Menurutnya, jika mau membuka bisnis kedai kopi asal-asalan, letaknya tidak strategis, tidak miliki jaringan komunitas dan tidak bisa mengelola dengan baik. Maka ini berpotensi akan cepat tutup.
“Yang bukanya karena fear of missing out (Fomo) rasa takut ketinggalan atau tidak ikut serta dalam sesuatu yang sedang tren atau populer atau mau dibilang saja,”imbuhnya.
Fajar mengatakan jika bisnis kedai kopi belum bisa memberikan pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kota Jayapura, beda dengan perhotelan dan restoran karena pemasukannya sudah jelas.
Pasalnya, bisnis ini masih lingkupnya kecil, fasilitas yang disediakan juga masih biasa, beda dengan perhotelan dan restoran. Dimana pengunjungnya adalah menengah ke atas dan ada retribusinya, sedangkan kedai kopi pelanggannya sebatas anak muda dan orang tertentu saja. (dil/fia).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Warga setempat menyebut mereka anak jantung kota, sebutan sayang bagi anak jalanan. Mereka tumbuh…
Andi, salah seorang sopir truk yang mengantre solar, mengaku kehadiran personel kepolisian sangat membantu. Menurutnya,…
Sejak tim memulai latihan bersama, Boaz terlihat masih melakukan latihan terpisah di pinggir lapangan dan…
Takuya rencananya akan dipinjamkan ke salah satu kontestan Liga 2. Artinya Persipura mencari pengganti gelandang…
Gelandang Persipura Jayapura, Bima Ragil, dipastikan bertahan dan kembali membela tim untuk musim kompetisi Liga…
Seluruh pihak harus bersama-sama mendorong lahirnya generasi muda yang bangga terhadap identitas dan warisan…