Categories: METROPOLIS

Dihuni Masyarakat Heterogen, Stabilitas Keamanan Jadi Prioritas

JAYAPURA – Fenomena aksi palang-memalang fasilitas umum dan akses jalan yang masih kerap terjadi di Kota Jayapura menuai perhatian serius dari berbagai pihak tak terkecuali Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay. Menanggapi situasi tersebut, LMA Port Numbay mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk mengedepankan dialog demi menjaga kerukunan dan keharmonisan hidup bersama.

Ketua LMA Port Numbay George Arnold Awi, menegaskan bahwa Kota Jayapura adalah rumah bersama yang dihuni oleh masyarakat yang heterogen. Oleh karena itu, stabilitas keamanan dan kenyamanan publik harus menjadi prioritas utama yang dijaga oleh seluruh warga. Meskipun pemalangan sering kali digunakan sebagai bentuk penyampaian aspirasi atau tuntutan adat, LMA Port Numbay mengingatkan bahwa aksi ini membawa dampak yang kurang baik bagi perputaran ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat.

“Kepada masyarakat Papua pada umumnya dan masyarakat Kota Jayapura khususnya, kami imbau supaya hidup baik-baik, kita menjaga keamanan bersama menciptakan kota ini (Jayapura) yang harmonis dan damai, tanpa adanya perbuatan yang dapat merugikan semua orang,” kata George Awi kepada Cenderawasih Pos di Tanah Hitam, Selasa (19/5).

George mengatakan sebagai warga Kota Jayapura yang sudah menempati tanah di Jayapura maka sudah harus menjadi kewajiban dan tugas secara bersama untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bersama. Menjaga keamanan jelasnya tidak hanya dilakukan oleh aparat keamanan TNI/Polri saja, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat. Karena itu ia berharap kepada masyarakat di Kota Jayapura ketika ada permasalahan atau perbuatan tindak pidana lainnya harus diselesaikan dengan baik tanpa menyepelekan hukum positif.

“Ada Pemerintah, ada penegak hukum (polisi) selesaikan masalah dengan baik, tanpa harus mengorbankan orang banyak,” ujarnya.

Hal ini ia sampaikan mengingat Kota Jayapura merupakan kota yang sangat majemuk dan heterogen. Sebagai ibu kota Provinsi Papua, Jayapura kini telah menjadi rumah bersama bagi berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya dari seluruh penjuru Nusantara. ​Pernyataan ini ia sampaikan sebagai pengingat bagi seluruh warga yang mendiami kota berjuluk “Kota Beriman” ini untuk terus merawat toleransi dan menjaga kedamaian di atas tanah Port Numbay.

“Kota Jayapura ini adalah kota yang majemuk, sebuah miniatur Indonesia di tanah Papua. Di sini kita hidup berdampingan. Oleh karena itu, keberagaman ini harus kita maknai sebagai sebuah kekuatan, bukan sebagai pemicu sekat di antara kita,” ujarnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Sambut Musim Baru, Manajemen Persipura Temui Rahmad Darmawan

Manajer Persipura, Owen Rahadiyan, mengungkapkan bahwa dirinya telah menjadwalkan pertemuan khusus dengan pelatih yang akrab…

4 hours ago

Wadanyon Kodap XVI Yahukimo Dibekuk di Bandara Dekai

Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 mengamankan seorang pria berinisial YB (34) yang diduga menjabat sebagai…

5 hours ago

Terdakwa Kasus Pencemaran Nama Baik Diputus Bebas

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Justice dan Peace menyambut baik putusan majelis hakim Pengadilan Tinggi…

6 hours ago

Dari Lab Sederhana di Dok II, Lahir Harapan Baru Tenaga Kesehatan Papua

“Kampus ini dibangun untuk menjawab masalah kesehatan di Papua yang belum selesai-selesai,” ungkap mantan Kepala…

7 hours ago

Film Pesta Babi Bikin Publik Bertanya, Ada Apa dengan Papua?

Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Kedai Kopi One Milly, kawasan Skylan, Kota Jayapura, Selasa…

8 hours ago

LBH Papua: Dogiyai Berdarah, Pelanggaran HAM Berat!

LBH Papua menilai operasi penyisiran aparat keamanan di sejumlah wilayah Kabupaten Dogiyai setelah peristiwa tersebut…

9 hours ago