Menurutnya, jika mau membuka bisnis kedai kopi asal-asalan, letaknya tidak strategis, tidak miliki jaringan komunitas dan tidak bisa mengelola dengan baik. Maka ini berpotensi akan cepat tutup.
“Yang bukanya karena fear of missing out (Fomo) rasa takut ketinggalan atau tidak ikut serta dalam sesuatu yang sedang tren atau populer atau mau dibilang saja,”imbuhnya.
Fajar mengatakan jika bisnis kedai kopi belum bisa memberikan pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kota Jayapura, beda dengan perhotelan dan restoran karena pemasukannya sudah jelas.
Pasalnya, bisnis ini masih lingkupnya kecil, fasilitas yang disediakan juga masih biasa, beda dengan perhotelan dan restoran. Dimana pengunjungnya adalah menengah ke atas dan ada retribusinya, sedangkan kedai kopi pelanggannya sebatas anak muda dan orang tertentu saja. (dil/fia).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Untuk menjaring minat generasi muda, Universitas Katolik (UNIKA) Fajar Timur Papua kini gencar melaksanakan program…
Berdasarkan data DLHK Kabupaten Jayapura, produksi sampah di daerah tersebut saat ini mencapai sekitar 70…
Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P Helan, melalui Kasat Reskrim AKP Axel Panggabean, menjelaskan menindaklanjuti laporan…
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Papua-Papua Pegunungan mengeluarkan pemberitahuan kepada seluruh pengguna jalan yang…
Menurut Rustan, dana dan anggaran yang mengalir ke kampung-kampung harus mampu memberikan manfaat nyata bagi…
Ketua DPK-IKAPTK Kota Jayapura, Raymond Mandibondibo, menjelaskan bahwa dana hibah yang diberikan Pemerintah Kota Jayapura…