Namun seperti banyak rencana besar lain di Papua, ide itu sempat lama tertahan. Baru pada 2021 hingga 2022, gagasan tersebut benar-benar diwujudkan. Kampus mulai beroperasi dengan fasilitas seadanya, tetapi membawa cita-cita besar yaitu melahirkan tenaga kesehatan yang mampu melawan penyakit dari akar persoalannya.
“Kampus ini dibangun untuk menjawab masalah kesehatan di Papua yang belum selesai-selesai,” ungkap mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Kini, dua tahun berjalan, kampus itu mulai dipenuhi anak-anak muda dari berbagai pelosok Papua. Ada yang datang dari Nabire. Ada dari Boven Digoel. Ada pula mahasiswa dari Tolikara, Asmat, Mappi, hingga Pegunungan Bintang.
Mereka datang membawa mimpi yang hampir sama yaitu ingin pulang dan membangun daerahnya sendiri. Di ruang-ruang kelas sederhana itu, mereka belajar mengamati bakteri, mengenali virus, memeriksa darah, hingga memahami bagaimana sebuah penyakit bisa menyebar diam-diam di tubuh manusia. Di laboratorium mikrobiologi, mahasiswa mempelajari karakter bakteri. Di laboratorium hematologi, mereka belajar memeriksa sel darah. Sementara di laboratorium serologi dan kimia klinik, mereka dilatih mengenali tanda-tanda penyakit dari sampel tubuh manusia.
“Begitu selesai kuliah, mereka sudah siap kerja,” kata Robby.
Mahasiswa tidak hanya belajar teori. Mereka juga menjalani praktik langsung di rumah sakit, puskesmas, maupun Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) selama tiga hingga enam bulan. Tujuannya sederhana yaitu ketika lulus, mereka tidak lagi canggung menghadapi pasien ataupun alat pemeriksaan. Saat ini, jumlah mahasiswa di kampus tersebut mencapai 96 orang dari dua angkatan. Jumlah itu diperkirakan terus bertambah. Minat pelajar Papua terhadap profesi tenaga laboratorium kesehatan mulai meningkat, terlebih karena peluang kerjanya dinilai sangat besar.
Bahkan untuk tahun angkatan baru, sudah ada ratusan pelajar yang mendaftar untuk menimba ilmu di kampus ini. “Tenaga laboratorium hampir tidak pernah menganggur,” ujar Robby sambil tersenyum.
Lulusannya bisa bekerja di rumah sakit, klinik, puskesmas, perusahaan, hingga membuka layanan pemeriksaan kesehatan mandiri. Di balik optimisme itu, Robby sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar dari sekadar kampus. Ia sedang berbicara tentang perjuangan memutus rantai kematian orang Papua. Tentang bagaimana malaria tidak lagi merenggut nyawa anak-anak di pedalaman. Tentang bagaimana HIV/AIDS dan TB bisa dideteksi lebih dini sebelum terlambat. Dan tentang bagaimana Papua suatu hari nanti tidak lagi kekurangan tenaga kesehatan.
“Kami ingin membangun kualitas hidup orang Papua,” katanya.
Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) mendorong penguatan kewenangan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)…
Diketahui, Sisprian telah berstatus tersangka dalam perkara dugaan suap importasi barang dan penerimaan gratifikasi di…
Pernyataan itu disampaikannya dalam jumpa pers usai meninjau pelaksanaan imunisasi di Posyandu Panteriek dan Puskesmas…
Manajer Persipura, Owen Rahadiyan, mengungkapkan bahwa dirinya telah menjadwalkan pertemuan khusus dengan pelatih yang akrab…
Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 mengamankan seorang pria berinisial YB (34) yang diduga menjabat sebagai…
Ketua LMA Port Numbay George Arnold Awi, menegaskan bahwa Kota Jayapura adalah rumah bersama yang…