

Guru Penyintas Korban Penyerangan di Anggruk Maret lalu mengikuti kegiatan Training As Healing di BPMP Papua, Jumat (20/6). (foto: Karel/Cepos)
JAYAPURA-Kegiatan Training as Healing yang digelar untuk para guru korban penyerangan orang tak dikenal (OTK) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo pada Maret 2025 lalu, resmi ditutup di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Papua, Jumat (20/6).
Ketua Umum Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), dr. Andik Matulesy, Psikolog, mengatakan bahwa pelatihan yang berlangsung selama empat hari tersebut berhasil mengungkap berbagai persoalan psikologis yang dialami para guru penyintas. Salah satunya adalah trauma mendalam yang membuat mereka takut untuk kembali mengajar di wilayah pedalaman Papua.
“Sebagian besar guru yang menjadi korban penyerangan di Anggruk adalah guru dari luar Papua. Mereka tidak sepenuhnya memahami kondisi sosial dan keamanan di daerah pedalaman, sehingga saat peristiwa terjadi, mereka langsung panik. Dampaknya, trauma yang mereka alami sangat berat,” ujar Andik.
Menurutnya, sebelum mengajar di wilayah-wilayah pedalaman seperti Yahukimo, para guru sebaiknya mendapatkan bekal pelatihan mental yang cukup. Hal ini penting agar mereka lebih siap menghadapi situasi sulit yang bisa saja terjadi di lapangan.
“Dari kegiatan ini kami menemukan bahwa ada guru yang kini tidak ingin kembali ke Yahukimo. Mereka masih dihantui ketakutan. Ini tentu berdampak pada kelangsungan pendidikan anak-anak di sana,” jelasnya.
Selama pelatihan berlangsung, banyak peserta awalnya enggan bercerita tentang pengalaman pahit mereka. Rasa takut menjadi sasaran para pelaku di kemudian hari dan tekanan psikologis yang belum pulih menjadi alasan utama. Namun berkat pendampingan intensif dari para fasilitator dan psikolog, perlahan para guru mulai terbuka dan bersedia berbagi cerita pada hari kedua kegiatan.
Andik juga menyarankan agar pelatihan seperti ini dilakukan secara berkala, tidak hanya untuk penyintas di Yahukimo, tetapi juga bagi guru-guru lain di seluruh wilayah Papua. Hal ini dinilainya penting untuk membentuk mentalitas yang tangguh dalam menghadapi tantangan sosial dan keamanan yang kompleks.
“Kami dari Himpsi Papua dan Papua Selatan siap membantu jika dibutuhkan. Masalah psikologis ini tidak boleh dianggap remeh. Jika tidak ditangani, bisa berdampak serius, termasuk membuat seseorang menjadi apatis atau bahkan tidak berdaya. Apalagi guru-guru yang mengajar di pedalaman, tempat di mana hiburan atau fasilitas pelepas stres nyaris tidak tersedia,” ungkapnya.
Page: 1 2
Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, mengatakan pembahasan tindak lanjut akan dilakukan oleh masing-masing…
Regulasi ini mencakup empat (4) Raperda kategori APBD dan Delapan (8) Raperda Non-APBD guna…
Putusan Majelis Hakim Tipikor Jayapura tersebut lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya yang…
Sejumlah mama Papua datang dari berbagai Distrik di Kota Jayapura mengenakan sandal jepit, menggandeng…
Kepala Puskesmas (Kapus) Mopah Baru Severina SH. Wiratwanti menyampaikan, stok obat, terutama jenis obat yang…
Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyatakan musim kemarau di wilayah Papua Pegunungan ini dimulai dari…