

Direktur Akademi Teknologi Laboratorium Medik Papua, Robby Kayame, saat memperlihatkan alat-alat yang digunakan mahasiswa untuk praktek kuliah, Selasa (19/5).(foto: Elfira/Cepos)
Melihat Keberadaan Akademi Teknologi Laboratorium Medik Papua
Di wilayah pedalaman, penyakit sering datang lebih cepat daripada kemampuan tenaga kesehatan untuk mendeteksinya. Berpijak pada kondisi ini, sejak 2013 almarhum Gubenur Lukas Enembe disebut memberi arahan agar Papua memiliki sekolah khusus yang mencetak tenaga laboratorium medik sendiri. Dua tahun terakhir, kampus yang diinginkan ini pun sudah berjalan.
Laporan: Elfira_Jayapura
Pagi baru saja beranjak di kawasan Dok II, Kota Jayapura. Di Jalan Kesehatan Bhayangkara, sebuah gedung tua bekas Litbangkes masih berdiri tenang di antara lalu-lalang kendaraan dan hiruk-pikuk kota. Dari luar, bangunan berlantai dua itu tampak sederhana. Cat temboknya tak mencolok, tidak ada kemewahan yang langsung memikat mata. Namun dari ruang-ruang laboratorium di dalam bangunan itulah, harapan tentang masa depan kesehatan Papua perlahan sedang dibangun.
Di tempat itu berdiri Akademi Teknologi Laboratorium Medik Papua, kampus yang lahir dari kegelisahan panjang terhadap tingginya angka kematian akibat malaria, HIV/AIDS, tuberkulosis (TB), dan berbagai penyakit infeksi lain di Tanah Papua.
“Kami melihat terlalu banyak orang Papua meninggal karena penyakit yang sebenarnya bisa dideteksi lebih awal,” ucap Direktur Akademi Teknologi Laboratorium Medik Papua, Robby Kayame, Selasa (19/5).
Baginya, persoalan Papua bukan hanya soal rumah sakit atau obat-obatan. Persoalan terbesar justru terletak pada keterbatasan sumber daya manusia laboratorium kesehatan mereka yang bekerja diam-diam di balik meja pemeriksaan darah, lendir, dan sampel penyakit.
“Yang sekarang kita lawan itu virus dan bakteri. Dan yang bisa mengetahui itu adalah tenaga laboratorium,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di Papua, hal ini menjadi sangat penting. Sebab di banyak wilayah pedalaman, penyakit sering datang lebih cepat daripada kemampuan tenaga kesehatan untuk mendeteksinya. Gagasan mendirikan kampus itu sebenarnya sudah muncul sejak 2013. Saat itu, almarhum Lukas Enembe disebut memberi arahan agar Papua memiliki sekolah khusus yang mencetak tenaga laboratorium medik sendiri.
Manajer Persipura, Owen Rahadiyan, mengungkapkan bahwa dirinya telah menjadwalkan pertemuan khusus dengan pelatih yang akrab…
Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 mengamankan seorang pria berinisial YB (34) yang diduga menjabat sebagai…
Ketua LMA Port Numbay George Arnold Awi, menegaskan bahwa Kota Jayapura adalah rumah bersama yang…
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Justice dan Peace menyambut baik putusan majelis hakim Pengadilan Tinggi…
Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Kedai Kopi One Milly, kawasan Skylan, Kota Jayapura, Selasa…
LBH Papua menilai operasi penyisiran aparat keamanan di sejumlah wilayah Kabupaten Dogiyai setelah peristiwa tersebut…