Menurutnya, jika mau membuka bisnis kedai kopi asal-asalan, letaknya tidak strategis, tidak miliki jaringan komunitas dan tidak bisa mengelola dengan baik. Maka ini berpotensi akan cepat tutup.
“Yang bukanya karena fear of missing out (Fomo) rasa takut ketinggalan atau tidak ikut serta dalam sesuatu yang sedang tren atau populer atau mau dibilang saja,”imbuhnya.
Fajar mengatakan jika bisnis kedai kopi belum bisa memberikan pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kota Jayapura, beda dengan perhotelan dan restoran karena pemasukannya sudah jelas.
Pasalnya, bisnis ini masih lingkupnya kecil, fasilitas yang disediakan juga masih biasa, beda dengan perhotelan dan restoran. Dimana pengunjungnya adalah menengah ke atas dan ada retribusinya, sedangkan kedai kopi pelanggannya sebatas anak muda dan orang tertentu saja. (dil/fia).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Ia menjelaskan, anggaran yang dialokasikan untuk TPP ASN sebesar Rp7,5 miliar, sementara THR mencapai Rp25…
Ketua Bawaslu Papua, Hardin Halidin mengatakan laporan tersebut merupakan bentuk akuntabilitas lembaga pengawas pemilu atas…
Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Matius Pawara, menjelaskan bahwa rumah singgah tersebut disiapkan sebagai tempat…
Juru taktik Persipura, Rahmad Darmawan mengaku puas dengan etos kerja anak asuhnya. Menurutnya, pemusatan latihan…
Karena itu, menurutnya, pelayanan kepada masyarakat harus menjadi fokus utama perusahaan daerah tersebut. “Air bersih…
General Manager Kantor Cabang PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Sentani Jayapura, I Nyoman Noer…