Categories: EKONOMI BISNIS

FTH Sediakan Kerajinan Tangan dari Berbagai Daerah

Salah satu perajin aksesoris dan tas noken yang mengikuti pameran di Festival Teluk Humbold, Selasa (6/8) kemarin. ( FOTO : Yohana/Cepos)

JAYAPURA –Festival Teluk Humbold (FTH) yang digelar selama 3 hari (5-7/8) memberikan kesempatan bagi para perajin di Kota Jayapura untuk dapat memamerkan hasil kerajinan tangan yang diproduksi oleh mama-mama Papua.

 Di sini para pengunjung dapat melihat berbagai kerajinan tangan dari masyarakat Jayapura hingga daerah lainnya seperti Serui, Biak, Wamena dan juga Sentani.  Hampir semua stand yang diundang mengikuti kegiatan menyediakan berbagai produk yang memang merupakan hasil olahan para ibu-ibu rumah tangga.

 Rika salah satu perajin tas noken dan aksesoris di Jayapura mengatakan, dirinya selalu mengikuti kegiatan-kegiatan seperti ini, baik itu Festival Teluk Humbold maupun Festival Danau Sentani. Dirinya merasa sangat terbantu mengingat dengan kegiatan ini masyarakat lebih mudah membeli produk kerajinan.

“Saya menyediakan kerajinan tangan seperti noken benang, noken asli, gelang manik-manik, anting-anting, gantungan kunci dan sebangainya. Setiap harinya saya jualan di rumah, kadang di Pasar Hamadi,” kata Rika kepada Cenderawasih Pos, Selasa (6/8) kemarin.

 Diakuinya, untuk harga yang disediakan, khusus aksesoris seperti anting, gelan, kalung dan gantungan kunci Rp 20 ribu- Rp 50 ribu, tas noken mulai dari benang hingga noken asli Rp 200 ribu – Rp 500 ribu.

Sementara itu Ibu. Mandenas salah satu perajin asal Serui mengakui dalam mengikuti Festival Teluk Humbold pihaknya menyediakan berbagai hasil kerajinan tangan yang dibuatnya sendiri. 

 ‘’Ini merupakan kerajinan khas Serui dan yang lainnya merupakan hasil kerajinan yang dibuat berdasarkan model dan trend saat ini. Khusus untuk noken khas Serui, kami buat dari daun tikar, yang mana satu noken kami hargai Rp 200 ribu. Sedangkan untuk tas rotan dan tempurung kelapa sementara saya masih belajar membuatnya.  Untuk tas rotan dan tempurung kelapa yang saya jual saat ini semuanya dipesan dari Bali saya jual dengan harga Rp 300 ribuan dan untuk noken benang saya buat sendiri harganya mulai dari Rp 300 ribu- Rp 500 ribu,” terangnya.

Diakuinya, untuk bahan baku sebagian besar bahan baku pihaknya datangkan dari Bali, seperti manik-manik untuk pembuatan kalung dan gelang, sedangkan untuk benang beli langsung di Pasar Hamadi, kulit bia diperoleh dari pantai baik itu di Jayapura, Serui dan Sorong. Hal tersebut dilakukan setiap kali dirinya berlibur. (ana/ary) 

newsportal

Recent Posts

Terbukti Lakukan Pungutan, Kepsek Terancam Dicopot

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada pihak sekolah yang…

6 hours ago

Wali Kota Salurkan Bantuan untuk 44 UMKM dan OAP Kurang Mampu

   Wali Kota juga meminta Dinas Sosial Kota Jayapura untuk terus melakukan pemantauan terhadap seluruh…

7 hours ago

Sempat Tegang, Eksekusi Lahan Bukit Jokowi Batal

   Ia menegaskan bahwa eksekusi tidak dapat dilaksanakan apabila lokasi dan luas tanah yang dimaksud…

9 hours ago

Pengembangan Pariwisata Harus Angkat Kearifan Lokal

   Menurut Abisai, kekayaan budaya, adat istiadat, serta tradisi masyarakat adat yang masih terjaga hingga…

10 hours ago

Komisi IV Sayangkan Aset Terbuang Percuma

Menurut Albert, peristiwa tersebut merupakan bentuk kelalaian yang mengakibatkan kerugian bagi daerah. "Aset ini dibeli…

11 hours ago

Akui Peredaran Narkoba Masih Tinggi

Menurut Aflian, keberhasilan pemberantasan narkotika tidak dapat dilakukan oleh aparat kepolisian semata. Dukungan dan partisipasi…

12 hours ago