Categories: METROPOLIS

Bosda Diharapkan Langsung Dikelola Sekolah

JAYAPURA– Tahun ini Pemerintah Kota Jayapura mengalokasikan sekitar Rp 21 miliar    anggaran melalui program Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) bagi siswa-siswi kurang mampu di Kota Jayapura, mulai dari jenjang SD,SMP hingga SMA.

Dana itu diberikan dengan harapan untuk membantu para siswa melunasi segala kebutuhan yang berkaitan dengan pendidikan di sekolah. Namun apa jadinya jika anggaran yang gelontorkan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pendidikan siswa justru tidak tepat sasaran atau tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.

   Hal itu diungkapkan  oleh Kepala SMK Negeri 8 Kota Jayapura, Feronika Munthe. Dia mengatakan sejumlah anak di sekolahnya itu mendapatkan dana bantuan pendidikan dari Pemkot Jayapura. Namun sayangnya ternyata tidak semua siswa yang mendapatkan bantuan itu langsung menyelesaikan kewajibanya di sekolah.

Misalnya membayar uang SPP dan membeli atribut atribut keperluan sekolah, termasuk seragam dan perlengkapan lainnya.

   “Ada orang tua yang mengerti langsung membayar dan melunasi, tetapi sebagian besarnya tidak digunakan untuk mendukung pendidikan anak di sekolah,” katanya.

   Karena itu, dia berharap agar ke depan Pemkot Jayapura bisa menyalurkan dana BOS daerah itu langsung ke sekolah, sehingga sekolah sendiri   bisa mengatur untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban yang harus penuhi oleh para siswa.

   “Hanya 20 persen yang taat membayar uang sekolah, sisanya tidak, bahkan sampai lulus tidak bayar, “ujarnya.

   Hal yang  sama juga dirasakan oleh kepala SMP Negeri 2 Kota Kayapura, Dorthea Caroline Enock. Menurutnya, sekolah sudah memenuhi hak dari para siswa. Seharusnya, orangtua juga wajib memenuhi kewajibannya.

   Dia mengeluhkan, hanya sekitar 50 persen siswanya yang menerima dana bantuan Bosda tersebut yang patuh membayar uang SPP. Sisanya tidak melaksanakan kewajibanya. Karena itu, dengan dana Bosda sepertinya tidak banyak membantu para siswa untuk memenuhi segala kebutuhannya yang berkaitan dengan pendidikannya.

   Bahkan ada orangtua yang justru menawarkan pembayaran separuh dari kesepakatan, meskipun ada bantuan dana Bosda tersebut. “Jadi tidak efektif ketika dana itu langsung disalurkan ke siswa. Karena umumnya orang tua dan siswa ketika sudah mendapatkan dana itu, mereka tidak kembali lagi ke sekolah, tidak bayar. Yang semestinya harus selesaikan satu tahun tetapi dia  hanya bayar 6 bulan atau tiga bulan saja,” ungkap Dorthea.

   Dia mengaku sangat miris dengan melihat fenomena seperti itu. Sebagai seorang siswa dia sudah menerima haknya selama 3 tahun. Pertahun anak anak tersebut mendapatkan dana Bosda sekitar Rp 1,4 juta.(roy/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Juna Cepos

Recent Posts

Laga Pamungkas

Nah sebagai tim tanpa beban ini justru kadang menjadi ancaman bagi kubu tuan rumah karena…

8 hours ago

Longsor Susulan di Tembagapura, Dua Honai Hanyut

Cuaca ekstrem yang melanda dataran tinggi Kabupaten Mimika, Papua Tengah, memicu bencana tanah longsor susulan…

21 hours ago

Dekai Menghangat, Dua Warga Jadi Sasaran Tembak

Wakil Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, AKBP Andria, menjelaskan dalam peristiwa tersebut, dua…

21 hours ago

Depapre Jadi Basis Perikanan Papua

Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, mengatakan Depapre akan dijadikan pusat pengembangan sektor perikanan di Provinsi…

22 hours ago

Pusara Demo Bukan di Papua Harusnya Aksi Menyesuaikan Lokasi

"Karena dulu Papua belum dimekarkan menjadi enam provinsi sehingga demo-demo masih terpusat di Kota Jayapura.…

22 hours ago

Cuaca Ekstrem Membayangi Sejumlah Wilayah di Papua

Secara umum kata Finnyalia pola curah hujan di Provinsi Papua dipengaruhi oleh Angin Monsun, sehingga…

23 hours ago