Categories: NASIONAL

Pelabuhan Jayapura Jadi Tempat Penyelundupan Terbanyak

JAYAPURA – Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBHIT) Papua menegaskan bahwa karantina memiliki peran strategis sebagai sistem pertahanan negara nonmiliter sekaligus instrumen strategis penggerak ekonomi nasional di daerah.

“Sepanjang tahun 2025, BBHIT mencatat capaian signifikan dalam pelindungan sumber daya alam hayati, menjaga ketahanan pangan, serta memperkuat daya saing komoditas dari tingkat daerah hingga nasional.” ungkap Kepala BBHIT, melalui Katimja BBKHIT Papua, Drh. Nyoman Alit kepada Cenderawasih Pos dalam keterangannya tertulisnya, Sabtu (24/2).


Drh. Nyoman Alit (foto:Jimi/Cepos)

Alit menyampaikan bahwa karantina memiliki posisi krusial dalam kedaulatan pangan dengan mendukung swasembada serta menjaga lingkungan dari ancaman hama dan penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan yang dapat berdampak terhadap ekonomi dan sosial.

“Karantina bukan hanya urusan teknis di tempat pemasukan dan pengeluaran. Karantina adalah bagian dari sistem pertahanan yang bertugas melindungi sumber daya alam hayati dan ketahanan pangan nasional dari risiko masuk serta tersebarnya hama penyakit,” jelas alit.

Untuk diketahui sepanjang tahun 2025, BBKHIT Papua telah melakukan 225 tindakan karantina berupa penahanan, penolakan, dan pemusnahan terhadap komoditas berisiko tinggi. Komoditas yang paling sering ditindak berbagai jenis hewan antara lain Burung Cenderawasih, berbagai jenis Nuri, Ayam, bebek, burung Pipit, kucing hingga kangguru.

Dari jenis komoditas tersebut yang paling banyak ditemukan di lapangan oleh BBHIT Papua adalah burung Pipit dengan total (135) ekor. Kemudian Nuri Stella (39) ekor, Ayam (11) ekor dan Kucing (13) ekor. Penahanan itu dilakukan BBKHIT Papua sering terjadi di wilayah pelabuhan laut.

Untuk diketahui penyelundupan ini, terbanyak ditemukan di pelabuhan Jayapura dengan total komoditas sebanyak 220 penindakan, lima (5) terjadi di pelabuhan Biak dan Serui.

“Jumlah penahanan selama tahun 2025 Sebanyak 18 kali, jumlah penolakan selama tahun 2025 sebanyak 1 kali, jumlah pemusnahan selama tahun 2025 sebanyak 7 kali, dan jumlah serah terima MP Satwa liar dan dilindungi 9 kali,” ungkap Alit.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Masih Syok! Sulit Lupakan Kenangan Tinggal di Rumah yang Kini Telah Hangus

  Para ibu tampak lebih banyak berbaring dan beristirahat di dalam tenda. Sementara sejumlah bapak…

17 hours ago

Mitos atau Fakta, Terlalu Banyak Makan Kacang Goreng Bisa Menyebabkan Jerawat?

Pada dasarnya, kacang bukan satu-satunya makanan yang dapat dikaitkan dengan munculnya jerawat. Jerawat dipengaruhi oleh…

18 hours ago

Pemerintah Klaim Pengangguran Turun 4,65%

Dalam acara Kick Off Pelatihan Vokasi Nasional Tahun 2026 Angkatan 4 yang digelar secara hibrida…

19 hours ago

Anggaran Podcast Kemenkop Capai Rp103 Miliar Dipertanyakan

Sorotan tersebut makin menguat lantaran realisasi anggaran tahun 2026 yang sebesar Rp72 miliar dilaporkan baru…

20 hours ago

Malaysia dan Brunei Bawa Kabut Asap Kalimantan ke ASEAN

Malaysia selanjutnya bersiap mengirimkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN. Menteri Luar Negeri Malaysia juga ditugaskan…

21 hours ago

Kepadatan Pengunjung Jadi Tantangan, Sepanjang Jalan rezeki Terus Mengalir

Memang, malam itu, santri asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, ini sedang menjalankan tugas untuk membersihkan sampah,…

22 hours ago