Categories: EKONOMI BISNIS

Industri Kayu di Papua Kesulitan Bahan Baku

Pimpinan Komisi IV DPR RI Michael Watimena ditemani Direktur PT. Mansinam Global Mandiri  sekaligus Ketua Indonesia Sawmil Woods Asosiation (ISWA) Papua Daniel Garden saat meninjau pabrik pengolahan kayu PT. Mansinam yang telah siap diekspor, belum lama ini.(FOTO : Yohana/Cepos)

Jumlahnya Terbatas dan Harganya  Mahal

JAYAPURA – Direktur PT. Mansinam Global Mandiri  sekaligus Ketua Indonesia Sawmil Woods Asosiation (ISWA) Papua Daniel Garden mengatakan, selama bertahun-tahun industri perkayuan khususnya skala kecil dan menengah yang tumbuh besar di Papua harus berusaha sendiri dan bertumbuh tanpa adanya dukungan pendanaan dari instansi keuangan.

 Bahkan, kebijakan pemerintah di bidang kehutanan khususnya investasi sektor industri perkayuan selama ini dinilai lebih mengedepankan pendekatan represif yang kaku dan mengesampingkan hak-hak masyarakat adat dan daerah yang diatur dalam UU No 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Papua.

 Permasalahan terbesar dari industri skala kecil dan menengah adalah  ketersediaan bahan baku kayu bulat. ‘’Selama ini kebutuhan bahan baku kami hanya berharap pada HPH yang jumlahnya sangat terbatas dengan penyebaran lokasi yang tidak merata. Selain itu harga kayu dari HPH sangat mahal dan nyaris tidak terjangkau oleh kami,  yang pada dasarnya berhimbas pada tingginya ongkos produksi,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (16/3) kemarin.

 Pihaknya sudah melakukan berbagai upaya mencari alternatif suplay bahan baku, dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan memperhatikan hak-hak masyarakat adat, sebagaimana yang diamatkan oleh UU Otsus, akan tetapi tidak berarti apa-apa.

“Sudah sekitar 4 bulan kami pengusaha industri kayu kecil dan menengah tidak dapat beroperasi. Hal inilah yang mengakibatkan sebanyak 3.000 orang karyawan terpaksa diliburkan. Kami sangat berharap adanya regulasi baru yang dapat meringakan beban kami saat ini,” jelasnya.

 Diakuinya, dengan kondisi ini membuat industri perkayuaan skala kecil dan menengah berada dalam ketidakpastian dalam berinvestasi dan amat mudah terjerat dalam permasalahan hukum karena ketidakpastian regulasi.

“Kami berharap pemerintah, DPR Papua dan pelaku industri perkayuan bisa segera duduk bersama untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada, agar tidak terjadi gejolak masyarakat, mengingat selama ini sebenarnya banyak perizinan yang telah dilaksanakan di provinsi lain tetapi tidak pernah diimplementasikan di Papua,” jelasnya. (ana/ary)

newsportal

Recent Posts

Dokumen Aspirasi Papua Utara Sampai ke DPRP

Kedatangan para tokoh adat dipimpin Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Waropen di Tanah Tabi, Karlos…

2 hours ago

Kamar Bak Apartemen di Lapas Cibinong Bikin Heboh, Ini Temuan Ombudsman

Alih-alih masuk ke blok hunian utama, tim Ombudsman justru menemukan deretan bangunan yang menarik perhatian.…

8 hours ago

Cegah Karhutla Berulang, Prabowo Bentuk Badan Gambut dan Mangrove

Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pencegahan…

9 hours ago

Kualitas MBG Bisa Diratting Bintang 1-5 di Aplikasi

Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan keterlibatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengawasan…

10 hours ago

Banyak Kebun di Kawasan Penyangga Cycloop

Banyak sekali kebun yang dibuat oleh warga. Lokasi yang harusnya ditumbuhi pepohonan besar tiba-tiba berubah…

11 hours ago

Pemprov Papeg Terima Sertifikat KIPP Gunung Susu Seluas 72,5 Hektar

Gubernur Papua Pegunungan, Dr (HC) John Tabo,S.E.,M.B.A, mengatakan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Provinsi Papua…

12 hours ago