Categories: FEATURES

Semangat IWD Mengingatkan Perjuangan Kesetaraan Belum Usai

Eksistensi Perempuan Papua di Tengah Lapisan Kekerasan

Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD). Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa perjuangan menuju kesetaraan gender masih terus berlangsung. Termasuk di wilayah Papua.

Laporan: Elfira-Jayapura

Pada tahun 2026 ini, IWD mengangkat tema “Give To Gain” atau Memberi untuk Mendapatkan. Sebuah gagasan yang sederhana, tetapi mengandung makna mendalam bahwa perubahan lahir dari solidaritas, dari kesediaan untuk memberi perhatian, dukungan, dan ruang bagi perempuan.

Di Papua, peringatan IWD tidak sekadar seremoni tahunan. Bagi banyak perempuan, momentum ini menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali realitas kehidupan mereka yang masih diwarnai berbagai tantangan.

Aktivis sekaligus Perempuan Pembela HAM, Novita Opki, menilai gerakan IWD jika dikaitkan dengan situasi di Papua menunjukkan bahwa perjuangan perempuan di wilayah ini masih terus mencari bentuk yang ideal.

“Gerakan perempuan di Papua sedang mencari bentuk perjuangan yang ideal agar perempuan bisa bebas dalam berbagai sisi kehidupan,” ujarnya, Senin (9/3).

Menurutnya, potret IWD menjadi salah satu pijakan penting yang membangkitkan kembali gerakan perempuan. Gerakan tersebut tidak hanya muncul dalam organisasi atau komunitas, tetapi juga tumbuh melalui langkah-langkah individu.

Saat ini, semakin banyak perempuan muda yang terlibat dalam berbagai aktivitas yang mendukung keadilan bagi perempuan. Keterlibatan generasi muda ini menjadi sinyal bahwa kesadaran untuk memperjuangkan hak-hak perempuan mulai tumbuh kuat di kalangan perempuan Papua.

Namun di balik tumbuhnya gerakan tersebut, tantangan yang dihadapi perempuan Papua masih sangat kompleks. “Hingga kini, dukungan terhadap perlindungan perempuan dinilai belum sepenuhnya hadir, baik dari lingkungan sosial maupun institusi yang seharusnya memberikan jaminan keamanan. Salah satu penyebabnya adalah konstruksi budaya patriarki yang masih kuat memengaruhi kehidupan masyarakat,” katanya.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Demo Tolak MBG Serentak Disinyalir Terorganisir

Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menduga aksi yang berlangsung di sejumlah daerah tersebut tidak…

21 minutes ago

Kericuhan di Pelabuhan, KM Gunung Dempo Pilih Tunda Berlabuh

Saat kapal dalam perjalanan menuju  Jayapura, tiga penumpang ini diketahui merokok di dalam kapal, tepatnya…

1 hour ago

Gereja Membela Harkat dan Martabat Manusia, Jangan Dinilai Gerakan Politik Praktis

   Mofu mengungkapkan bahwa HONAI dibentuk sebagai ruang bersama untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan, terutama…

13 hours ago

Dorong Penyelesaian Hukum, Jangan Biarkan Pemalangan Jadi Kebiasaan

   Menurutnya, setiap penggunaan tanah masyarakat adat untuk kepentingan umum seharusnya telah melalui proses yang…

21 hours ago

Polisi Ungkap Hasil Labfor Pecahan Botol di Komnas HAM

   Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Papua, Kombes Pol Parasian H. Gultom, mengungkapkan bahwa…

22 hours ago

Siapkan Konsolidasi Besar Masyarakat Adat Tabi-Mamta

  Pertemuan yang dikemas dalam bentuk sidang pleno ini menjadi momentum penting untuk merumuskan agenda…

1 day ago