Menurutnya, jika mau membuka bisnis kedai kopi asal-asalan, letaknya tidak strategis, tidak miliki jaringan komunitas dan tidak bisa mengelola dengan baik. Maka ini berpotensi akan cepat tutup.
“Yang bukanya karena fear of missing out (Fomo) rasa takut ketinggalan atau tidak ikut serta dalam sesuatu yang sedang tren atau populer atau mau dibilang saja,”imbuhnya.
Fajar mengatakan jika bisnis kedai kopi belum bisa memberikan pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kota Jayapura, beda dengan perhotelan dan restoran karena pemasukannya sudah jelas.
Pasalnya, bisnis ini masih lingkupnya kecil, fasilitas yang disediakan juga masih biasa, beda dengan perhotelan dan restoran. Dimana pengunjungnya adalah menengah ke atas dan ada retribusinya, sedangkan kedai kopi pelanggannya sebatas anak muda dan orang tertentu saja. (dil/fia).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
‘’Ada komitmen bersama untuk membangun bangsa dan negara. Dan juga kehadiran kodim 1707 Merauke tentu…
Kepala Kampung Karya Bumi, Muryani, menjelaskan bahwa lahan pemakaman umum tersebut dibeli dari pemilik tanah…
Pimpinan Cabang Perum Bulog Merauke Karennu ditemui media ini mengungkapkan, di tahun 2025 lalu, pihaknya…
Kapolres Jayawijaya melalui Plt. Kasie Propam Aiptu Frans Risamau hari ini dilakukan Gaktiplin bagi setiap…
“Bapak Presiden bertemu dengan Raja Charles ke-3. Kemudian intinya adalah ada kerja sama dan komitmen…
Bupati Jayawijaya Atenius Murib, SH, MH menyatakan masalah saling serang diantara masyarakat yang dipicu dari…