Categories: FEATURES

Ketergantungan Masyarakat Adat Terhadap Hutan Terancam Akibat Perubahan Iklim

Kegiatan ini diharapkan menjadi dasar program lanjutan yang memperkuat ketahanan ekologis, sosial, dan ekonomi masyarakat adat di Kampung Yenggu Lama termasuk mendorong kolaborasi para pihak di masa depan

Yayasan Pelestarian Alam (Yapal) Papua melakukan analisis dampak iklim, guna menjdi  langkah awal untuk mendukung masyarakat adat Yano Akrua dalam menghadapi perubahan iklim melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan pemberdayaan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.

Penelitian tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2024 lalu, dan kampung Yenggu Lama, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, menjadi fokus penting karena masyarakat adat Yano Akrua memiliki hubungan erat dengan Hutan Adat Ku Defeng Akrua, yang telah ditetapkan sebagai hutan adat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2022.

Namun, tantangan seperti tumpang tindih perizinan HGU dan pembukaan lahan mengancam keberlanjutan ekosistem serta kehidupan masyarakat adat. Kajian yang dilakukan oleh Yapal ini bertujuan untuk menghasilkan data berbasis indikator SDGs, meningkatkan kesadaran akan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta mempromosikan diversifikasi pangan lokal, pelestarian budaya adat, dan pengembangan ekonomi melalui praktik berkelanjutan dan ekowisata berbasis komunitas.

Fientje menjelaskan bahwa dengan penelitian yang dilakukan tujuannya dapat menganalisis kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan di Kampung Yenggu Lama, berdasarkan indikator pembangunan berkelanjutan pada tujuan tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, pendidikan, kesetaraan gender, akses air bersih, energi bersih dan terjangkau, kesenjangan sosial, penanganan perubahan iklim, ekosistem daratan, dan kemitraan.

Itu termasuk mengetahui pemahaman masyarakat kampung Yenggu Lama mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan mereka serta upaya adaptasi & mitigasinya, termasuk penerapan praktik-praktik kearifan lokal.

“Dan mengetahui pemanfaatan keanekaragaman pangan lokal dan peluang diversifikasi mata pencaharian berdasar potensi sumber daya alam di kampung Yenggu Lama,” katanya kepada Cenderawasih Pos, Kamis (30/1).

“Kami berharap laporan ini dapat menjadi dasar yang kokoh untuk program lanjutan, penelitian, dan upaya strategis lainnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat, melestarikan keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, demi generasi mendatang,” bebernya.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Diambil dari Nama Suku yang Punah Karena Kebakaran Hebat, Kini Menyimpan Banyak Cerita Legenda

Membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Jayapura. Setelah tiba di Danau Emfotte, pengunjung…

4 days ago

Distrik Manggelum Kondusif, 88 Warga Dipulangkan

Rilis yang diperoleh dari Humas Polres Boven Digoel menyebutkan, pelepasan dilaksanakan di Pelabuhan Tanah Merah…

4 days ago

De Oranje Butuh Kemenangan

Swedia datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah mencatat kemenangan telak pada laga pembuka, sementara Belanda…

4 days ago

Kejari Mimika Hentikan Penuntutan Kasus Penganiayaan Lewat Restorative Justice

Perselisihan menajam setelah KS menolak membayar karena menganggap seluruh kewajibannya telah lunas. Ketegangan tersebut memuncak…

4 days ago

Jadi Satu Kebanggaan Melihat Anak-anak Tumbuh Jadi Pribadi yang Mandiri

Keharuan memuncak saat para siswa satu per satu berjalan ke depan untuk menerima tanda kelulusan.…

4 days ago

Dukung Kontingen Pesparawi, Pemkab Jayawijaya Beri Bantuan Rp.200 Juta

Bupati Jayawijaya Atenius Murip, SH, MH mengatakan jika, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya memiliki kepedulian besar terhadap…

4 days ago