Categories: METROPOLIS

DPRP Desak Kemenhub Revisi Regulasi Penerbangan di Papua

JAYAPURA-Lima lembaga penerbangan misi gereja yang melayani transportasi udara di pedalaman Papua menyampaikan keresahan serius terhadap penerapan Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Permenhan RI) Nomor 3 Tahun 2024 tentang Izin Keamanan (security clearance). Keresahan ini mereka sampaikan kepada DPR Papua, yang diterima Fraksi Nasdem di DPRP, Kamis (22/1) pekan kemarin.

Wahyu Wibowo dari PT AMA hadir mewakili lima lembaga penerbangan misi. Ia mengungkapkan bahwa Permenhan RI belum mempertimbangkan kondisi geografis, sosial, serta karakter pelayanan penerbangan misi di Tanah Papua yang selama ini menjadi tulang punggung akses transportasi bagi wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Ia menjelaskan, penerbangan misi telah melayani masyarakat pedalaman Papua selama lebih dari 70 tahun. MAF sendiri telah beroperasi selama 71 tahun, sementara lembaga lainnya rata-rata di bawah 65 tahun. Bahkan, kehadiran penerbangan misi di sejumlah wilayah terpencil terjadi jauh sebelum pemerintah membangun infrastruktur dan pelayanan dasar.

“Pelayanan misi gereja sudah membuka pedalaman lebih dulu. Kami melayani masyarakat di daerah 3T sebelum pemerintah masuk,” ujar Wahyu kepada wartawan.

Selama puluhan tahun, penerbangan misi menjalankan pelayanan kemanusiaan, mulai dari pengangkutan logistik, evakuasi medis, pendidikan, hingga mendukung kegiatan keagamaan. Seluruh pelayanan tersebut, kata Wahyu, selama ini berjalan aman dan relatif tanpa hambatan. Namun situasi berubah setelah diterbitkannya regulasi terkait kewajiban security clearance bagi kru dan pesawat.

“Kami tidak menolak aturan negara. Ini produk hukum resmi. Tetapi implementasinya di Papua tidak semudah yang dibayangkan di pusat,” tegasnya.

Ia menilai, dalam proses penyusunan regulasi tersebut, operator penerbangan misi yang bekerja langsung di pedalaman Papua belum dilibatkan secara memadai. Menurutnya, karakter penerbangan misi sangat berbeda dengan penerbangan niaga reguler di wilayah lain.

Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi pelabelan penerbangan mencurigakan atau ilegal apabila tidak membawa dokumen security clearance. “Kalau tidak membawa surat itu, penerbangan bisa dicap layak dicurigai, bahkan dianggap ilegal. Kalau ini jadi penghalang, yang menjadi korban adalah masyarakat pedalaman,” ujarnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Kasus Kusta di Papua Naik,  Siapkan Empat Strategi Untuk Mengatasi

   Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Papua, Purnomo Sidhi, mengatakan bahwa hingga September 2026…

4 hours ago

Kasus Malaria Masih Tinggi, Ardipura Terbanyak

   Data keseluruhan tahun 2026 belum rampung. Namun, data sementara menunjukkan kasus tertinggi berada di…

6 hours ago

​Ribuan ASN dan PPPK Belum Terdata

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jayapura resmi memperpanjang masa pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 hingga 15…

7 hours ago

Rumah Dinas Letkol Arman Jadi Markas Judol, TNI Lakukan Penahanan

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Muhammad Nas mengatakan, rumah dinas tersebut ditempati oleh…

8 hours ago

MBG Masih Banyak Keracunan, Kopdes Mendapat Skor Rendah

Hampir separo masyarakat Indonesia tidak puas dengan kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Wapres Gibran Rakabuming Raka.…

9 hours ago

Land Cruiser Milik Tangan Kanan Nusron Wahid Disita KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita satu unit mobil mewah Toyota Land Cruiser milik mantan Bupati…

10 hours ago