Categories: METROPOLIS

Seni dan Budaya Papua Harusnya Bisa Jadi Tuan di Rumah Sendiri

Kepala UPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Herman Saud S.Pd, M.Sc melihat ukiran hasil kerajinan masyarakat yang dipamerkan dalam Pagelaran dan Pameran Seni Kreasi Baru Papua tahun 2020 di Taman Budaya Papua, Expo Waena, Selasa (3/11). (FOTO: Gamel Cepos)

JAYAPURA – Kepala UPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Herman Saud S.Pd, M.Sc berpendapat bahwa seni dan budaya Papua saat ini belum mendapat tempat yang baik dalam sendi pembangunan. Padalah menurutnya bicara Papua yang utama adalah bicara seni dan budaya yang menjadi akar dan jati diri orang Papua. Setelah itu barulah bicara soal alam Papua. Hanya sayangnya, Saud melihat aspek ini belum diberikan tempat semestinya. 

 “Harusnya seni budaya Papua bisa menjadi tuan di rumah sendiri, jangan budaya luar raai kita adopsi, ramai dibicarakan sementara budaya sendiri perlahan dilupakan. Saya pikir ini harus jadi perhatian,” kata Herman membuka Pagelaran dan Pameran Seni Kreasi Baru Papua tahun 2020 di Taman Budaya Papua, Expo Waena, Selasa (3/11). Pagelaran dan pameran seni ini diikuti 6 sanggar dan akan berakhir atau ditutup pada 5 November besok.  

  Kata Herman pihaknya coba lakukan pembinaan dengan  menyiapkan “panggung” bagi sanggar – sanggar  agar ada agenda tetap yang ditargetkan. Hanya pihaknya baru bisa melakukan  untuk Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura saja karena keterbatasan anggaran tadi. “Papua menurut saya kaya seni dan budaya tapi kita belum sepenuhnya memberikan perhatian yang baik. Taman budaya juga belum bisa  dimaksimalkan karena berada di lingkungan yang kurang sehat dan kami berharap dengan adanya Otsus lokasi taman seni dan budaya bisa kembali dihidupkan, harus bisa ramai setiap minggunya agar masyarakat mendapatkan edukasi baru berupa pertunjukan seni dan budaya, melihat na mendengar secara langsung,” bebernya. 

 Pihaknya sendiri akui belum bisa berbuat banyak karena minimnya dukungan anggaran sehingga event hanya bisa dilakukan setahun sekali dan inipun sebatas Kota dan Kabupaten Jayapura, belum menjangkau 28 kabupaten lainnya.  “Tapi kami akan tetap mengawal pertumbuhan dan pembinaan seni dan budaya ini agar jangan tercerabut dari akarnya. Komitmen ini yang harus dipertahankan,” pungkasnya. (ade)

newsportal

Recent Posts

Pengalihan ASN ke Kementerian Jadi Solusi Tekan Belanja Pegawai

Wacana redistribusi atau pengalihan sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Provinsi Papua ke kementerian dan…

4 hours ago

Warga Diminta Waspadai Kejahatan di Ruang Digital

  Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Papua, Jeri Agus Yudianto menyampaikan, platform seperti WhatsApp,…

5 hours ago

Wali Kota: Bangun Tempat Ibadah Butuh Komitmen Moral

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo menghadiri sekaligus melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gereja Oikumene…

6 hours ago

Nggam Bu, Pesona Air Biru yang Dijaga Masyarakat Adat

Airnya sebening kaca dengan gradasi biru kehijauan. Dasar sungai tidak terlihat jelas, sementara pepohonan rindang…

7 hours ago

Semarakkan HUT ke-81 RI, Pemkot Siapkan Konvoi Merah Putih

  Konvoi yang menjadi salah satu agenda resmi HUT RI tingkat Kota Jayapura ini akan…

8 hours ago

Minimnya Anggaran hingga Maraknya Tambang Ilegal Jadi Sorotan

Rapat kerja Komisi IV DPR Papua bersama Dinas ESDM Provinsi Papua di ruang rapat Komisi…

9 hours ago