Categories: FEATURES

Semangat IWD Mengingatkan Perjuangan Kesetaraan Belum Usai

Selain itu, kondisi geografis Papua yang luas dan banyak wilayahnya sulit dijangkau juga menjadi hambatan tersendiri dalam memastikan perempuan memperoleh akses terhadap keadilan dan perlindungan hukum.

Situasi ini semakin rumit bagi perempuan yang tinggal di wilayah konflik. Di daerah tersebut, perempuan tidak hanya menghadapi tekanan psikologis akibat konflik, tetapi juga berbagai bentuk kekerasan lain, seperti kekerasan domestik maupun kekerasan tidak langsung.

Menurutnya, tema “Give To Gain” pada IWD tahun ini juga mengajak semua pihak untuk memperkuat solidaritas dan kolaborasi. Melalui semangat itu, masyarakat diharapkan dapat melihat kembali peran penting perempuan dan membuka ruang yang lebih luas bagi mereka di berbagai sektor kehidupan.

“Bagi perempuan Papua, persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kekerasan. Mereka juga harus berhadapan dengan berbagai kebijakan pembangunan yang kerap berdampak pada ruang hidup masyarakat,” ungkap perempuan yang aktif menyuarakan soal isu perempuan.

Sejumlah wilayah investasi, termasuk proyek strategis nasional (PSN), serta daerah konflik yang sering direspons dengan pendekatan militeristik, dinilai turut memengaruhi kehidupan perempuan.

Ia menilai, kehadiran militer di wilayah konflik maupun daerah investasi sering kali memberi dampak langsung terhadap kehidupan perempuan di wilayah tersebut. Konflik yang terjadi juga memicu gelombang pengungsian. Namun hingga kini, perlindungan terhadap perempuan yang terdampak konflik dinilai masih minim.

Foto boks RoriFoto boks Rori
Rori Marwani Ehaa

“Pendekatan yang digunakan negara dalam menangani konflik di Papua lebih menekankan pada aspek keamanan dibandingkan pendekatan humanis. Karena itu, berbagai pihak menilai perlunya keberpihakan negara yang lebih kuat dalam menjamin keamanan serta perlindungan perempuan Papua, terutama di wilayah konflik,” katanya.

Selain persoalan konflik, perempuan Papua juga menghadapi ancaman terhadap ruang hidup mereka. “Bagi masyarakat Papua, tanah bukan sekadar sumber ekonomi. Tanah memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Tanah sering diibaratkan sebagai “mama” yang memiliki rahim untuk menghidupkan manusia”

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Bekerja Bukan Lagi Soal Ideal, Tapi Kebutuhan yang Tak Bisa Ditunda

Di Papua, peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei tidak hanya menjadi…

23 hours ago

Janji Besar Prabowo di May Day 2026

Pernyataan tersebut menjadi pembuka dari sederet kebijakan dan program yang diklaim akan meningkatkan kesejahteraan pekerja…

23 hours ago

DPRK Jayawijaya Sidak Dinsos dan RSUD Wamena

Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Jayawijaya melalui Komis C melakukan Sidak ke Dinas Sosial untuk…

24 hours ago

Proposalnya Ditolak ITS, Eh Malah Raih S3 di Berlin

Setahun berikutnya, ia menuntaskan S2 di jurusan Informatika dari kampus yang sama pada 2013. Sejak…

1 day ago

Efisiensikan Biaya Operasional Penerbangan, Trigana Batasi Penerimaan Barang Cargo ke Wamena

Aviasi Penerbangan Trigana Air Service saat ini sedang melakukan efisiensi biaya operasional penerbangan yang cukup…

1 day ago

Pemprov Papua Selatan Bentuk Forum Energi Daerah

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan menggandeng Global Green Growth Institute (GGGI) dan para pemangku kepentingan…

1 day ago