Categories: METROPOLIS

Lem Aibon dan Kekerasan, Jadi Ancaman Anak-anak Papua

JAYAPURA-Anak-anak di Tanah Papua, termasuk Papua dan Papua Barat Daya masih menghadapi berbagai tantangan serius seperti kekerasan, penelantaran, penyalahgunaan zat adiktif seperti lem aibon, serta eksploitasi seksual di ruang daring.

   Hal ini diungkpakan oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Rakyat Setda Papua, Setyo Wahyudi saat pelatihan panduan integrasi perencanaan dan penganggaran daerah program perlindungan khusus anak (PKA) dalam rancangan RPJMD dan Renstra provinsi /kabupaten/kota Provinsi Papua dan Papua Barat Daya, di kantor gubernur, Selasa (3/6).

     Setyo Wahyudi percaya bahwa pembangunan daerah tidak bisa dilepaskan dari peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dimana anak-anak merupakan aset paling potensial sebagai generasi penerus.

  “Mereka akan menjadi pribadi yang unggul bila hak-haknya termasuk hak atas perlindungan, dipenuhi secara utuh,” kata Wahyudi kepada wartawan.

  Banyaknya ancaman terhadap anak-anak di Papua ini,  menurut Wahyudi, menunjukkan bahwa sistem perlindungan anak masih lemah dan perlu diperkuat secara sistematis, berbasis data, dan terintegrasi lintas sektor.

  “Pelatihan ini merupakan langkah penting untuk membangun sistem perlindungan anak yang lebih kuat melalui pengarusutamaan PKA ke dalam dokumen perencanaan daerah seperti RPJMD dan Renstra OPD,” ujarnya.

  Dikatakan, pelatihan ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2023 dan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2021. Dimana integrasi perlindungan anak ke dalam kebijakan pembangunan, sangat penting agar anggaran dan program benar-benar menyasar anak-anak yang paling rentan.

  “Kita ingin kebijakan yang tidak hanya responsif, tapi juga preventif dan partisipatif. Kabupaten/kota layak anak harus menjadi fondasi pembangunan kita,” tegasnya.

  Setyo juga menyinggung fenomena banyaknya anak-anak di lingkungan sekitar yang masih mengonsumsi lem aibon. Ia menyebut hal itu sebagai tantangan serius yang harus ditangani secara kolaboratif.

  “Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045 maka anak-anak harus diberi ruang untuk tumbuh dan bermimpi. Kota ramah anak harus menjadi cita-cita bersama, termasuk di Kota Jayapura dan Sorong,” pungkasnya

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Dana Otsus Bukan untuk Operasional dan Belanja Kantor!

Gubernur Papua Pegunungan Dr. (HC) Jhon Tabo, SE, M.B.A menyatakan penggunaan dana otsus saat ini…

1 day ago

Bupati Keerom Minta Distrik Bersih dan Aman jelang Puncak HUT RI

Fokus utama arahan tersebut adalah menjaga keamanan, kebersihan, serta kedisiplinan jajaran pemerintahan distrik dalam melayani…

1 day ago

Kapolres Merauke: Jangan Sampai Kejadian di Puncak Terjadi di Merauke

Leonardo mengatakan, kejadian tersebut menjadi perhatian bersama karena menimbulkan kerugian. Karena itu, berbagai potensi persoalan…

1 day ago

Ini Alasan Fatal Mengapa Bendera Merah Putih Haram Menyentuh Tanah!

Pengibaran Bendera Merah Putih menjadi salah satu bagian paling dinantikan dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan.…

1 day ago

Potensi Besar di Sektor Retribusi, Tapi Terbentur Kepentingan Masyarakat Adat

   Car Free Day (CFD) yang digelar setiap Sabtu tersebut kini menjadi salah satu ruang…

1 day ago

Meriahkan HUT RI, Joged Veronika dan Yospan Asaibori di Mandala

  Salah satu atraksi yang akan menjadi perhatian dalam peringatan HUT ke-81 RI tahun ini…

1 day ago