Menurutnya, jika mau membuka bisnis kedai kopi asal-asalan, letaknya tidak strategis, tidak miliki jaringan komunitas dan tidak bisa mengelola dengan baik. Maka ini berpotensi akan cepat tutup.
“Yang bukanya karena fear of missing out (Fomo) rasa takut ketinggalan atau tidak ikut serta dalam sesuatu yang sedang tren atau populer atau mau dibilang saja,”imbuhnya.
Fajar mengatakan jika bisnis kedai kopi belum bisa memberikan pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kota Jayapura, beda dengan perhotelan dan restoran karena pemasukannya sudah jelas.
Pasalnya, bisnis ini masih lingkupnya kecil, fasilitas yang disediakan juga masih biasa, beda dengan perhotelan dan restoran. Dimana pengunjungnya adalah menengah ke atas dan ada retribusinya, sedangkan kedai kopi pelanggannya sebatas anak muda dan orang tertentu saja. (dil/fia).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Bupati menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi program yang menyentuh kebutuhan…
Dalam tiga hari terakhir, Bupati Yunus Wonda turun langsung meninjau lokasi-lokasi yang terdampak banjir. Dari…
“Forum ini menjadi strategis karena pemerintah daerah menyadari tanggung jawabnya untuk memberikan ruang bagi masyarakat…
Pemerintah Kabupaten Sarmi di bawah pimpinan Bupati Sarmi Dominggus Catue dan Hj.Jumriati bertekad untuk memperbaiki…
“Kita sudah sampaikan ke semua BPBD kabupaten/kota untuk tetap waspada, sekaligus meminta mereka untuk menyampaikan…
Jumlah awak pesawat juga belum dipastikan sepenuhnya karena masih diperiksa lebih lanjut. Namun, petugas melihat…