Categories: METROPOLIS

DOB, Hutan dan Tambang Papua Makin Terancam

JAYAPURA – Momen hari bumi atau Earth Day  disikapi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Papua dengan menggelar diskusi yang diikuti sejumlah organisasi lingkungan. Kegiatan 2 jam ini dan mengundang Weynad Watori sebagai pemateri.

  Satu materi yang sempat dibahas adalah dampak dari lahirnya Daerah Otonomi Baru yang diyakini akan mengancam keberadaan hutan dan tambang di Papua. Masyarakat adat juga akan terseret dalam pusara investasi tersebut.

   Direktur Walhi Papua, Maikel Peuki  menjelaskan bahwa diskusi yang dilakukan untuk mengingatkan kembali para pegiat lingkungan terkait hari bumi. Masih banyak PR yang harus dilakukan terkait kondisi lingkungan di Papua apalagi dengan kondisi terkini saat ini dimana ada sejumlah Daerah Otonomi Baru (DOB) yang secara tidak langsung akan memberi ancaman bagi terhadap keberlangsungan hidup masyarakat adat dan juga hutan ada yang tersisa.

   “Pemekaran dan semakin terbuka dan orang akan berbondong – bonding masuk kemudian berinvestasi di Papua sementara dari data, kita di Papua masih yang termiskin disbanding provinsi lain,” jelas Maikel di kantor Walhi Papua, Waena, Kamis (25/4).

  Ia menyampaikan bahwa soal investasi yang masuk ke Papua perlu diatur   dalam kebijakan khusus termasuk dampak terhadap masyarakat adat.  “Harus ada pelurusan mekanisme dan kebijakan apa yang akan di dapat oleh masyarakat Papua dari lahirnya DOB ini,” bebernya.

   Lalu kayu – kayu yang keluar dari hutan di Keerom ternyata dijual sangat murah padahal kualitasnya sangat tinggi. “Ini menjadi keprihatinan kami juga dimana hutan ditebang namun masyarakat tidak mendapat banyak manfaat dari hasil hutan yang dimilili. Harga kayu sangat murah padahal saat dijual lagi ternyata mahal,” bebernya.

   Weynand Watori menambahkan bahwa  anak muda di Papua perlu menumbuhkan sikap kritis terkait kondisi lingkungan yang terjadi. “Hutang negara semakin besar dan satu cara yang bisa dilakukan negara atau pemerintah adalah membuka ruang investasi. Ini jika terbiar maka yang babak belur adalah masyarakat di Papua. Hutan dan tambang akan terus dieksploitasi,” singgung Weynand.

   Papua diyakini akan mendapatkan tekanan yang lebih besar namun Weynand mengingatkan  agar jangan menyerah. “Ada banyak kebijakan yang salah  termasuk berkaitan dengan etik. Sayangnya kita hidup dari kesalahan itu sehingga saya pikir anak – anak muda harus bisa menumbuhkan pemikiran kritis mengawal setiap perubahan untuk menemukan keadilan dan kesejahteraan. Saya pikir itu kata kuncinya,” imbuhnya. (ade/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Juna Cepos

Recent Posts

Ketergantungan Pasokan Luar Picu Gejolak Harga Pangan

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Papua menilai tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah…

1 day ago

Aset Kendaraan Dinas Pemprov Papua Masih Bermasalah

–Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia kembali memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kepada Pemerintah…

1 day ago

Polisi Diminta Tindak Tegas Pungli di Ruas Jalan Wisata Skori–Puay

Menurut Yunus, praktik penagihan uang kepada setiap pengunjung yang melintas di kawasan tersebut tidak dapat…

2 days ago

“Bagi Orang Papua, Menjaga Sagu Sama Dengan Menjaga Kehidupan”

   Festival yang berlangsung di halaman Kantor DPR Papua dan Kampus Universitas Cenderawasih itu bukan…

2 days ago

Program Jemput Bola Dukcapil Capai Hasil Positif

Program jemput bola yang dilaksanakan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kota Jayapura terus menunjukkan…

2 days ago

Bukan Masalah Stok, Tapi Praktik Kecurangan yang Dibiarkan Masif

   Menurutnya, mata rantai penyalahgunaan Solar subsidi harus segera diputus karena dampaknya sudah sangat merugikan…

2 days ago