Categories: FEATURES

Ketergantungan Masyarakat Adat Terhadap Hutan Terancam Akibat Perubahan Iklim

Melihat Kajian Analisis  Dampak Perubahan Iklim di Kampung Yenggu Lama Distrik Nimboran

Dampak perubahan  iklim diyakini dapat merugikan masyarakat dalam hal mempertahankan sumber daya alam yang berkelanjutan. Yayasan Pelestarian Alam (Yapal) Papua mencoba menganalisi. Apa hasilnya?

Laporan: Yohana-Rhepang Muaif

Kampung Yenggu Lama, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, merupakan bagian dari wilayah Komunitas Adat Yano Akrua yang menjaga Hutan Adat Ku Defeng Akrua seluas 2.226 hektar.

Hutan ini ditetapkan sebagai hutan adat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2022. Namun, wilayah hutan adat ini juga termasuk dalam Hak Guna Usaha (HGU) PT. Permata Nusa Mandiri seluas 10.370 hektar sejak 2018. Hingga Agustus 2024, HGU tersebut masih tercatat aktif menurut ATR/BPN, dengan pembukaan lahan yang terus berlangsung di area sekitar hutan adat.

Dampaknya jelas, bahwa perubahan iklim  salah satu pemicunya adalah penggundulan hutan. Menurut (UNFCCC, 1992) terjadinya perubahan iklim adalah akibat dari aktivitas manusia, baik secara langsung dan tidak langsung yang mengubah keseluruhan sistem iklim secara global.

Komposisi sistem iklim yang berubah mencakup atmosfer, hidrosfer, geosfer dan interaksi diantaranya deforestasi dan degradasi hutan sampai saat ini masih menjadi penyebab utama laju perubahan iklim selain dari faktor penggunaan energi fosil.

Badan Pengurus YAPAL, Fientje Jarangga mengatakan hutan membantu penyerapan unsur karbondioksida yang ada di atmosfer dan mendaurnya dengan proses alami sehingga suhu bumi yang stabil dapat dipertahankan dan tidak mengalami perubahan signifikan dalam rentang waktu pendek.

(IPCC, 2019 p.17) menyebutkan bahwa perubahan iklim akan mengakibatkan tekanan tambahanpadalahan, risikokehilanganmatapencaharian,hilangnya keanekaragamanhayati, perubahan sistem pangan, kesehatan manusia dan ekosistem di bumi serta berdampak pada infrastruktur.

(The World Bank, 2010) menyebut mereka yang termasuk dalam kelompok rentan adalah yang masih bergantung penuh dan secara langsung dengan mata pencaharian terkait iklim seperti pertanian, hasil hutan dan perikanan. Selain kehilangan mata pencaharian, mereka yang terdampak juga akan kehilangan sumber – sumber pangan.

Dengan demikian menurut Fientje  salah satu kelompok paling rentan yang akan mengalami krisis kehilangan mata pencaharian dan kekurangan pangan karena perubahan iklim adalah masyarakat adat.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Indonesia Butuh Keseimbangan Antara Pertumbuhan dan Stabilitas

Dua akademisi ekonomi asal Papua turut memberikan ulasan komprehensif mengenai latar belakang, dampaknya terhadap pasar…

15 hours ago

Transaksi Sabu 12,35 Gram Lewat Ekspedisi Digagalkan

   IG diamankan saat mengambil sebuah paket yang sebelumnya telah dicurigai petugas berisi narkotika di…

16 hours ago

Pendapatan Naik Rp78 Miliar, Belanja Bertambah Rp83 Miliar

   Rapat paripurna tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pembahasan perubahan APBD sekaligus momentum…

17 hours ago

Perubahan Kehidupan Setelah Menerima Injil, Membuat Ondoafi Skouw Tergerak Hatinya

  Bukan sekadar tentang usia sebuah kampung, tetapi tentang sebuah benih iman yang pertama kali…

18 hours ago

56 BLUD di Tanah Papua, Baru 4 Punya Regulasi Fleksibilitas PBJ

Data tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Strategi dan Kebijakan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)…

19 hours ago

Sidak Kelurahan Waena, Penyaluran Bansos Hingga Lingkungan Jadi Atensi

  Salah satu perhatian utama Rustan adalah penyaluran bansos yang dinilai masih belum sepenuhnya tepat…

23 hours ago