah kembali ke parkiran, motor saya sudah hilang,” ujarnya.
Johan kemudian mendatangi Posko Pelayanan Korban Pasca Kerusuhan di Polres Jayapura untuk membuat laporan polisi. Beberapa hari setelah laporan dibuat, ia mendapat kabar yang tidak disangka.
Pada Selasa (12/5), pihak kepolisian menghubunginya dan memberitahukan bahwa motornya berhasil ditemukan saat razia dan penyisiran kendaraan yang dilakukan Satlantas Polres Jayapura.
“Saya bersyukur sekali meski kondisi motor rusak karena diduga dipaksa oleh pelaku,” katanya.
Pelarangan pemutaran film Pesta Babi di sejumlah daerah dan lingkungan kampus menuai kritik dari kalangan…
Timika dipilih menjadi tuan rumah, menggeser dominasi ibu kota provinsi berkat kelengkapan fasilitas publiknya. Ajang…
ndoafi Kampung Bambar, Distrik Waibu yang juga Ketua Dewan Adat Suku Sentani (DASS), Orgenes Kaway…
Plt Kepala Dinas Kominfo Jayawijaya Imanuel Medlama, S.STP, M.Si menyatakan pemanfaatan hak tayang layanan Informasi…
Menurutnya, sinergi ini menjadi kunci agar kabupaten yang lebih maju dapat menopang daerah yang masih…
Pungutan terhadap tarif sampah yang digagas oleh pemerintah Kabupaten Jayawijaya sebesar Rp 30.000 per bulan,…